Suara.com - Pandemi virus corona dan adanya pembatasan mendorong jutaan orang di seluruh dunia berada di ambang kelaparan.
Berdasarkan data dari UNICEF, kelaparan terkait pandemi virus corona menyebabkan kematian 10.000 anak per bulan, 50 persen di antaranya berada di Afrika Sub-Sahara.
Ditambah, sebanyak 550.000 anak per bulan mengalami 'wasting', istilah yang digunakan PBB untuk menjelaskan kekurangan gizi yang menyebabkan tungkai kurus dan perut buncit.
Dampak buruk jangka panjang dari malnutrisi massal dapat menyebabkan generasi yang cacat fisik dan mental.
"Tanpa tindakan segera, jumlah anak-anak global yang menderita wasting dapat mencapai hampir 54 juta sepanjang tahun ini," kata UNICEF dalam siaran pers Senin (27/7/2020).
Menurut mereka, kondisi ini akan menyebabkan angka wasting global meningkat ke tingkat yang tidak terlihat.
Desa-desa di daerah pedesaan menghadapi peningkatan tantangan dalam mendapatkan akses layanan kesehatan dan penyediaan selama krisis.
Selain itu, penjualan makanan telah menurun, memberikan tambahan bagi petani yang tidak bisa memasarkan hasil panen mereka.
"Sudah tujuh bulan sejak kasus virus corona pertama dilaporkan dan semakin jelas bahwa pandemi menyebabkan lebih banyak dampak kerugian pada anak-anak daripada penyakit (Covid-19) itu sendiri," ujar Direktur Eksekutif UNICEF Henrietta Fore, dilansir Fox News.
Baca Juga: Tayangan Hiburan dan Edukatif untuk Anak di Masa Pandemi
"Tingkat kemiskinan dan kerawanan pangan di rumah tangga telah meningkat," tambahnya.
Burkina Faso di Afrika Barat sudah berjuang dengan kerawanan pangan bahkan sebelum pandemi terjadi.
Sekarang, satu dari lima anak kekurangan gizi kronis dan 12 juta dari 20 juta warga negara itu tidak mendapatkan cukup makanan.
"Layanan nutrisi penting dan rantai pasokan makanan telah terganggu. Harga makanan melonjak. Akibatnya, kualitas nutrisi anak telah menurun dan tingkat kekurangan gizi akan meningkat," jelas Fore.
Sebuah laporan oleh The Lancet pada Senin memperkirakan peningkatan kekurangan gizi anak bersamaan dengan penurunan layanan kesehatan yang disebabkan pandemi diproyeksikan 128.605 kematian tambahan dapat terjadi pada anak usia lima tahun ke bawa pada tahun mendatang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- 5 HP Android dengan Kualitas Kamera Setara iPhone 15
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi
-
Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang
-
Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia
-
Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?
-
Waspada! 7 Jenis Tikus di Sekitar Rumah Ini Bisa Jadi Penyebab Hantavirus di Indonesia