Suara.com - Tubuh manusia sangat membutuhkan bakteri baik atau probiotik terutama bagi bayi di bawah usia 1000 hari pertamanya. Asupan probiotik bisa membantu tumbuh kembang otak anak saat usia emasnya, sehingga tentu akan mempengaruhi tingkat kecerdasannya.
Sebab asupan probiotik yang lebih rendah daripada bakteri jahat akan menjadi gangguan penyerapan di usus. Kemudian berakibat sel imun tidak terbentuk dan tentu mengakibatkan gangguan imunitas.
"Akibat gangguan imunitas, nutrisi tidak akan mampu diserap usus. Sehingga nutrisi tidak sampai ke otak," jelas medical executive Kalbe Farma dr. Lupita Wijaya dalam webinar 'Peran Probiotik di 1000 Hari Pertama Kehidupan', Kamis (30/7/2020).
Lupita melanjutkan, jika otak kekurangan nutrisi dari darah maka tidak mampu mengembangkan kerja kognitif. Apabila hal itu terus dialami berkepanjangan selama 1000 hari pertama usia anak maka akan berakhir dengan gangguan kognitif.
"Dampak pada tiga tahun pertama anak bisa mengalami gangguan pencernaan seperti diare, sembelit, malnutrisi, gangguan imunitas hingga anak mengalami gangguan kecerdasan," ujarnya.
Lupita menjelaskan, bayi yang lahir secara normal memiliki kandungan probiotik di dalam usus sebanyak 21 persen. Jumlah itu akan meningkat hingga 60 persen saat bayi berusia satu bulan dan usus didominasi oleh probiotik bifidobacterium.
Air susu ibu menjadi sumber probiotik terbaik untuk bayi, terutama selama enam bulan pertama.
Sehingga, Lupita menyampaikan, kalaupun anak lahir secara sesar tetapi jika mendapatkan ASI ekslusif yang cukup selama enam bulan, kandungan probiotiknya akan tetap optimal. Jumlah probiotik bifidobacterium itu akan mencapai 100 persen saat anak telah berusia tiga tahun.
"Kita penting mendorong pemberian ASI karena mengandung bifidobacterium. Sehingga akan mendukung status kesehatan tubuh bayi mulai dari daya tahan tubuh, risiko alergi yang bisa ditekan, tumbuh kembang bisa optimal serta risiko gangguan pencernaan juga rendah," jelasnya.
Baca Juga: Probiotik Disebut Bisa Cegah Virus Corona Covid-19? Simak Penjelasan Pakar
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Motor Gigi Tanpa Kopling: Praktis, Irit, dan Tetap Bertenaga
- 5 Rekomendasi HP Layar Lengkung Murah 2026 dengan Desain Premium
- 5 Lipstik Ringan dan Tahan Lama untuk Usia 55 Tahun, Warna Natural Anti Menor
- Kenapa Angin Kencang Hari Ini Melanda Sejumlah Wilayah Indonesia? Simak Penjelasan BMKG
- 5 Sunscreen Jepang untuk Hempaskan Flek Hitam dan Garis Penuaan
Pilihan
-
5 Rekomendasi HP 5G Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan!
-
Promo Suuegeerr Alfamart Jelang Ramadan: Tebus Minuman Segar Cuma Rp2.500
-
Menilik Survei Harvard-Gallup: Bahagia di Atas Kertas atau Sekadar Daya Tahan?
-
ESDM: Harga Timah Dunia Melejit ke US$ 51.000 Gara-Gara Keran Selundupan Ditutup
-
300 Perusahaan Batu Bara Belum Kantongi Izin RKAB 2026
Terkini
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Punya Layanan Bedah Robotik Bertaraf Internasional
-
Hari Gizi Nasional: Mengingat Kembali Fondasi Kecil untuk Masa Depan Anak
-
Cara Kerja Gas Tawa (Nitrous Oxide) yang Ada Pada Whip Pink
-
Ibu Tenang, ASI Lancar: Kunci Menyusui Nyaman Sejak Hari Pertama
-
Kisah Desa Cibatok 1 Turunkan Stunting hingga 2,46%, Ibu Kurang Energi Bisa Lahirkan Bayi Normal
-
Waspada Penurunan Kognitif! Kenali Neumentix, 'Nootropik Alami' yang Dukung Memori Anda
-
Lompatan Layanan Kanker, Radioterapi Presisi Terbaru Hadir di Asia Tenggara
-
Fokus Turunkan Stunting, PERSAGI Dorong Edukasi Anak Sekolah tentang Pola Makan Bergizi
-
Bukan Mistis, Ini Rahasia di Balik Kejang Epilepsi: Gangguan Listrik Otak yang Sering Terabaikan
-
Ramadan dan Tubuh yang Beradaptasi: Mengapa Keluhan Kesehatan Selalu Datang di Awal Puasa?