Suara.com - Anggapan orang yang mendonorkan organ pada orang lain cenderung mudah sakit, adalah pandangan yang keliru. Berdasarkan banyak penelitian internasional mengungkap orang yang menjadi pendonor ginjal misalnya, justru hidup lebih sehat.
"Makanya kalau dalam penelitian orang yang berikan organ ginjalnya akan lebih sehat daripada orang yang biasa," ujar Dr. dr. Maruhum Bonar H. Marbun, Sp.PD-KGH, Pokja Transplantasi Ginjal RSCM dalam acara webinar, Jumat (11/9/2020).
Dokter di Departemen Penyakit Dalam FKUI RSCM ini menjelaskan orang yang mendonorkan ginjalnya lebih sehat karena ia sadar hidup dengan satu ginjal.
Oleh karena itu ia harus menjaga kesehatannya, seperti rutin medical check up, memeriksa tekanan gula darah, mengontrol berat badan, olahraga, makan makanan sehat hingga banyak mengonsumsi air putih.
"Dia melakukan mawas diri yang lebih baik dibanding populasi yang biasa, jadi kalau dibandingkan nggak ada bedanya pendonor dengan populasi baisa," terangnya.
Orang awam mungkin akan berpikir, setelah satu ginjalnya didonorkan maka fungsinya penyaringan racun oleh ginjal akan berkurang 50 persen.
Tapi saat si pendonor bisa menjaga kesehatannya, fungsi penyaringan ginjal ternyata bisa kembali normal hingga 100 persen.
"Yang tadinya ginjal 1 diberikan kepada penerima, secara logika 50 persen hilang. Tapi setelah berjalannya waktu dia kembali ke 70 persen malah ada yang 100 persen," ungkap Dr. Bonar.
Sementara itu transplantasi ginjal adalah prosedur pembedahan untuk memindahkan ginjal yang sehat dari seseorang, baik dalam keadaan hidup atau setelah meninggal dunia, kepada seseorang yang ginjalnya tidak lagi
berfungsi dengan baik.
Baca Juga: Kisah Ibu Tunggal yang Donorkan Organnya dan Selamatkan 4 Nyawa
Ketika suatu penyakit menyebabkan ginjal tidak mampu menyaring cairan dan limbah ini, terjadi penumpukan cairan zat berbahaya dalam tubuh.
Adapun beberapa penyakit yang seringkali jadi sebab penyakit ginjal tahap akhir meliputi diabetes, tekanan darah tinggi kronis dan tidak terkontrol, peradangan ginjal (glomerulonefritis) kronis, serta penyakit ginjal polikistik.
Jika ginjal sudah tidak lagi mampu menopang fungsi utamanya dalam tubuh, maka dibutuhkan terapi pengganti ginjal. Biasanya dilakukan dengan tiga cara hemodialisis (cuci darah), peritoneal dialisis, dan transplantasi ginjal.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
Terkini
-
96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan
-
Aktivitas Bermain Menunjang Perkembangan Holistik dan Kreativitas Anak
-
Dipicu Kebutuhan Tampil Percaya Diri, Kesadaran Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Naik Saat Ramadan
-
Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari
-
Tes Genetik Makin Terjangkau, Indonesia Targetkan 200 Ribu Sequencing DNA untuk Deteksi Penyakit
-
Kenali Ragam Penyakit Ginjal dan Pilihan Pengobatan Terbaiknya
-
Solusi Membasmi Polusi Kekinian ala Panasonic
-
Gaya Hidup Modern Picu Asam Urat, Ini Solusi Alami yang Mulai Direkomendasikan
-
Memahami Autisme dari Dekat: Kenapa Dukungan Lingkungan Itu Penting untuk Anak ASD
-
17.500 Paket Gizi untuk Masa Depan: Langkah Konkret Melawan Stunting di Bekasi