Suara.com - Mencari pendonor organ memang memiliki tantangannya sendiri. Selain sulit untuk menemukan yang tepat, ada juga perdebatan soal donor dari siapa yang sebenarnya lebih baik. Apakah itu dari keluarga atau orang lain.
Lantas seperti apa jawabannya? Menurut Dr. dr. Maruhum Bonar H. Marbun, Sp.PD-KGH, Pokja Transplantasi Ginjal RSCM, donor lebih baik dilakukan oleh keluarga.
"Tapi bukan berarti yang bukan keluarga itu tidak boleh, jadi pendekatan secara moral itu akan lebih baik, kalau kita tahu bahwa dia dari keluarga," ujar Dr. dr. Maruhum Bonar H. Marbun, Sp.PD-KGH, Pokja Transplantasi Ginjal RSCM, Jumat (11/20/2020).
Pendonor dari luar keluarga memang tetap bisa dilakukan, tapi harus didampingi tim advokasi. Ini karena khawatir terjadinya praktik komersialisasi donor organ, seperti beberapa kasus yang pernah ramai diberitakan.
Apalagi praktik komersialisasi donor organ memang dilarang secara internasional, termasuk di antaranya praktik transplant tourism.
"Beberapa waktu lalu ada pasien dari negara tertentu datang ke tempat kami, ya kami minta free no clearance dari kedutaan, boleh nggak dia dilakukan transplantasi dengan kondisi tertentu, itu yang jadi masalah," ungkap Dr. Bonar.
Sehingga baik keluarga maupun yang bukan keluarga, bukan jadi kendala transplantasi organ, karena keberadaan tim advokasi. Sedangkan untuk melihat layak tidaknya seseorang jadi pendonor, bakal ada sejumlah tes kesehatan yang harus dijalankan.
"Apalagi teknologi pengobatan deteksi dini akut, maupun kolik kita sudah punya semua," jelas Dr. Bonar.
Sedangkan Dr. dr. Nur Rasyid, SpU(K), Pokja Transplantasi Ginjal RSCM, Departemen Urologi FKUI-RSCM melihat donor organ bukan sekedar aspek kesehatan semata, tapi tetap memperhatikan unsur psikologis, etik juga kerelaan.
Baca Juga: Idap Kanker Ganas, Seorang Wanita Selalu Teteskan Obat Mata karena Hal Ini!
"Jika misalnya keluarga tidak setuju atau tidak rela mendonorkan organnya, dokter juga tidak akan bisa melanjutkan prosedur transplantasi organ," kata Dr. Nur.
"Jadi prinsipnya ada non medis, ada etik legal psikologis dan kerelaan dari seorang menjadi donor, setelah itu semua lolos, jadi ada komite advokasi dan itu terpisah di luar tim transplantasi," tutupnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- 5 HP Infinix Kamera Beresolusi Tinggi Terbaru 2026 dengan Harga Murah
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
- 7 Bedak Wardah yang Tahan Lama Seharian, Makeup Flawless dari Pagi sampai Malam
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
Pilihan
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
Terkini
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin
-
Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak
-
Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026
-
Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS