Suara.com - Pada 2018, sekitar 10 juta orang di dunia dinyatakan mengidap TBC. Dari angka tersebut, Indonesia berkontribusi sekitar 10 persen dari beban jumlah pengidap TBC dari seluruh dunia atau sekitar 845.000 orang.
Situasi semakin berat ketika lebih dari 200 negara dunia, termasuk Indonesia, terimbas dampak pandemi Covid-19. Apalagi jumlah orang yang terjangkit Covid-19 di Indonesia terus meningkat.
Pada akhirnya, peningkatan tersebut berakibat pada kemampuan sumber daya kesehatan untuk penanggulangan penyakit lain termasuk TBC.
Bahkan ditulis setidaknya ada 91 pasien TBC yang tengah dirawat karena Covid-19 dengan 35 pasien di antaranya meninggal dunia.
Karena alasan itu pula, Stop TB Partnership Indonesia atau STPI memberikan dukungan hibah berupa ponsel pintar kepada 200 pasien dan 20 pendamping pasien TBC Resisten Obat atau TBC RO.
Dukungan diberikan melalui perkumpulan organisasi pasien TBC atau POP TB Indonesia yang berkolaborasi dengan Lembaga Kesehatan Nahdhatul Ulama (LKNU).
Kolaborasi tersebut dilakukan guna membangun penguatan pendampingan pasien TBC RO secara virtual di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang.
Menurut Direktur Eksekutif Stop TB Partnership Indonesia Heny Akhmad, kolaborasi tersebut merupakan wujud solidaritas antarorganisasi masyarakat sipil kepada masyarakat yang terdampak TBC RO di Indonesia.
"Keberhasilan pengobatan TBC RO saat ini berada di 50 persen dan beresiko untuk menurun jika pasien putus pengobatan di masa pandemi karena tidak menerima dukungan psikososial. Mereka yang putus pengobatan juga dapat menjadi sakit XDR-TB yang lebih sulit diobati," katanya.
Baca Juga: Jika Ada Pemain Positif COVID-19, PSSI Pastikan Liga 1 2020 Tetap Berjalan
Di sisi lain, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kementerian Kesehatan RI dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid menyampaikan bahwa pemerintah tengah mencanangkan Gerakan Bersama Menuju Eliminasi TBC 2030, ini tugas yang berat bagi kita bersama.
"Kita baru menemukan 564.000 dari 845.000 kasus TBC dan TBC RO pun meningkat, kita harus mengevaluasi upaya kita dan mengejar eliminasi TBC 2030 bukan 3020. Sejak pandemi, Subdit TB sudah mengeluarkan protokol supaya layanan TBC terus berjalan.
Ia melanjutkan, obat dapat diberikan dalam interval waktu lebih lama untuk mengurangi kontak fisik di layanan kesehatan.
"Tentu ada tantangan dalam akses pendampingan secara virtual karena akses. Kolaborasi ini adalah terobosan untuk mendukung ketaatan pengobatan pasien TBC RO di masa pandemi," tutupnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- Misteri Lenyapnya Bocah 4 Tahun di Tulung Madiun: Hanya Sekedip Mata Saat Ibu Mencuci
Pilihan
-
Beban Ganda Wanita Saat WFH: Terjebak Laptop dan Pekerjaan Rumah Tangga
-
Hore! Jogja Berlakukan Perpanjangan STNK Tanpa KTP Asli, Calo PajakMakin Terhimpit
-
Daftar Starting XI Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia: Dava Yunna Masih Jadi Tumpuan!
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
-
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
Terkini
-
Perempuan Berlari 2026: Integrasi Olahraga, Kesehatan Mental, dan Literasi Keuangan
-
Bukan Sekadar Sekolah, Anak Neurodivergent Butuh Dukungan Menyeluruh untuk Tumbuh
-
Awas Logam Berat! Ini 7 Deretan Risiko Kesehatan Jika Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu
-
Waspada Gejala Awal Serangan Jantung Sering Dikira Diare Biasa
-
Saat Screen Time Tak Bisa Dihindari, Ini Rekomendasi Tontonan Anak yang Aman dan Edukatif
-
Air Jernih Belum Tentu Aman: Inilah 'Musuh Tak Terlihat' yang Memicu Stunting pada Anak
-
Bisa Remisi, Ini Cara Mengendalikan Diabetes Tanpa Bergantung Obat
-
Sering Self-Diagnose? Hentikan Kebiasaan Berbahaya Ini dengan Panduan Cerdas Pilih Produk Kesehatan
-
Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan
-
96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan