Suara.com - Hari Kesehatan Mental Sedunia diperingati setiap 10 Oktober. Peringatan ini memiliki tujuan untuk meningkatkan kesadaran dan memobilisasi upaya dalam mendukung kesehatan mental di seluruh dunia.
Kini kesehatan mental perlahan mulai banyak dibicarakan dan dilihat menjadi topik penting diskusi, di mana sebelumnya dianggap tabu. Walau kesehatan fisik masih menjadi poin utama saat pandemi Covid-19, wabah ini juga memiliki dampak lebih jauh pada kesehatan mental masyarakat.
Untuk meningkatkan wawasan dan kesadaran akan kesehatan mental, ketahui beberapa penyakit mental paling umum yang dilansir dari Healthline berikut ini.
1. Gangguan bipolar
Gangguan bipolar adalah penyakit mental kronis yang ditandai dengan episode tertinggi energik, manik dan ekstrim, terkadang terendah depresi.
Ini dapat memengaruhi tingkat energi dan kemampuan seseorang untuk berpikir secara wajar. Perubahan suasana hati yang disebabkan oleh gangguan bipolar jauh lebih parah daripada naik turun kecil yang dialami kebanyakan orang setiap hari.
2. Gangguan depresi yang persisten
Gangguan depresi persisten adalah jenis depresi kronis. Ia juga dikenal sebagai dysthymia. Meskipun depresi distimik tidak intens, namun dapat mengganggu kehidupan sehari-hari. Orang dengan kondisi ini mengalami gejala setidaknya selama dua tahun.
3. Gangguan kecemasan umum
Baca Juga: Deteksi Skizofrenia Sejak Dini, Ini 3 Fase yang Perlu Diketahui
Gangguan kecemasan umum (GAD) melampaui kecemasan sehari-hari biasa, seperti gugup sebelum presentasi. Itu menyebabkan seseorang menjadi sangat khawatir tentang banyak hal, bahkan ketika hanya ada sedikit atau tidak ada alasan untuk khawatir.
Penderita GAD mungkin merasa sangat gugup menjalani hari. Mereka mungkin berpikir hal-hal tidak akan pernah menguntungkan mereka. Terkadang rasa khawatir dapat menghalangi orang dengan GAD untuk menyelesaikan tugas dan tugas sehari-hari.
4. Gangguan depresi mayor
Gangguan depresi mayor (MDD) menyebabkan perasaan sangat sedih atau putus asa yang berlangsung setidaknya selama dua minggu. Kondisi ini disebut juga sebagai depresi klinis.
Orang dengan MDD mungkin menjadi sangat kesal tentang kehidupan mereka sehingga mereka memikirkan atau mencoba bunuh diri.
5. Gangguan obsesif kompulsif
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
Pilihan
-
Hakim Andi Sebut Nadiem Makarim Seharusnya Dibebaskan
-
Selain 10 Tahun Penjara, Nadiem Makarim Wajib Bayar Uang Pengganti Rp809,59 Miliar
-
Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun Penjara!
-
Jangan Puji Pemerintah karena Kerja: Mengapa Publik Begitu Mudah Terpesona?
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
Terkini
-
Jadi Oma Baru, Maia Estianty Cerita Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi agar Kuat
-
Jangan Anggap Sepele Gigi Berlubang, Ternyata Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak
-
Hidrasi Bukan Sekadar Hilangkan Haus, Ini Manfaatnya bagi Kesehatan Tubuh
-
Hanya 4,9 Persen Pasien Berisiko Kardiovaskular Tinggi di Indonesia Capai Target LDL-C
-
Dari Kecelakaan Kerja hingga Cedera Kepala, MRI 1.5 Tesla Jadi Senjata Baru Penanganan Trauma
-
Bikin Anak Berani Berekspresi, Isi Libur Sekolah dengan Aktivitas Ini
-
Kenalan dengan HYROX, Fitness Race yang Sedang Digandrungi Komunitas Olahraga
-
Mudah Lelah dan Sesak Napas Bisa Jadi Tanda Kebocoran Katup Jantung
-
World Allergy Week 2026: Saatnya Ubah Sudut Pandang Soal Alergi Susu Sapi pada Anak
-
Festival Keluarga Kimomby 2026 Resmi Diluncurkan, Jawab Kebutuhan Orang Tua Modern