Suara.com - Sebuah studi baru melaporkan bahwa tubuh dapat membangun sel kekebalan yang bertahan selama lebih dari enam bulan, bahkan tahunan, setelah infeksi Covid-19 hilang.
"Jumlah memori (kekebalan) itu kemungkinan akan mencegah sebagian besar orang menderita Covid-19 parah, yang memerlukan rawat inap, selama bertahun-tahun," kata rekan penulis Shane Crotty, ahli virologi di La Jolla Institute of Immunology di California.
Namun, asisten profesor kedokteran di Fakultas Kedokteran Mount Sinai Icahn, Nicolas Vabret, yang tidak terlibat dalam studi, mengatakan membuat prediksi tentang berapa lama kekebalan terhadap virus corona Covid-19 bisa rumit.
"Satu-satunya cara untuk mengetahui apakah kekebalan virus corona Covid-19 akan bertahan selama beberapa dekade adalah dengan mempelajari pasien selama periode waktu yang sama," kata Vabret, kepada Live Science.
Dengan kata lain, sambungnya, para ahli tidak akan tahu persis berapa lama kekebalan bertahan tanpa terus mempelajari mereka yang sudah sembuh.
Di sisi lain, profesor mikrobiologi dan imunologi di University of California, San Francisco, Jason Cyster, yang juga tidak terlibat dalam studi, mengatakan bahwa studi baru, dengan bukti terbaru lainnya, menunjukkan kekebalan SARS-CoV-2 (virus penyebab Covid-19) mungkin lebih kuat.
"Meski begitu, beberapa peserta dalam studi baru tidak meningkatkan respons kekebalan jangka panjang terhadap virus corona jenis," kata Cyster.
"Respons mungkin berasal dari perbedaan dalam seberapa virus yang mereka temui pada awalnya, atau genetika dapat menjelaskan perbedaannya," sambungnya.
Misalnya, tambahnya, gen yang dikenal sebagai gen antigen leukosit manusia (HLA) sangat berbeda antar individu.
Baca Juga: Bertambah Ratusan, Pasien Corona di RSD Wisma Atlet Kini Tembus 3.377 Orang
Perbedaan ini mungkin dapat mejelaskan kasus infeksi ulang Covid-19 pada beberapa orang, yang relatif jarang tetapi jumlahnya meningkat.
Jadi, untuk benar-benar memahami berapa lama kekebalan Covid-19 bertahan, para ilmuwan perlu terus mempelajari pasien yang sembuh. "Tentu saja, kita perlu melihat enam bulan ke depan," tandas Cyster.
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- 5 HP Infinix Kamera Beresolusi Tinggi Terbaru 2026 dengan Harga Murah
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
Pilihan
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
Terkini
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin
-
Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak
-
Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026
-
Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS