Suara.com - Studi baru dari University of Rochester Medical Center (URMC) telah mengungkap hubungan antara vape dan kabut otak atau brain fog. Kabut otak ini merupakan kelelahan otak dan mental yang mengakibatkan linglung, sulit konsentrasi, dan lain sebagainya.
Melansir dari Medicalxpess, baik orang dewasa maupun anak-anak yang menggunakan vape lebih cenderung melaporkan kesulitan berkonsentrasi, mengingat, dan sulit membuat keputusan daripada rekan-rekan mereka yang tidak merokok dan vape. Anak-anak lebih mungkin mengalami kondisi ini jika mereka mulai menggunakan vape sebelum usia 14 tahun.
Penelitian ini dipimpin oleh Dongmei Li, Ph.D., profesor di Institut Sains Klinis dan Terjemahan di URMC. Tim menggali data dari dua survei nasional utama.
"Studi kami menambah bukti yang berkembang bahwa vape tidak boleh dianggap sebagai alternatif yang aman untuk merokok," kata penulis studi Li.
Studi ini diterbitkan dalam jurnal Tobacco Induced Diseases dan Plos One.
Penelitian menunjukkan bahwa orang yang merokok dan vape tanpa memandang usia kemungkinan besar melaporkan kesulitan dengan fungsi mental. Orang yang hanya menggunakan salah satunya juga mengalami efek yang sama.
"Dengan meningkatnya vaping di antara remaja, ini sangat memprihatinkan dan menunjukkan bahwa kita perlu melakukan intervensi lebih awal," kata Li.
"Program pencegahan yang dimulai di sekolah menengah pertama atau atas mungkin sebenarnya sudah terlambat, perlu lebih awal," imbuhnya.
Masa remaja adalah masa kritis untuk perkembangan otak, terutama untuk fungsi mental tingkat tinggi yang membuat mereka rentan terhadap perubahan otak akibat nikotin dari rokok biasa maupun Vape.
Baca Juga: Waspada, Liquid Vape Bisa Mengandung Senyawa yang Merusak Paru-Paru
Berita Terkait
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
Pilihan
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
Terkini
-
Waspada! Ini Tanda Kelebihan Vitamin B6, dari Kesemutan hingga Kerusakan Saraf
-
Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining
-
Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem
-
Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI