Suara.com - Setelah kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM Jawa-Bali berjalan 11 hari, pemerintah melakukan evaluasi. Termasuk melihat dampaknya pada ketersediaan tempat tidur perawatan Covid-19 di rumah sakit. Hasilnya, Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, Prof. Wiku Adisasmito, mengatakan tidak ada dampak signifikan dalam mengurangi jumlah keterpakaian tempat tidur Covid-19 di rumah sakit.
"Khusus pulau Jawa dan Bali selama pelaksanaan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), nampak bahwa tren keterpakaian tempat tidurnya masih tergolong fluktuatif," ujar Prof Wiku saat konferensi pers, Kamis (21/1/2021).
Meski begitu, Prof. Wiku tidak menampik ada sedikit perubahan positif peningkatan ketersediaan tempat tidur yakni di Jawa Tengah dan Bali. Di mana angka Bed Occupancy Rate (BOR) atau rasio keterisian tempat tidur sudah kurang dari 70 persen. Di mana sejak 20 Januari 2021 lalu, Jawa Tengah di angka BOR mencapai 69,61 persen. Sedangkan angka BOR bali selalu berada di bawah 70 persen.
"Namun BOR di provinsi Jawa Tengah dan Bali masih belum rendah dari 50 persen, sehingga ketersediaan tempat tidur tergolong rawan untuk menangani pasien baru," ungkapnya.
Angka ini juga masih jauh dari standar dan target dari Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, di mana angka BOR paling banyak mencapai 60 persen, untuk bisa dikategorikan rumah sakit aman dan siap menghadapi lonjakan kasus Covid-19.
Angka BOR kata Prof. Wiku harus ditekan semaksimal mungkin, agar fasilitas kesehatan seperti rumah sakit hingga tenaga kesehatan (nakes) yang merawat pasien Covid-19 tidak kewalahan. Apalagi penambahan kasus positif baru meningkat sangat tajam.
"Dengan penambahan kasus positif harian yang cukup besar akhir-akhir ini, hal ini akan mengancam ketidakmampuan fasilitas kesehatan dalam memberikan pelayanan," jelasnya.
Ditambah untuk menekan angka BOR ini, rumah sakit dan nakes harus bisa memberikan pelayanan sesuai standar, sehingga bisa meningkatkan angka kesembuhan, dan jumlah keterisian tempat tidur bisa dikurangi.
"Kesembuhan pada pasien covid-19 yang dirawat di rumah sakit merupakan salah satu kunci, untuk menekan tingginya angka keterpakaian tempat tidur," paparnya.
Baca Juga: Tolak Perpanjangan PPKM Jawa-Bali, Pengusaha Hotel: Kita Tombok Terus!
Meski begitu, menurut Prof. Wiku masih terlalu awal untuk menilai keefektifan PKKM Jawa-Bali, karena kata dia kebijakan baru akan terlihat pengaruhnya pada 2 hingga 3 minggu setelah dijalankan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- Biodata dan Agama DJ Patricia Schuldtz yang Resmi Jadi Menantu Tommy Soeharto
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
- 5 Sepatu Jalan Lokal Terbaik Buat Si Kaki Lebar Usia 45 Tahun, Berjalan Nyaman Tanpa Nyeri
- DPUPKP Catat 47 Hektare Kawasan Kumuh di Kota Jogja, Mayoritas di Bantaran Sungai
Pilihan
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
-
Mengapa Purbaya Tidak Pernah Kritik Program MBG?
-
Kuburan atau Tambang Emas? Menyingkap Fenomena Saham Gocap di Bursa Indonesia
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
Terkini
-
Gaya Hidup Sedentari Tingkatkan Risiko Gangguan Muskuloskeletal, Fisioterapi Jadi Kunci Pencegahan
-
Hati-hati saat Banjir! Jangan Biarkan 6 Penyakit Ini Menyerang Keluarga Anda
-
Pankreas, Organ yang Jarang Disapa Tapi Selalu Bekerja Diam-Diam
-
Perawatan Kulit Personal Berbasis Medis, Solusi Praktis di Tengah Rutinitas
-
Implan Gigi Jadi Solusi Modern Atasi Masalah Gigi Hilang, Ini Penjelasan Ahli
-
Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin