Suara.com - Sejak munculnya Covid-19 pada Maret 2020 lalu, telah banyak upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengurangi penyebaran kasus di masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan yaitu penerapan 3T, yaitu Testing (pemeriksaan), Tracing (pelacakan), dan Treatment (pengobatan) di masyarakat, yang telah dilaksanakan sejak Juli 2020. Namun, menurut Menko Perekonomian Airlangga Hartanto, hingga saat ini pemerintah masih terus berupaya untuk memperbaiki sistem 3T agar hasil yang didapatkan maksimal untuk mengurangi kasus penyebaran Covid-19.
Dalam siaran yang dilakukan bersama BNPB, Airlangga mengatakan setelah diadakannya aturan 3T, data menunjukkan terjadi penurunan, terutama akibat diberlakukannya kembali Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada 11 Januari lalu. Namun, dari data yang diperoleh, angka yang didapatkan belum terjadi penurunan yang signifikan sehingga pemerintah memutuskan PPKM diperpanjang hingga 8 Februari mendatang.
Airlangga juga menambahkan, aturan 3T akan lebih ditingkatkan agar lebih efektif ke depannya. Untuk bagian testing (pemeriksaan) diharapkan Indonesia dapat mencapai ideal yaitu sekita 200-300 ribu per hari. Lalu untuk tracing (pelacakan), akan terus diupayakan sehingga tidak terjadi penyebaran lebih luas.
Di samping itu, dari sisi treatment (pengobatan), pemerintah akan berusaha meningkatkan kualitas pelayanan, terkait semakin banyak kasus harian yang ada di masyarakat. Rencananya, setiap rumah sakit akan diminta untuk membuka 30 persen tempat untuk pasien Covid-19.
“Setiap rumah sakit akan diminta 30 persen untuk menampung pasien Covid-19, karena keterbatasan tempat tidur untuk pasien saat ini,” ucap Airlangga, Kamis (21/01/2021), dalam Press Briefing terkait Program 3T, Gerakan Donor Plasma, UMKM Digital, serta Bantuan dan Solidaritas Bencana.
Untuk zona merah, penanganan akan lebih ditekan. Hal ini dilihat dari data tingkat kematian dan kesembuhan di wilayah tersebut. Ketersediaan obat juga diperhatikan untuk mendorong kesembuhan pasien. Pemerintah juga berupaya untuk menjalankan vaksinasi untuk masyarakat yang tidak sakit sehingga tercipta sistem kekebalan masyarakan menyeluruh. Hal ini dipercaya dapat memutus penyebaran Covid-19.
Selain dengan penerapan 3T dan perpanjangan PPKM, salah satu cara yang dilakukan untuk menekan Covid-19 yaitu dengan gerakan donor plasma. Gerakan ini dinilai sangat ampuh untuk membantu para pasien Covid-19 agar sembuh. Pemerintah berharap dari total pasien yang sembuh, 10 persennya sudah dapat membantu untuk pasien yang mengalami Covid-19.
Seperti yang dketahui, donor plasma konvalesen dari penyintas Covid-19 dipercaya ampuh untuk menyembuhkan pasien yang sedang sakit. Untuk itu, pemerintah berharap agar para penyintas Covid-19 dapat membantu. Di samping itu, mencari pendonor tidak mudah, karena harus menjalani berbagai tes terlebih dahulu untuk memastikan plasma yang didapat cocok.
"Mereka yang bisa donor plasma hanya yang sehat. Kebanyakan yang bisa donor itu pria, untuk wanita yang pernah melahirkan tidak bisa. Calon pendonor juga harus dicek apakah ada penyakit, lalu cek HB-nya, jika lolos persyaratan, baru bisa donor, “ ucap Airlangga.
Baca Juga: Kota Bandung Dukung Perpanjangan PPKM, Warganet Ngamuk!
PMI telah menyediakan fasilitas untuk masyarakat yang mau mendonorkan darahnya. Saat ini PMI baru memenuhi 1.000 kantong plasma per bulan. Diharapkan, kantong yang didapat bisa mencapai 5.000 per bulan. "Namun, PMI baru (bisa memenuhi) sekitar 1.000 kantong per bulan, dari targetnya 5.000 per bulan. Saat ini rasionya 1 plasma dibutuhkan 8 orang, jadi sangat kurang," pungkas Airlangga. (Fajar Ramadhan)
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Rekomendasi Sepatu Jalan Kaki dengan Sol Karet Anti Slip Terbaik, Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas di Bawah 60 Juta, Pilihan Terbaik per Januari 2026
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
Pilihan
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
-
Darurat Judi Online! OJK Blokir 31.382 Rekening Bank, Angka Terus Meroket di Awal 2026
-
Sita Si Buruh Belia: Upah Minim dan Harapan yang Dijahit Perlahan
-
Investor Besar Tak Ada Jaminan, Pinjol Milik Grup Astra Resmi Gulung Tikar
Terkini
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan