Suara.com - Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) AS telah mengizinkan obat suntik Cabenuva sebagai pengobatan penderita HIV pada 21 Januari kemarin. Dibandingkan pil yang harus dikonsumsi harian, obat baru ini disuntikkan satu bulan sekali.
Perizinan ini keluar setelah penelitian menunjukkan Cabenuva sama efektifnya dengan obat oral dalam menjaga viral load tetap rendah dan gejala-gejala tetap terkendali.
"Pengobatan ini memberikan alternatif dalam mengelola kondisi kronis ini," kata John Farley, MD, MPH, direktur Kantor Penyakit Menular di Pusat Evaluasi dan Penelitian Obat FDA.
Cabenuva Berpotensi Membantu Mencegah HIV
Dilansir Verywell Health, Cabenuva terdiri dari cabotegravir dan rilpivirine.
Profesor epidemiologi dan biostatistik di Fakultas Kedokteran Universitas California San Francisco, Paul Volberding, MD, menjelaskan cabotegravir dapat menghambat integrase dan rilpivirine dapat menghambat transkriptase balik non-nukleosida (NNRTI).
Integrase inhibitor dan NNRTI adalah golongan obat yang mencegah HIV bereplikasi di dalam sel, menggagalkan upaya untuk mengambil alih sistem kekebalan.
"Pengobatan HIV membutuhkan setidaknya dua obat dari kelas yang berbeda agar efektif dan mengindari resistensi obat," jelas Volberding.
Berdasarkan data uji klinis Fase III ATLAS dan FLAIR menemukan Cabenuva aman dan juga efektif pada orang dewasa yang memiliki kurang dari 50 salinan HIV per mililiter darah.
Baca Juga: COVID Arm, Efek Samping Vaksin Covid-19 Berupa Ruam Gatal di Area Suntikan
Cabenuva diproduksi oleh perusahaan farmasi ViiV Healthcare.
Sejak menerima persetujuan FDA, ViiV Healthcare akan mengajukan perubahan pada label Cabenuva. Perubahan tersebut mencakup pasien hanya perlu menerima enam suntikan setahun, dibandingkan 12.
ViiV Healthcare memiliki data bahwa menyuntikkan Cabenuva setiap delapan minggu, atau dua bulan sekali, sama efektifnya dengan menyuntikkannya setiap empat minggu, atau bulanan sekali.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- Lipstik Merek Apa yang Mengandung SPF? Ini 5 Produk untuk Atasi Bibir Hitam dan Kering
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi
-
Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang
-
Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia
-
Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?
-
Waspada! 7 Jenis Tikus di Sekitar Rumah Ini Bisa Jadi Penyebab Hantavirus di Indonesia
-
4 Penyebab Hantavirus dan Gejala Awalnya, Ramai Dibahas usai Kasus MV Hondius
-
Hantavirus Apakah Sudah Ada di Indonesia? Ini Fakta dan Risiko Penularannya
-
Hantavirus Mirip Flu? Ketahui Gejala, Penularan, dan Cara Mencegahnya