Suara.com - Saat ini ada sejumlah merek vaksin Covid-19 yang diproduksi dan dipakai di berbagai negara. Umumnya butuh dua dosis vaksin untuk bisa mendapatkan efektivitas yang penuh.
Namun, sebuah studi di kanada mengungkapkan bahwa dosis tunggal vaksin Pfizer dan Moderna lebih dari 92 persen efektif dalam mencegah penyakit Covid-19 setelah dua minggu, kata para peneliti Kanada. Demikian seperti dilansir dari New York Post.
Data FDA sendiri menunjukkan bahwa satu suntikan vaksin BioNTech-Pfizer efektif 92,6 persen setelah dua minggu, dan satu suntikan Moderna efektif 92,1 persen, catat para peneliti dalam New England Journal of Medicine.
Mendapatkan suntikan kedua dari vaksin Pfizer meningkatkan kemanjuran hanya sedikit, menjadi 94 persen, menurut studi terpisah berdasarkan data dunia nyata dari program vaksinasi Israel.
Jadi, dosis kedua yang diresepkan harus diberikan kepada mereka yang berada dalam kelompok prioritas yang masih menunggu suntikan pertama mereka, “mengingat kekurangan vaksin saat ini,” desak para peneliti.
"Dengan dosis pertama yang sangat protektif, manfaat yang diperoleh dari pasokan vaksin yang langka dapat dimaksimalkan dengan menunda dosis kedua sampai semua anggota kelompok prioritas ditawarkan setidaknya satu dosis," kata para peneliti dalam sebuah surat kepada editor NEJM.
“Mungkin ada ketidakpastian tentang durasi perlindungan dengan dosis tunggal,” kata para peneliti.
"Tetapi pemberian dosis kedua dalam waktu 1 bulan setelah yang pertama, seperti yang direkomendasikan, memberikan sedikit manfaat tambahan dalam jangka pendek, sementara orang-orang berisiko tinggi yang bisa menerima dosis pertama dengan pasokan vaksin sama sekali tidak terlindungi."
Surat itu ditulis oleh Dr. Danuta M. Skowronski dari Pusat Pengendalian Penyakit British Columbia di Vancouver dan Dr. Gaston De Serres dari Institut National de Sante Publique du Quebec di Kota Quebec.
Baca Juga: Takut Divaksin Covid-19, Warga Satu Dusun Ngumpet di Hutan
Dalam sebuah surat kepada NEJM yang menanggapi kedua peneliti tersebut, Pfizer menekankan bahwa “rejimen dosis alternatif” masih perlu dievaluasi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Kulit Wajah di Indomaret dan Harganya
- Oki Setiana Dewi Jadi Kunci Kasus Pelecehan Syekh Ahmad Al Misry Terbongkar Lagi, Ini Perannya
- 7 Sabun Cuci Muka dengan Kolagen untuk Kencangkan Wajah, Bikin Kulit Kenyal dan Glowing
- 6 HP Realme Kamera Bagus dan RAM Besar, Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan
- Cushion Apa yang Tahan 12 Jam Tanpa Luntur? Ini 4 Pilihan Terbaiknya
Pilihan
-
DPR Minta Ombudsman RI Segera Konsolidasi Internal Usai Ketua Jadi Tersangka Korupsi Nikel
-
Siti Nurhaliza Alami Kecelakaan Beruntun di Jalan Tol
-
Timnas Indonesia U-17 Diganyang Malaysia, Kurniawan Ungkap Borok Kekalahan
-
Beban Ganda Wanita Saat WFH: Terjebak Laptop dan Pekerjaan Rumah Tangga
-
Hore! Jogja Berlakukan Perpanjangan STNK Tanpa KTP Asli, Calo PajakMakin Terhimpit
Terkini
-
Varises Bukan Sekadar Masalah Estetika, Kenali Sinyal Bahaya Sebelum Jadi Komplikasi Serius
-
Tren Lari Meningkat, Waspadai Risiko Cedera Otot dan Memar Ikut Mengintai
-
Perempuan Berlari 2026: Integrasi Olahraga, Kesehatan Mental, dan Literasi Keuangan
-
Bukan Sekadar Sekolah, Anak Neurodivergent Butuh Dukungan Menyeluruh untuk Tumbuh
-
Awas Logam Berat! Ini 7 Deretan Risiko Kesehatan Jika Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu
-
Waspada Gejala Awal Serangan Jantung Sering Dikira Diare Biasa
-
Saat Screen Time Tak Bisa Dihindari, Ini Rekomendasi Tontonan Anak yang Aman dan Edukatif
-
Air Jernih Belum Tentu Aman: Inilah 'Musuh Tak Terlihat' yang Memicu Stunting pada Anak
-
Bisa Remisi, Ini Cara Mengendalikan Diabetes Tanpa Bergantung Obat
-
Sering Self-Diagnose? Hentikan Kebiasaan Berbahaya Ini dengan Panduan Cerdas Pilih Produk Kesehatan