Suara.com - Temuan studi baru yang dilakukan oleh para peneliti dari Center for Research in Occupational Health menunjukkan bahwa ketidakstabilan pekerjaan di masa muda berisiko tingkatkan masalah kesehatan mental. Studi ini telah diterbitkan pada jurnal BMJ Open.
Melansir dari Healthshots, studi ini mengevaluasi hubungan antara awal kehidupan kerja dengan gangguan mental di masa depan. Studi ini didasarkan pada karyawan berusia antara 18 hingga 28 tahun yang merupakan penduduk di Catalonia
“Ini adalah pendekatan baru yang mengevaluasi bagaimana transisi antara jenis kontrak kerja, situasi pekerjaan atau pengangguran, dan periode tanpa jaminan sosial dapat mempengaruhi evolusi kesehatan mental pada populasi pekerja muda yang memasuki pasar tenaga kerja," kata Monica Ubalde-Lopez, koordinator studi.
Amaya Ayala-Garcia, penulis pertama artikel tersebut, mengatakan bahwa untuk mengevaluasi stabilitas pekerjaan, mereka menerapkan teknik statistik yang dengan mengidentifikasi empat pola partisipasi berbeda dalam pasar tenaga kerja.
Keempat pola tersebut adalah peserta dengan pekerjaan tetap yang stabil, stabilitas kerja bertahap seperti penurunan jumlah transisi antara kontrak sementara dan kurangnya cakupan jaminan menuju kontrak permanen, pekerjaan tidak stabil dengan berbagai jenis kontrak, dan awal masuk ke pasar kerja.
“Untuk mendekati tingkat keparahan gangguan jiwa, kami mengukur kemunculan gangguan mental selama tiga tahun,” tambahnya.
Penulis artikel tersebut mencatat bahwa orang-orang dengan kehidupan kerja yang lebih stabil memiliki kesehatan mental yang lebih baik. Mereka juga mencatat bahwa bekerja di perusahaan besar pada awal kehidupan kerja dikaitkan dengan kesehatan mental yang lebih baik pula di kemudian hari.
“Hasil kami menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja yang tidak stabil mungkin membentuk kesehatan mental masa depan dari populasi pekerja muda. Oleh karena itu, kebijakan kesehatan masyarakat di masa depan harus mengatasi masalah ini untuk mencegah gangguan kesehatan mental dalam jangka panjang,” simpul para peneliti.
Baca Juga: Milyaran Orang Diprediksi akan Kena Gangguan Pendengaran di 2050, Kok Bisa?
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- 5 HP Infinix Kamera Beresolusi Tinggi Terbaru 2026 dengan Harga Murah
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
Pilihan
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
Terkini
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin
-
Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak
-
Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026
-
Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS