Suara.com - Perempuan dengan timbunan lemak perut di masa mendekati menopause mungkin perlu menurunkan berat badan. Sebab, lemak perut saat menopause bisa meningkatkan risiko penyakit jantung. Hal ini dinyatakan dalam studi yang diterbitkan 3 Maret di jurnal Menopause.
Melansir dari Medicinenet, perempuan mayoritas membawa berat badan di bagian tengah tubuh mereka atau di area tubuh. Sayangnya saat menopause hal ini akan mengembangkan penyakit jantung, bahkan ketika berat badan tak meningkat (hanya lemak perut yang meningkat).
Untuk setiap 20 persen peningkatan lemak perut, ketebalan lapisan arteri karotis tumbuh 2 persen. Arteri karotis membawa darah ke kepala dan leher. Sementara ketebalan arteri karotis dianggap sebagai tanda awal penyakit jantung.
"Penyakit jantung adalah pembunuh wanita nomor satu di Amerika Serikat," kata penulis studi Samar El Khoudary, seorang profesor epidemiologi di University of Pittsburgh Graduate Sekolah Kesehatan Masyarakat.
Alasan mengapa lemak perut begitu berbahaya belum sepenuhnya dipahami. Tapi penelitian telah menunjukkan bahwa lemak ini aktif secara metabolik dan dapat mengeluarkan penanda inflamasi yang meningkatkan risiko penyakit jantung.
Para peneliti mengukur lemak di sekitar organ perut (lemak visceral) dengan CT scan dan ketebalan lapisan arteri karotis internal menggunakan ultrasound pada sekitar 360 perempuan dari Pittsburgh dan Chicago yang berpartisipasi dalam studi Jantung Studi Kesehatan Wanita di Seluruh Bangsa (SWAN).
Perempuan dalam penelitian ini berusia sekitar 51 tahun yang merupakan usia rata-rata memasuki menopause di Amerika Serikat.
Selain peningkatan ketebalan arteri karotis yang terkait dengan lemak perut, para peneliti menemukan bahwa lemak perut visceral meningkat seiring dengan penuaan dan laju peningkatan tersebut meningkat pada saat menopause.
"Dua perempuan dapat memiliki indeks masa tubuh yang sama, tetapi jika satu menyimpan berat badan di perutnya dan yang lainnya di pahanya, perempuan yang menyimpan lemak di perutnya berisiko lebih tinggi terkena penyakit jantung," kata El Khaudary.
Baca Juga: Keju Kualitas Baik Bisa Lindungi Kesehatan Jantung, Ini Saran NHS!
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri PU Panggil Pulang ASN Tugas Belajar di London Diduga Hina Program MBG
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
Terkini
-
Apa Itu Patah Tulang Selangka? Cedera Ngeri Alex Marquez di MotoGP Catalunya 2026
-
Obat Diabetes dan Obesitas Bentuk Pil Makin Diminati, Pasien Dinilai Lebih Mau Berobat
-
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus
-
Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi
-
Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang