Suara.com - Sebuah studi baru menemukan refluks asam lambung yang terjadi secara sering dan melibatkan rasa mulas, dapat menjadi faktor risiko kenker kerongkongan dan laring.
Dalam studi yang terbit dalam jurnal Cancer pada 22 Februari lalu, sebanyak 17% dua dari jenis kanker kerongkongan dan laring berkaitan dengan penyakit refluks gastroesofagus (GERD).
Peneliti dalam studi ini ingin menguatkan bukti bahwa GERD merupakan faktor risiko dari adenokarsinoma esofagus.
"Kami menemukan GERD dikaitkan dengan peningkatan risiko sel skuamosa esofagus dan laring," kata penulis studi Christian C. Abnet, kepala cabang Cabang Epidemiologi Metabolik Divisi Epidemiologi dan Genetika Kanker di Institut Kanker Nasional (NCI).
GERD dipercaya meningkatkan risiko kanker kerongkongan karena asam yang dimuntahkan dari lambung dapat mengiritasi dan merusak lapisan esofagus. Asam ini juga dapat mencapai laring, tempat pita suara berada, dan menyebabkan iritasi serta suara serak.
Untuk studi ini Abnet memeriksa 490.605 data orang dewasa yang mengambil bagian dalam Studi Diet dan Kesehatan NIH-AARP.
Ia memperkirakan 24% orang dalam data tersebut memiliki riwayat GERD, lapor Very Well Health.
Kemudian peneliti memeriksa kejadian tiga jenis kanker kerongkongan, yakni adenokarsinoma esofagus, karsinoma sel skuamosa laring, dan karsinoma sel skuamosa esofagus.
Hasilnya ditemukan bahwa 2.108 peserta menderita kanker esofagus atau laring dari 1995 hingga 2011.
Baca Juga: 4 Orang di Indonesia Meninggal Setiap Jam Karena Kanker Paru
Dari jumlah tersebut, 931 orang mengalami adenokarsinoma esofagus, 876 menderita karsinoma sel skuamosa laring, dan 301 memiliki karsinoma sel skuamosa esofagus.
Risiko yang meningkat hampir sama, bahkan ketika faktor risiko lain seperti jenis kelamin, status merokok, obesitas, dan konsumsi alkohol, sudah dipertimbangkan.
Abnet menyimpulkan 16,92% kasus karsinoma sel skuamosa laring dan 17,32% kasus karsinoma sel skuamosa esofagus di Amerika Serikat mungkin terkait dengan GERD.
Namun, Abnet mengatakan bahwa masih harus ada studi lanjutan yang mungkin dapat memandu pengawasan klinis pasien GERD di masa depan.
"Semua studi observasional memiliki keterbatasan dan studi kami sendiri tidak mengonfirmasi bahwa GERD meningkatkan risiko untuk semua kanker ini," tutur Abnet.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Mobil Toyota Bekas yang Mesinnya Bandel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Pajak Rp500 Ribuan, Tinggal Segini Harga Wuling Binguo Bekas
- 9 Sepatu Adidas yang Diskon di Foot Locker, Harga Turun Hingga 60 Persen
- 10 Promo Sepatu Nike, Adidas, New Balance, Puma, dan Asics di Foot Locker: Diskon hingga 65 Persen
- 5 Rekomendasi Sepatu Lari Kanky Murah tapi Berkualitas untuk Easy Run dan Aktivitas Harian
Pilihan
-
Petani Tembakau dan Rokok Lintingan: Siasat Bertahan di Tengah Macetnya Serapan Pabrik
-
Bos Bursa Mau Diganti, Purbaya: Tangkap Pelaku Goreng Saham, Nanti Saya Kasih Insentif!
-
Omon-omon Purbaya di BEI: IHSG Sentuh 10.000 Tahun Ini Bukan Mustahil!
-
Wajah Suram Kripto Awal 2026: Bitcoin Terjebak di Bawah $100.000 Akibat Aksi Jual Masif
-
Tahun Baru, Tarif Baru: Tol Bandara Soekarno-Hatta Naik Mulai 5 Januari 2026
Terkini
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan
-
Kesehatan Gigi Keluarga, Investasi Kecil dengan Dampak Besar
-
Fakta Super Flu, Dipicu Virus Influenza A H3N2 'Meledak' Jangkit Jutaan Orang
-
Gigi Goyang Saat Dewasa? Waspada! Ini Bukan Sekadar Tanda Biasa, Tapi Peringatan Serius dari Tubuh
-
Bali Menguat sebagai Pusat Wellness Asia, Standar Global Kesehatan Kian Jadi Kebutuhan