Suara.com - Vaksin AstraZeneca telah dikaitkan dengan pembekuan darah langka. Tapi, para ilmuwan mengatakan seseorang berisiko 10 kali lebih besar mengalami pembekuan darah di otak daripada suntikan vaksin AstraZeneca.
Sebuah penelitian mengamati kemungkinan terjadinya pembekuan darah di otak (CVST) pada orang yang telah didiagnosis terinfeksi virus corona Covid-19, dibandingkan orang yang suntik vaksin Covid-19.
Hasil penelitian menemukan perbandingan risiko pembekuan darah otak setelah suntik vaksin AstraZeneca 5 : 1.000.000 dan vaksin Pfizer atau Moderna perbandingannya 4 : 1.000.000.
Sedangkan, risiko pembekuan darah di otak pada orang yang terinfeksi virus corona Covid-19 hampir 40 : 1.000.000. Para peneliti Oxford yang membuat vaksin AstraZeneca, mengatakan risiko pembekuan darah di otak sangat jarang terjadi dalam 2 minggu setelah suntik vaksin.
Tetapi dilansir dari The Sun, mereka telah menemukan risiko pembekuan darah lebih tinggi pada orang yang terinfeksi virus corona Covid-19, yang bisa dicegah dan diatasi dengan suntik vaksin Covid-19.
Tim peneliti juga mengamati tingkat pembekuan darah pada orang yang terkena flu. Mereka mengatakan risiko CVST setelah terinfeksi virus corona justru berlipat-lipat ganda dan mungkin 100 kali lebih tinggi.
Pola serupa juga terlihat pada gangguan pembekuan darah serius lainnya, seperti trombosis vena portal yang memengaruhi suplai darah ke hati. Tetapi, tim peneliti mengatakan hasil temuan mereka belum dipublikasikan dalam jurnal medis.
Selain itu, tidak semua kasus yang diselidiki oleh peneliti pembekuan darah disertai dengan trombosit darah yang rendah atau disebut trombositpenia.
Mereka menemukan kombinasi yang tidak biasa. Sehingga, para peneliti mengatakan bahwa temuan mereka tidak bisa berkontribusi pada perdebatan seputar hubungan vaksin AstraZeneca dan pembekuan darah langka.
Baca Juga: Kasus Covid-19 Kembali Menggila, Satu Ranjang Digunakan Dua Pasien
Temuan ini juga menjelaskan risiko CVST setelah suntik vaksin AstraZeneca, Pfizer dan Moderna. Karena, suntikan kedua vaksin Covid-19 dikaitkan dengan kasus CVST dan trombosit darah rendah.
Para peneliti Oxford menyimpulkan bahwa risiko pembekuan darah dan komplikasi serius akibat terinfeksi virus corona lebih besar dibandingkan suntik vaksin Covid-19.
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
Terkini
-
Bukan Sekadar Kenyang, Ahli Gizi Ingatkan Pentingnya Nutrisi Seimbang untuk Menjaga Kualitas Hidup
-
Waspada! Ini Tanda Kelebihan Vitamin B6, dari Kesemutan hingga Kerusakan Saraf
-
Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining
-
Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem
-
Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian