Suara.com - Regulator obat di Eropa, European Medicines Agency (EMA) mengatakan bahwa ada kemungkinan hubungan antara vaksin virus corona Covid-19 Johnson & Johnson dengan pembekuan darah.
Sebelumnya, Amerika Serikat menunda peluncuran vaksin Johnson & Johnson karena beberapa orang mengalami pembekuan darah setelah suntik vaksin Covid-19 tersebut.
Lalu, sekarang EMA menyimpulkan bahwa pembekuan darah langka dengan rendahnya tingkat trombosit darah perlu dimasukkan dalam daftar efek samping vaksin Johnson & Johnson.
Sebenarnya, efek samping setelah suntik vaksin Covid-19 adalah hal yang wajar seperti ketika suntik vaksin lainnya. Efek samping umum vaksin Covid-19 biasanya berupa rasa sakit di tempat suntikan.
Tetapi, 8 dari 7 juta orang di Amerika Serikat yang sudah menerima suntikan vaksin Johnson & Johnson justru mengalami efek samping serius berupa pembekuan darah.
Semua orang yang mengalami pembekuan darah berusia di bawah 60 tahun dan kondisinya terdeteksi setelah 3 minggu suntik vaksin Covod-19. Sehingga faktor risiko spesifik sekarang ini masih belum diketahui.
Namun, rata-rata pasien yang mengalami pembekuan darah adalah wanita. Kasus ini biasanya terjadi di tempat tidak biasa seperti pembuluh darah di otak, yang juga dikenal sebagai trombosis sinus vena serebral (CVST).
Pembekuan darah juga bisa terjadi di perut, yang dikenal sebagai trombosis vena splanknikus dan di arteri dengan tingkat trombosit darah rendah serta terkadang pendarahan.
Para ahli mengatakan masalah medis ini memiliki sifat mirip yang terjadi pada pasien setelah suntik vaksin AstraZeneca. Sebelumnya, vaksin AstraZeneca lebih dulu dikaitkan dengan pembekuan darah.
Baca Juga: Peneliti Kembangkan Vaksin Corona Berbasis Nabati yang Mengandung Tembakau
Meski begitu, para ahli selalu mengatakan bahwa manfaat vaksin Covid-19 jauh lebih besar daripada risikonya. Prof Jonathan Ball, Profesor Virologi Molekuler, Universitas Nottingham, mengatakan efek samping ini mirip dengan yang terjadi pada vaksin AstraZeneca.
Vaksin Covid-19 ini menunjukkan bahwa sistem pengiriman adenovirus yang tidak aktif mungkin menyebabkan masalah medis tersebut.
"Tapi, perlu diingat kalau manfaat vaksin Covid-19 ini jauh lebih bear dibandingkan risikonya dan efek sampingnya," jelas Prof Jonathan Ball dikutip dari The Sun.
Sistem pengiriman Adenovirus yang tidak aktif inilah memicu sistem kekebalan untuk mulai memproduksi antibodi. Dalam sebuah pernyataan, EMA mengatakan bahwa profesional perawatan kesehatan dan orang-orang yang akan menerima vaksin Covid-19 harus hati-hati.
"Risiko kombinasi pembekuan darah dan trombosit darah rendah memang harus diwaspadai. Tapi, manfaat vaksin Johnson & Johnson lebih besar daripada risiko efek sampingnya," jelasnya.
Berita Terkait
-
Profil Carina Joe, Pahlawan Vaksin Covid-19 Raih Bintang Jasa Utama dari Presiden Prabowo
-
CEK FAKTA: Joe Biden Terserang Kanker Gara-gara Vaksin Covid-19, Benarkah?
-
Seorang Dokter di Inggris Coba Bunuh Pasangan Ibunya dengan Vaksin COVID-19 Palsu!
-
Pesta Seks Selama Pandemi dan Kebohongan Vaksin Covid-19, Dokter di New York Terancam Penjara!
-
Kemenkes Bantah Adanya Detoksifikasi Vaksin Covid-19, Definisinya Beda Jauh
Terpopuler
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
- 5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton
- Adu Tajam! Persija Punya Mauro Zijlstra, Persib Ada Sergio Castel, Siapa Bomber Haus Gol?
Pilihan
-
Kisah Petani Gurem, Dihantui Pangan Murah Rendah Gizi
-
Ketika Hujan Tak Selalu Berkah, Dilema Petani Sukoharjo Menjaga Dapur Tetap Ngebul
-
KPK Cecar Eks Menteri BUMN Rini Soemarno Soal Holding Minyak dan Gas
-
Diduga Nikah Lagi Padahal Masih Bersuami, Kakak Ipar Nakula Sadewa Dipolisikan
-
Lebih dari 150 Ribu Warga Jogja Dinonaktifkan dari PBI JK, Warga Kaget dan Bingung Nasib Pengobatan
Terkini
-
Mengenal Ultra Low Contrast PCI, Pendekatan Tindakan Jantung yang Lebih Ramah Ginjal
-
Bukan Sekadar Timbangan: Mengapa Obesitas Resmi Jadi Penyakit Kronis di 2026?
-
Bayi Sering Gumoh? Umumnya Normal, Tapi Wajib Kenali Tanda Bahaya GERD
-
Melawan Angka Kematian Kanker yang Tinggi: Solusi Lokal untuk Akses Terapi yang Merata
-
Atasi Batuk Ringan hingga Napas Tidak Nyaman, Pendekatan Nutrisi Alami Kian Dipilih
-
Jangan Abaikan Kelainan Refraksi, Deteksi Dini Menentukan Masa Depan Generasi
-
Toko Sociolla Pertama di Sorong, Lengkapi Kebutuhan Kecantikan di Indonesia Timur
-
Awali 2026, Lilla Perkuat Peran sebagai Trusted Mom's Companion
-
Era Baru Kesehatan Mata: Solusi Tepat Mulai dari Ruang Dokter Hingga Mendapatkan Kacamata Baru
-
Dokter Ungkap: Kreativitas MPASI Ternyata Kunci Atasi GTM, Perkenalkan Rasa Indonesia Sejak Dini