Suara.com - Suntik vaksin Covid-19 sama dengan vaksin jenis lain yang bisa menyebabkan efek samping. Tapi, beberapa orang mungkin bisa mengalami reaksi alergi setelah suntik vaksin Covid-19, terutama pada orang yang memiliki riwayat reaksi alergi parah.
Badan Obat Norwegia, mengatakan ada tujuh reaksi alergi serius yang telah dilaporkan setelah vaksinasi dengan vaksin Pfizer.
"Reaksi alergi yang parah umumnya sangat jarang terjadi dan hanya terjadi pada satu hingga dua per sejuta orang yang telah divaksinasi dengan vaksin lain," kata Badan Obat Norwegia dikutip dari Express.
Jika Anda mengalami reaksi alergi parah yang juga dikenal sebagai anafilaksis setelah mendapatkan suntikan pertama vaksin Covid-19, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) merekomendasikan agar Anda tidak mendapatkan suntikan kedua vaksin Covid-19.
"Reaksi alergi dianggap parah ketika seseorang perlu dirawat dengan epinefrin atau EpiPen atau jika mereka harus pergi ke rumah sakit," kata CDC.
CDC mengatakan reaksi alergi langsung terjadi dalam 4 jam setelah mendapatkan vaksinasi. Gejala reaksi alergi ini termasuk gatal-gatal, bengkak, dan mengi (gangguan pernapasan).
Anafilaksis adalah reaksi alergi parah yang mengancam jiwa dan biasanya menyebabkan gatal-gatal, pembengkakan pada wajah, mata atau tenggorokan, kesulitan dalam bernafas dan pusing karena tekanan darah menurun.
CDC telah melaporkan bahwa ada 21 kasus anafilaksis setelah pemberian 1.893.360 dosis pertama vaksin Pfizer antara 14 Desember dan 23 Desember 2020. Dari kasus-kasus tersebut, 71 persen di antaranya terjadi dalam waktu 15 menit setelah vaksinasi.
"Saya memiliki pasien yang memiliki alergi cukup parah sehingga harus dirawat di rumah sakit. Tetapi mereka sangat bersikeras untuk suntik vaksin Covid-19 kedua, karena harus melakukan perjalanan ke luar negeri," kata Dr Julian Hong, dokter residen di Klinik DTAP.
Baca Juga: Pakar: Vaksin Covid-19 Kurang Efektif Lawan Varian Virus Corona India
Berdasarkan sudut pandang medis, tindakan itu akan membahayakan nyawanya. Dampak alergi yang terjadi bisa mengakibatkan keadaan darurat medis, yang juga berpotensi menghilangkan kepercayaan banyak orang lain untuk suntik vaksin Covid-19.
Menurut Pfizer, vaksin Pfizer BioNTech dibuat dengan komponen sintetis dan kimiawi serta komponen yang diproduksi secara enzimatis dari zat alami seperti protein.
Bahan tidak aktif dalam vaksin Pfizer BioNTech untuk virus corona Covid-19, meliputi:
- Potasium klorida
- Kalium monobasik
- Fosfat
- Natrium klorida
- Dehidrasi natrium fosfat dibasa
- Sukrosa (gula) dan bahan lainnya dalam jumlah kecil
Berita Terkait
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Presisi dan Personalisasi: Arah Baru Perawatan Kanker di Asia Tenggara
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia