Suara.com - Hari ini, Jumat, 23 Juli 2021, Indonesia tidak hanya memperingati Hari Anak Nasional, tetapi juga Hari Tanpa Televisi.
Adalah Yayasan Pendidikan Media Anak yang menggagas Hari Tanpa Televisi yang kemudian mengajak Koalisi Nasional untuk mengkampanyekan gerakan Hari Tanpa Televisi sejak beberapa tahun silam.
Hari Tanpa Televisi merupakan gerakan yang mengajak keluarga di Indonesia untuk tidak menonton TV selama sehari. Tujuannya bukan untuk memusuhi siaran TV, melainkan lebih mengajak siapa saja untuk cerdas dan kritis dalam mengonsumsi tayangan TV agar terhindar dari dampak negatifnya.
Ya, televisi memang dapat menjadi sumber informasi dan edukasi yang sangat andal. Namun aktivitas menonton TV telah memangkas waktu interaksi dalam keluarga.
Kegiatan tersebut bahkan juga seringkali menimbulkan dampak negatif berupa peniruan dan penanaman nilai pada anak-anak dan remaja, yang berkontribusi pada gaya hidup yang tidak sehat, konsumtif, dan lainnya.
Nah, untuk mengetahui fakta terkait gerakan Hari Tanpa Televisi, berikut beberapa hal yang bisa kamu ketahui, yang sudah Suara.com rangkum.
1. Sejarah dan Latar belakang ditetapkan Hari Tanpa Televisi
Hari tanpa TV digagas Yayasan Pendidikan Media Anak yang kemudian mengajak Koalisi Nasional pada 2008 lalu. Hal ini dilatarbelakangi oleh banyaknya tayangan TV yang tidak mendidik dan tidak aman untuk anak.
Tentu saja, gerakan ini akan memiliki dampak yang besar, mengingat anak dan remaja lebih mudah menyerap dan menerima informasi yang mereka lihat dan dengar, tanpa memfilternya terlebih dahulu.
Dengan berbagai tayangan yang tidak berkualitas dan tak sesuai dengan usianya, dikhawatirkan anak-anak akan melakukan adegan-adegan yang sering mereka lihat di TV.
Baca Juga: Cara Memindah TV Analog ke TV Digital, Tak Perlu Beli TV Baru!
Gerakan Hari Tanpa Televisi digaungkan, mengingat saat ini, anak-anak memiliki jumlah jam menonton yang sangat tinggi dibandingkan dengan waktu belajar mereka.
2. Tujuan Hari Tanpa Televisi
Tujuan diadakannya gerakan ini adalah untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap TV serta sebagai ungkapan keprihatinan terhadap acara yang tidak berkualitas. Sehingga hal tersebut diharapkan dapat mengurangi bahaya negatif TV pada anak.
Gerakan ini juga bermaksud untuk menyadarkan para orangtua dan dewasa untuk turut bertanggung jawab pada perkembangan anak. Salah satunya dengan lebih memperhatikan pola kebiasaan mengkonsumsi tayangan.
3. Harapan dari gerakan Hari Tanpa Televisi
Selain agar keluarga di Indonesia dapat mengalihkan kegiatan mereka dengan hal yang lebih bermanfaat seperti bermain bersama keluarga, Hari Tanpa Televisi juga diharapkan dapat menjadi "teguran" bagi perusahaan-perusahan yang bergerak di bidang pertelevisian agar tergerak untuk mengubah tayangan-tayangan mereka menjadi lebih mendidik dan berkualitas.
4. Apa yang bisa kita lakukan saat Hari Tanpa Televisi?
Jika diikuti oleh jutaan masyarakat di Indonesia, Hari Tanpa Televisi memiliki dampak yang luar biasa. Kita bisa mengganti kegiatan menonton TV dengan menghabiskan waktu yang berkualitas bersama keluarga.
Membangun kelekatan dan kebersamaan melalui berbagai mainan yang diciptakan bersama secara kreatif untuk mengisi waktu yang biasa digunakan anak-anak untuk menonton TV.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Lipstik Warna Apa yang Cocok di Usia 50-an? Ini 5 Pilihan agar Terlihat Fresh dan Lebih Muda
- 5 Rekomendasi Sampo Kemiri Penghitam Rambut dan Penghilang Uban, Mulai Rp10 Ribuan
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 5 Cat Rambut yang Tahan Lama untuk Tutupi Uban, Harga Mulai Rp17 Ribuan
Pilihan
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
-
Kriminalisasi Rasa Tersinggung: Mengadili Komedi 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
Terkini
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya