Suara.com - Gangguan sleep apnea atau apnea tidur dapat melipatgandakan risiko kematian mendadak. Kondisi ini membuat jalan napas seseorang berulang kali tersumbat saat tidur sehingga sering menyebabkan mendengkur.
Melansir dari US News, sleep apnea menyebabkan jeda dalam bernapas yang juga dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, penyakit arteri koroner dan gagal jantung kongestif, penelitian baru menunjukkan.
Penelitian ini telah diterbitkan pada jurnal BMJ Open Respiratory Research.
"(Penelitian) ini menambah semakin banyak bukti yang menyoroti pentingnya skrining, diagnosis, dan pengobatan apnea tidur," kata Dr. Kannan Ramar, mantan presiden American Academy of Sleep Medicine (AASM).
Ramar mengatakan bahwa penelitiannya menggarisbawahi pentingnya mengenali kondisi sleep apnea yang sering tidak terdiagnosis.
Untuk penelitian ini, sebuah tim di Penn State University meninjau 22 penelitian yang melibatkan lebih dari 42.000 pasien di seluruh dunia. Ulasan mereka mengungkapkan bahwa orang dengan apnea tidur obstruktif memiliki risiko lebih besar untuk meninggal secara tiba-tiba dan risikonya meningkat seiring bertambahnya usia pasien.
"Penelitian kami menunjukkan kondisi ini dapat mengancam jiwa," kata peneliti utama Anna Ssentongo, asisten profesor dan ahli epidemiologi di Penn State.
Penyimpangan napas berulang dalam bernapas dalam apnea tidur memotong suplai oksigen ke sel yang dapat mengakibatkan ketidakseimbangan antioksidan dalam tubuh. Ketidakseimbangan ini merusak sel dan dapat mempercepat proses penuaan yang menyebabkan banyak masalah kesehatan.
Dokter Tetyana Kendzerska, asisten profesor kedokteran di divisi respirologi di Universitas Ottawa di Kanada mencatat bahwa ini bukan studi pertama yang menemukan hubungan antara apnea tidur dan kematian dini.
Baca Juga: Sejak Muda Alami Gangguan Tidur Langka, Kisah Purkharam Viral
Dia mencatat bahwa apnea tidur dapat meningkatkan risiko kematian mendadak dalam beberapa cara, termasuk kekurangan pasokan oksigen ke jaringan, fragmentasi tidur, peradangan, dan aktivasi kronis sistem saraf.
Kendzerska, yang tidak terlibat dalam penelitian ini mengatakan bahwa pengobatan apnea tidur mungkin diasumsikan akan mengurangi risiko kematian mendadak.
Berita Terkait
Terpopuler
- Iran Sakit Hati Kapal dan Minyak Miliknya Rp 1,17 triliun Dilelang Indonesia
- 10 Potret Rumah Baru Tasya Farasya yang Mewah, Intip Detail Interiornya
- 4 HP Xiaomi RAM 8 GB Paling Murah, Performa Handal Multitasking Lancar
- 5 Shio yang Diprediksi Beruntung dan Sukses pada 27 Maret 2026
- Panas! Keluarga Bongkar Aib Bunga Zainal, Sebut Istri Sukhdev Singh Pelit hingga Nikah tanpa Wali
Pilihan
-
Mengamuk! Timnas Indonesia Hantam Saint Kitts dan Nevis Empat Gol
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
Terkini
-
2 Anak Harimau Mati karena Panleukopenia, Dokter Hewan: Lebih Mematikan dari Kucing Domestik
-
Transformasi Digital di Rumah Sakit: Bagaimana AI dan Sistem Integrasi Digunakan untuk Pasien
-
Standar Internasional Teruji, JEC Kembali Berjaya di Healthcare Asia Awards
-
Dokter Muda di Cianjur Meninggal Akibat Campak, Kemenkes Lakukan Penyelidikan Epidemiologi
-
Madu Herbal untuk Daya Tahan Tubuh: Kenali Manfaat dan Perannya bagi Kesehatan
-
Kenali Manfaat Injeksi Vitamin C untuk Daya Tahan dan Kesehatan Kulit
-
Sering Sakit Kepala? Ini Ciri-Ciri yang Mengarah ke Tumor Otak
-
Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini
-
Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi
-
Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!