Suara.com - Banyak jenis gangguan jantung yang dapat terjadi, salah satunya adalah ketika jantung berdenyut terlalu pelan dari batas normal. Cara menangani gangguan jantung pun beragam, mulai dari tindakan minimal invasif hingga operasi, salah satunya adalah pemasangan alat pacu jantung.
Mari kenali lebih dalam bagaimana cara kerja alat pacu jantung ini bersama dr. Ignatius Yansen, Sp.JP (K) FIHA, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Aritmia dan Konsultan Kardiologi Intervensi Eka Hospital BSD.
Bagaimana jantung bekerja?
Jantung adalah organ sebesar kepalan tangan yang bertugas sebagai pompa. Selama 24 jam, jantung akan memompa darah ke seluruh organ di tubuh untuk memberikan oksigen dan makanan yang diperlukan oleh tubuh. Jantung adalah organ yang tidak pernah berhenti bekerja sejak usia janin 4 minggu sampai kita menghembuskan nafas terakhir.
Pernahkah Anda membayangkan bagaimana jantung bekerja? Jantung adalah organ yang spesial, karena memiliki instalasi listrik sendiri. Ada sekelompok sel di serambi kanan yang berfungsi sebagai generator yang membuat jantung berdenyut 60-100 kali per menit dalam keadaan istirahat dan rata-rata denyut jantung per hari adalah 100.000 kali dalam 24 jam.
Impuls listrik dari generator ini akan dialirkan melalui jalur-jalur listrik, sehingga seluruh jantung nantinya akan berdenyut secara terkoordinir untuk memompakan darah yang kaya oksigen ke organ-organ di seluruh tubuh.
Kapan alat pacu jantung dibutuhkan?
dr. Yansen memaparkan, dengan bertambahnya usia, maka akan terjadi penurunan kualitas dari generator dan saluran listrik yang bertugas menghantarkan impuls listrik. Hal ini menyebabkan denyut jantung akan semakin pelan, di bawah 60 kali per menit.
Apabila gangguan ini cukup berat maka denyut nadi akan sangat pelan dan jantung tidak mampu memompa darah ke organ-organ vital di tubuh, sehingga akan menimbulkan gejala pada penderitanya seperti cepat lelah, pusing, dan jatuh pingsan. Pada kasus yang lebih berat, keluhan dapat berupa nyeri dada, sesak napas, hingga stroke.
Apabila hal tersebut terjadi maka diperlukan alat bantu yang disebut alat pacu jantung. Alat pacu jantung terdiri dari generator (ditanam di bawah kulit dinding dada) dan lead atau kabel (penghantar listrik dari generator ke jantung), yang membantu jantung pasien kembali berdenyut dengan normal. Proses pemasangan alat pacu jantung ini dikerjakan di ruangan khusus, yaitu ruangan kateterisasi jantung dengan bantuan alat fluoroskopi untuk memastikan lokasi dan penempatan dari generator dan lead.
Tindakan ini merupakan tindakan minimal invasif dan sebagian besar dikerjakan dengan bius lokal di daerah dinding dada sebelah kanan atau kiri.
Lebih lanjut dr Yansen menjelaskan, alat pacu jantung dapat bertahan 8-15 tahun tergantung dari pemakaian. Alat ini berfungsi sebagai cadangan bila denyut jantung terlalu pelan, sedangkan bila denyut jantung dalam keadaaan normal alat ini tidak akan bekerja. Maka dari itu, baterai generator akan lebih cepat habis pada pasien yang bergantung sepenuhnya pada alat ini dan baterai harus diganti.
Walaupun umumnya kelainan ini terjadi pada orang tua, tetapi ada juga kelainan bawaan yang diderita oleh pasien yang lebih muda, sehingga membutuhkan pemasangan alat pacu jantung ini. Dengan demikian, bila ada orang tua Anda yang mengalami keluhan- keluhan di atas, mungkin bisa diperiksakan apakah ada denyut jantung yang pelan dengan meraba nadinya.
Baca Juga: Peduli Pasien Skoliosis, Eka Hospital Kerjasama dengan Indonesia Scoliosis Community
Bila nadinya di bawah 60 atau bahkan lebih rendah mungkin membutuhkan pemasangan alat pacu jantung. Silakan datang untuk konsultasi ke dokter jantung Anda.
Berita Terkait
-
Lebih Akurat, Operasi Tulang Belakang Menggunakan Robot Navigasi Eka Hospital
-
Apa Itu Pengapuran Sendi Lutut? Kenali Gangguan Ini Bersama Dr. Ricky Hutapea
-
Peduli Pasien Skoliosis, Eka Hospital Kerjasama dengan Indonesia Scoliosis Community
-
Mengenal Lebih Jauh tentang Virus Covid-19 Varian Delta
-
Kapan Karyawan Boleh Kerja Usai Positif Covid-19? Eka Hospital: Isoman 13 Hari Sudah Aman
Terpopuler
- 9 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- Semurah Xpander Sekencang Pajero, Huawei-Wuling Rilis SUV Hybrid 'Huajing S'
- 9 HP Redmi RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan, Lancar Jaya Dipakai Multitasking
- 5 Sepatu New Balance yang Diskon 50% di Foot Locker Sambut Akhir Tahun
- 5 Lem Sepatu Kuat Mulai Rp 3 Ribuan: Terbaik untuk Sneakers dan Bahan Kulit
Pilihan
-
4 HP Memori Jumbo Paling Murah dengan RAM 12 GB untuk Gaming Lancar
-
In This Economy: Banyolan Gen Z Hadapi Anomali Biaya Hidup di Sepanjang 2025
-
Ramalan Menkeu Purbaya soal IHSG Tembus 9.000 di Akhir Tahun Gagal Total
-
Tor Monitor! Ini Daftar Saham IPO Paling Gacor di 2025
-
Daftar Saham IPO Paling Boncos di 2025
Terkini
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan
-
Kesehatan Gigi Keluarga, Investasi Kecil dengan Dampak Besar
-
Fakta Super Flu, Dipicu Virus Influenza A H3N2 'Meledak' Jangkit Jutaan Orang
-
Gigi Goyang Saat Dewasa? Waspada! Ini Bukan Sekadar Tanda Biasa, Tapi Peringatan Serius dari Tubuh
-
Bali Menguat sebagai Pusat Wellness Asia, Standar Global Kesehatan Kian Jadi Kebutuhan
-
Susu Creamy Ala Hokkaido Tanpa Drama Perut: Solusi Nikmat buat yang Intoleransi Laktosa
-
Tak Melambat di Usia Lanjut, Rahasia The Siu Siu yang Tetap Aktif dan Bergerak