Suara.com - Kritik tentang pemberian dosis ketiga vaksin COVID-19 di Amerika Serikat terus berdatangan. Kali ini, dari ahli vaksin Foods and Drugs Administration (FDA) Amerika Serikat.
Dr. Paul Offit, pakar penyakit menular di Universitas Pennsylvania dan anggota panel penasihat vaksin di FDA, tidak yakin dengan argumen bahwa dosis penguat sudah diperlukan.
"Pertanyaannya adalah, apa tujuannya? Jika tujuan dosis ketiga adalah untuk meningkatkan perlindungan terhadap penyakit serius, tidak ada bukti bahwa itu menjadi masalah," kata Offit, melansir ANTARA.
Pekan ini, sebuah artikel di jurnal kesehatan Lancet yang ditulis Offit dan ilmuwan senior di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menantang alasan pemberian dosis penguat.
Mereka mengatakan lebih banyak bukti diperlukan untuk membenarkan penggunaan booster secara luas dan bahwa sebagian besar kasus COVID-19 ditularkan oleh mereka yang tidak divaksin.
"Jika tujuannya adalah meningkatkan kadar antibodi penetralisir untuk mengurangi kasus tanpa gejala atau kasus ringan, maka kita harus melihat data itu," katanya lagi.
Meski sekitar 63 persen penduduk yang memenuhi syarat di AS telah divaksin penuh, varian Delta telah memicu lonjakan kasus infeksi yang mematikan di antara mereka yang tidak divaksin.
Dua vaksin yang paling banyak digunakan di AS --vaksin Pfizer dan Moderna-- sangat efektif melawan varian asli namun kurang efektif terhadap Delta.
Kasus infeksi meningkat di antara mereka yang telah divaksin, termasuk beberapa orang yang akhirnya dirawat inap atau meninggal.
Baca Juga: Dukung Vaksinasi Covid-19, Paus Fransiskus: Manusia Bersahabat dengan Vaksin
Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) akan merilis data tentang suntikan penguat jelang pertemuan panel penasihat vaksin.
Data tersebut mencakup informasi tentang dampak booster di Israel, di mana pemerintah di sana telah mempelajari dengan cermat penerima vaksin Pfizer/BioNTech.
Dalam pengarahan mingguan COVID-19 di Gedung Putih, Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) Dr. Rochelle Walensky, Koordinator Tanggap Darurat COVID-19 Gedung Putih Jeffrey Zients dan Fauci telah menyatakan keprihatinan mereka bahwa berkurangnya kekebalan terhadap COVID-19 bergejala ringan dapat mengarah pada menurunnya perlindungan terhadap penyakit parah, rawat inap dan kematian, merujuk pada data dari Israel.
Di sisi lain, Dr Anthony Fauci, pakar penyakit menular kenamaan Amerika Serikat mengatakan data Israel menunjukkan bahwa sejak pemberian booster dimulai, mereka telah melihat penurunan angka reproduksi virus, indikator yang menunjukkan berapa banyak orang lain yang kemungkinan akan terinfeksi COVID-19. Semakin tinggi kekebalan suatu populasi, semakin rendah angka reproduksinya.
Fauci mengaku bingung dengan argumen para ahli vaksin bahwa booster hanya diperlukan ketika vaksin tidak lagi mampu mencegah penyakit parah, rawat inap dan kematian.
"Apa masalah magis dan mistis tentang rawat inap? Saya tidak mengerti itu," kata Fauci.
Berita Terkait
-
Profil Carina Joe, Pahlawan Vaksin Covid-19 Raih Bintang Jasa Utama dari Presiden Prabowo
-
CEK FAKTA: Joe Biden Terserang Kanker Gara-gara Vaksin Covid-19, Benarkah?
-
Seorang Dokter di Inggris Coba Bunuh Pasangan Ibunya dengan Vaksin COVID-19 Palsu!
-
Pesta Seks Selama Pandemi dan Kebohongan Vaksin Covid-19, Dokter di New York Terancam Penjara!
-
Kemenkes Bantah Adanya Detoksifikasi Vaksin Covid-19, Definisinya Beda Jauh
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
Pilihan
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
-
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
-
Profil Beckham Putra, King Etam Perobek Gawang Persija di Stadion GBLA
-
4 HP Snapdragon RAM 8 GB Paling Murah untuk Gaming, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terancam Tembus Rp17.000
Terkini
-
Perawatan Kulit Personal Berbasis Medis, Solusi Praktis di Tengah Rutinitas
-
Implan Gigi Jadi Solusi Modern Atasi Masalah Gigi Hilang, Ini Penjelasan Ahli
-
Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026