Suara.com - Leukemia merupakan jenis kanker yang paling diderita kelompok anak. Jumlahnya mencapai 30-35 persen dari seluruh kanker pada anak.
Hal tersebut juga terlihat berdasarkan data dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) di mana kasus leukemia terus bertambah 167 setiap tahunnya sejak 200-2017.
Dijelaskan Dr. Hikari Ambara Sjakti SpA(K), leukemia merupakan keganasan pada sumsum tulang sebagai pabrik sel-sel darah, sehingga menyebabkan banyak kelainan darah. Kanker ini paling sering ditemukan di usia balita 2-5 tahun.
"Penyebab leukemia adalah kelainan genetik yang tidak bisa dicegah, faktor lingkungan dan lain sebagainya. Karena sel-sel kanker merusak sum-sum tulang sebagai pabrik sel darah, beberapa gejalanya bervariasi," jelas dia dalam webinar Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) bersama RSCM dan Rumah Sakit Kanker Dharmais, belum lama ini.
Beberapa di antaranya, lanjut Dr. Hikari ialah anemia karena kekurangan sel darah merah atau hemoglobin, trombositopenia, yang menyebabkan anak kerap mengalami perdarahan di berbagai tubuh, kelainan peroduksi leukosit (terlalu rendah atau terlalu tinggi), dengan gejala anak mudah infeksi.
Gejala lain leukemia adalah demam hilang timbul, nyeri tulang, pucat, limfa dan hati membesar. Setelah didiagnosis, dipastikan pengobatan leukemia terdiri dari kemoterapi dan radiasi.
"Leukemia bisa sembuh dengan total karena leukemia merupakan salah satu jenis kanker dengan respon pengobatan yang sangat baik," tambah dia.
Meskipun begitu, tetap ada peluang kambuh atau relaps dengan durasi yang cukup bervariasi. Ada yang segera yakni kurang dari 18 bulan setelah menyelesaikan terapi. Sebagian lagi kambuh dalam waktu 18-36 bulan, dan adapula yang lebih dari 3 tahun setelah menyelesaikan pengobatan.
Lokasi kambuhnya leukemia bisa bersifat sistemik atau lokal. Jika kembali tumbuh di sel-sel sum-sum tulang maka disebut sistemik. Namun, sebagian kasus bersifat lokal biasanya sel-sel kanker kembali tumbuh namun di lokasi tertentu seperti otak dan kelenjar testis pada anak laki-laki.
Baca Juga: Cek Sekarang! Ini Ciri Tahi Lalat yang Berpotensi Jadi Kanker Kulit
"Gejala leukemia kambuh secara lokal adalah nyeri kepala yang makin lama main berat, testis membesar dan kejang. Karena itulah, deorang penyintas leukemia anak harus rajin kontrol ke dokter sehingga jika relaps bisa diterapi secepat mungkin," tutup dia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- Misteri Lenyapnya Bocah 4 Tahun di Tulung Madiun: Hanya Sekedip Mata Saat Ibu Mencuci
Pilihan
-
Daftar Starting XI Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia: Dava Yunna Masih Jadi Tumpuan!
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
-
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
Terkini
-
Perempuan Berlari 2026: Integrasi Olahraga, Kesehatan Mental, dan Literasi Keuangan
-
Bukan Sekadar Sekolah, Anak Neurodivergent Butuh Dukungan Menyeluruh untuk Tumbuh
-
Awas Logam Berat! Ini 7 Deretan Risiko Kesehatan Jika Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu
-
Waspada Gejala Awal Serangan Jantung Sering Dikira Diare Biasa
-
Saat Screen Time Tak Bisa Dihindari, Ini Rekomendasi Tontonan Anak yang Aman dan Edukatif
-
Air Jernih Belum Tentu Aman: Inilah 'Musuh Tak Terlihat' yang Memicu Stunting pada Anak
-
Bisa Remisi, Ini Cara Mengendalikan Diabetes Tanpa Bergantung Obat
-
Sering Self-Diagnose? Hentikan Kebiasaan Berbahaya Ini dengan Panduan Cerdas Pilih Produk Kesehatan
-
Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan
-
96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan