Suara.com - Kementerian Kesehatan angkat bicara terkait vaksinasi Covid-19 untuk lansia yang masih jauh dari target yang ditetapkan pemerintah. Apa alasannya?
“Kalau kita lihat, lansia ini sudah mulai di awal bahkan di Maret, sudah kita mulai vaksinasi kepada lansia. Tapi terlihat sepertinya cakupannya belum optimal,” kata Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi, dikutip dari ANTARA.
Nadia mengatakan permasalahan yang terkait dengan penerimaan informasi menyebabkan angka vaksinasi COVID-19 pada penduduk lanjut usia (lansia) menjadi tertinggal sampai saat ini.
Berdasarkan catatan yang dimiliki Kemenkes, para lansia saat ini terbagi menjadi dua kelompok dalam segi penerimaan informasi soal vaksin. Pada kelompok pertama, banyak lansia yang masih banyak terkena hoaks dan menerapkan informasi yang tidak benar tersebut.
Pada lansia yang tergabung dalam kelompok itu, informasi yang diterima menggiring adanya pola pikir yang menimbulkan rasa takut akibat vaksinasi yang akan memberikan efek samping berbahaya pada orang lansia seperti mereka.
Sedangkan pada kelompok kedua, lansia itu belum seutuhnya mengetahui manfaat dari vaksinasi. Di dalam kelompok kedua, Nadia menuturkan bahwa komunitas atau perkumpulan yang diikuti oleh para lansia, seperti pada waktu melakukan pengajian maupun arisan berperan penting untuk saling mengedukasi terkait vaksinasi.
Karena permasalahan tersebut masih mengintai vaksinasi pada lansia, akibatnya hingga saat ini data menunjukkan baru 14 provinsi yang dapat mencapai target yang ditentukan pemerintah yakni sebesar 60 persen.
"Kalau lihat kabupaten/kota, masih banyak lansia yang di kabupaten kotanya itu belum mencapai angka 60 persen. Sementara pada sasaran seluruh umur yang kita tahu target 70 persen di akhir Desember," kata Nadia.
Capaian vaksinasi yang masih tertinggal itu juga diperparah dengan adanya lansia yang cenderung memiliki keyakinan untuk pasrah terhadap nasibnya, jikalau sewaktu-waktu dirinya terkena COVID-19 ataupun meninggal karena memang sudah berumur.
Baca Juga: Kemenkes Sebut 5 Pasien Covid-19 Varian Omicron Belum Dapatkan Vaksin Sama Sekali
Meskipun pemerintah kini terus menjalankan strategi dengan membuka berbagai sentra vaksinasi, memberikan vaksinasi berbasis banjar seperti pada RT RW, melakukan vaksinasi dari rumah ke rumah sampai berkoordinasi dengan tokoh masyarakat seperti kepala desa dan lurah, hal tersebut tak ada artinya bila tidak dibarengi dengan edukasi vaksinasi yang masif dijalankan.
Menurut Nadia, supaya para lansia dapat merasa yakin dan merubah pola fikirnya untuk mengikuti vaksinasi, berbagai kampanye vaksinasi COVID-19 yang didukung serta dilakukan bersama semua pihak dapat memberikan keyakinan bahwa vaksin aman bagi tubuh dan melindungi mereka dari berbagai varian virus yang ada.
Pemberian edukasi sampai pada tingkat desa maupun kelurahan, kata dia, juga harus lebih digalakkan sehingga cakupan vaksinasi dapat berjalan lebih cepat dan semua lansia hidup lebih sehat.
"Kita yakin kalau kemudian melalui kampanye-kampanye itu, secara sistematis kemudian terus menerus mengedukasi mereka sampai saat ini kami yakin mereka pasti akan segera divaksinasi," tegas dia. [ANTARA]
Berita Terkait
-
Kemenkes Rilis Aturan Label Gizi, Minuman Kekinian Kini Punya Rapor dari A Hingga D
-
Produk Makanan Segera Punya Label Gula, Garam, Lemak Level A-D: Dari Sehat hingga Berisiko
-
Baliho 'Aku Harus Mati' Disorot, Kemenkes: Bisa Picu Pikiran Negatif Pada Orang Rentan
-
Kemenkes Nilai Baliho 'Aku Harus Mati' Berisiko di Tengah Lonjakan Kasus Bunuh Diri
-
Kemenkes Dorong Penertiban Iklan Film Aku Harus Mati: Cegah Risiko Peniruan Bunuh Diri
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
Pilihan
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
Terkini
-
Bukan Sekadar Sekolah, Anak Neurodivergent Butuh Dukungan Menyeluruh untuk Tumbuh
-
Awas Logam Berat! Ini 7 Deretan Risiko Kesehatan Jika Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu
-
Waspada Gejala Awal Serangan Jantung Sering Dikira Diare Biasa
-
Saat Screen Time Tak Bisa Dihindari, Ini Rekomendasi Tontonan Anak yang Aman dan Edukatif
-
Air Jernih Belum Tentu Aman: Inilah 'Musuh Tak Terlihat' yang Memicu Stunting pada Anak
-
Bisa Remisi, Ini Cara Mengendalikan Diabetes Tanpa Bergantung Obat
-
Sering Self-Diagnose? Hentikan Kebiasaan Berbahaya Ini dengan Panduan Cerdas Pilih Produk Kesehatan
-
Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan
-
96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan
-
Aktivitas Bermain Menunjang Perkembangan Holistik dan Kreativitas Anak