Suara.com - Sebuah studi baru-baru ini yang diunggah ke server pra-cetak medRxiv menjawab kelompok siapa saja yang berisiko tinggi mengalami infeksi terobosan Covid-19, atau infeksi yang terjadi setelah pasien divaksinasi.
Vaksin Covid-19 memang efektif mengurangi risiko rawat inap dan kematian. Namun, bukan berarti orang yang sudah divaksinasi tidak akan terinfeksi virus corona.
Selain itu, ada beberapa faktor yang membuat seseorang berisiko tinggi terkena infeksi Covid-19 kembali setelah vaksinasi.
Menurut News Medical, penelitian ini menggunakan data 126.586 penduduk Canton of Basel-City, Swiss, yang telah divaksinasi lengkap. Rerata usia pasien adalah 45 tahun.
Peserta studi telah divaksin Pfizer/BioNTech, Moderna, dan Johnson & Johnson.
Riset dilakukan dari 28 Desember 2020 hingga 25 Desember 2021. Selama riset, sebanyak 492 orang mengalami infeksi terobosan, yang sebagian besar adalah perempuan (52,6%).
Riset ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor risiko yang terkait dengan infeksi terobosan SARS-CoV-2 dan tingkat keparahan pada orang yang telah menerima dua dosis vaksin Covid-19.
Peneliti menemukan di antara orang yang mengalami infeksi terobosan, sebanyak 5,3% peserta tidak mengalami gejala dan 91,9% mengalami gejala ringan.
Pasien yang membutuhkan rawat inap sangat sedikit, yakni 2,8% dan umumnya lebih tua daripada yang tidak memerlukan rawat inap.
Baca Juga: Ulang Tahun ke-126, BRI Terus Lakukan Terobosan dalam Berkontribusi bagi Masyarakat
Secara keseluruhan, peneliti menemukan bahwa infeksi terobosan jarang terjadi dan secara umum menunjukkan profil ringan atau tanpa gejala.
Infeksi terobosan terjadi lebih awal setelah vaksin Covid-19 pada hampir 50% kasus dalam waktu 70 hingga 80 hari setelah vaksinasi penuh.
Infeksi terobosan juga umum terjadi pada orang yang divaksinasi dengan vaksin Pfizer, yang memiliki penyakit kronis, atau petugas kesehatan. Individu dengan riwayat Covid-19 sebelum vaksinasi berisiko rendah mengalami infeksi terobosan.
Temuan ini menggrisbawahi pentingnya memulai vaksin booster sedini mungkin untuk populasi yang berisiko tinggi terhadap infeksi terobosan, seperti petugas kesehatan dan penderita penyakit kronis.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil Bekas 50 Jutaan Cocok untuk Milenial, Bodi Stylish Tak Repot Perawatan
- 5 Moisturizer dengan Alpha Arbutin untuk Memudarkan Flek Hitam, Cocok Dipakai Usia 40-an
- 5 Rekomendasi Ban Tubeless Motor Matic, Tidak Licin saat Hujan dan Jalan Berpasir
- 7 Mobil Boros Bahan Bakar Punya Tenaga Kuda, Tetapi Banyak Peminatnya
- Kronologi Lengkap Petugas KAI Diduga Dipecat Gara-Gara Tumbler Penumpang Hilang
Pilihan
-
Dirumorkan Latih Indonesia, Giovanni van Bronckhorst Tak Direstui Orang Tua?
-
Jadi Kebijakan Progresif, Sineas Indonesia Ingatkan Dampak Ekonomi LSF Hapus Kebijakan Sensor Film
-
Daftar Maskapai RI yang Pakai Airbus A320
-
5 Tempat Ngopi Tersembunyi di Palembang yang Bikin Ketagihan Sejak Seduhan Pertama
-
6 HP 5G Paling Murah di Bawah Rp 4 Juta, Investasi Terbaik untuk Gaming dan Streaming
Terkini
-
Waspada! Obesitas Dewasa RI Melonjak, Kenali Bahaya Lemak Perut yang Mengintai Nyawa
-
Kota Paling Bersih dan Sehat di Indonesia? Kemenkes Umumkan Penerimanya Tahun Ini
-
Dari Flu hingga Hidung Tersumbat: Panduan Menenangkan Ibu Baru Saat Bayi Sakit
-
Hasil Penelitian: Nutrisi Tepat Sejak Dini Bisa Pangkas Biaya Rumah Sakit Hingga 4 Kali Lipat
-
Cegah Bau Mulut akibat Celah Gigi Palsu, Ini Penjelasan Studi dan Solusi untuk Pengguna
-
Stop Jilat Bibir! Ini 6 Rahasia Ampuh Atasi Bibir Kering Menurut Dokter
-
Alarm Kesehatan Nasional: 20 Juta Warga RI Hidup dengan Diabetes, Jakarta Bergerak Melawan!
-
Panduan Memilih Yogurt Premium untuk Me-Time Sehat, Nikmat, dan Nggak Bikin Bosan
-
Radang Usus Kronik Meningkat di Indonesia, Mengapa Banyak Pasien Baru Sadar Saat Sudah Parah?
-
Stop Diet Ketat! Ini 3 Rahasia Metabolisme Kuat ala Pakar Kesehatan yang Jarang Diketahui