Suara.com - Wacana mengenai organisasi profesi kedokteran baru sebagai 'IDI tandingan' masih menguat. Terbaru bahkan telah dideklarasikan organisasi Perkumpulan Dokter Seluruh Indonesia (PDSI) yang dianggap sebagai 'IDI tandingan'.
PDSI akan diketuai oleh Brigjen TNI (Purn) dr. Jajang Edi Priyanto, mantan staf khusus Dokter Terawan Agus Putranto saat masih menjabat Menteri Kesehatan.
Ia menyatakan pendirian PDSI sudah mengantongi SK Kemenkumham dengan nomor AHU-003638.AH.01.07.2022 tentang Pengesahan Pendirian Perkumpulan Dokter Seluruh Indonesia.
Terkait isu 'IDI tandingan' tersebut, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dr. Adib Khumaidi, Sp.OT., menegaskan bahwa organisasi profesi kedokteran bukan sekadar perkumpulan para dokter.
Dilihat dari sejarahnya, PB IDI dibuat karena adanya kebutuhan kesehatan bagi masyarakat, bukan karena kepentingan pribadi dokter.
"Sebetulnya IDI terlahir memang untuk rakyat Indonesia, bukan sekumpulan para dokter yang berkumpul saja. Ini yang perlu dipahami," kata dr. Adib dalam sesi wawancara bersama suara.com di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Sehingga, walaupun muncul wacana mengenai 'IDI tandingan' dianggap tidak akan menganggu program kerja dari PB IDI. Jargon IDI Reborn yang digaungkan pengurus PB IDI periode 2022-2025 juga menjadi penguat bahwa kehadirannya sebagai kepentingan untuk masyarakat, kata dokter Adib.
"Jadi proses berdirinya Ikatan Dokter Indonesia bukan sesuatu yang biasa. Ada suatu proses yang juga ikut di dalam kemerdekaan Negara Indonesia. Dari mulai Perhimpunan Dokter Belanda, Perhimpunan Dokter Pribumi kemudian bergabung menjadi Ikatan Dokter Indonesia pada September 1950 yang kemudian dikukuhkan Oktober 1950. Di setiap tahapan itu ada orang-orang yang sangat berjasa dalam perkembangan kedokteran dan kesehatan masyarakat," paparnya.
Oleh sebab itu, untuk mengembalikan kepercayaan publik, lanjut dokter Adib, setiap anggota PB IDI perlu mengingat kembali tujuan organisasi tersebut untuk kepentingan masyarakat.
Ia mengingatkan agar gangguan apa pun di PB IDI, baik secara internal maupun eksternal, tidak mencederai secara organisasi.
"Saya mengenalkan bahwa kalau kita bicara ada tikus yang di lumbung, bukan berarti lumbung yang dibakar, tapi tikusnya kita cari, ini yang harus kita perbaiki. Ke depan kita ingin menempatkan transparansi akan kita lakukan hotline 24 jam akan dibuka agar masyarakat bisa berikan masukan terkait pelayanan dokter," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- Sunscreen Apa yang Bikin Glowing? Ini 7 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
Pilihan
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
-
Prabowo: Hukum Tak Boleh Dipakai untuk Balas Dendam Politik
Terkini
-
Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak
-
Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini
-
Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes
-
Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol
-
Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu
-
Jadi Oma Baru, Maia Estianty Cerita Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi agar Kuat
-
Jangan Anggap Sepele Gigi Berlubang, Ternyata Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak
-
Hidrasi Bukan Sekadar Hilangkan Haus, Ini Manfaatnya bagi Kesehatan Tubuh
-
Hanya 4,9 Persen Pasien Berisiko Kardiovaskular Tinggi di Indonesia Capai Target LDL-C
-
Dari Kecelakaan Kerja hingga Cedera Kepala, MRI 1.5 Tesla Jadi Senjata Baru Penanganan Trauma