Suara.com - Satgas Covid-19 menyebut mobilitas masyarakat yang meningkat jelang Hari Lebaran memang bisa meningkatkan risiko penyebaran Covid-19.
Itulah mengapa vaksin booster alias vaksin dosis ketiga menjadi syarat mudik yang wajib dilakukan masyarakat. Sebab dengan semakin besarnya cakupan vaksinasi, tingkat kekebalan komunitas (herd immunity) pun semakin tinggi.
"Secara umum, capaian vaksinasi nasional sudah cukup baik, meskipun pemerataan cakupan vaksin ini masih harus terus ditingkatkan. Ditambah pula, kita masih perlu meningkatkan capaian vaksinasi booster," kata Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Prof. Wiku Adisasmito, dikutip dari situs resmi Satgas Covid-19.
Wiku mengatakan dengan meratanya kekebalan komunitas di daerah, maka semakin optimal kekebalan komunitas secara nasional. Sehingga meminimalisir potensi penularan akibat masyarakat yang berpergian antar wilayah.
Berdasarkan data capaian nasional, sayangnya ada beberapa daerah dengan cakupan vaksin dosis lengkapnya belum mencapai target 70 persen.
Bila merujuk hasil survei online ketiga dari Kementerian Perhubungan tentang Potensi Pergerakan Orang Selama Angkutan Lebaran menyatakan ada 5 provinsi di Pulau Jawa yang menjadi tujuan mudik terbanyak hingga 75% dari total pemudik.
Sementara data Kementerian Kesehatan menyebutkan, pada kelima provinsi tersebut cakupan vaksin dosis lengkapnya berkisar antara 78 - 100%. Namun, pada cakupan vaksinasi booster-nya masih harus terus ditingkatkan karena baru 2 dari 5 provinsi yang mencapai target 30%.
Jika dirincikan lagi dari 5 provinsi tersebut, rata-rata cakupan dosis lengkap kelompok rentan untuk golongan warga lansia adalah 79 persen dan dosis booster 27,2 persen. Untuk anak (12 - 17 tahun) rata-rata cakupan dosis lengkap adalah 90,4% dan dosis booster masih 2,5%.
"Belum meratanya cakupan vaksin dosis lengkap serta capaian booster yang masih perlu ditingkatkan tentunya perlu untuk menjadi kewaspadaan kita bersama," ingat Wiku.
Baca Juga: Pandemi Belum Berakhir, Satgas COVID-19 Tegaskan Salat Ied Tahun Ini Tetap Pakai Masker
Adapun pada kelimanya dapat terlihat perbandingannya, secara berurutan dari tujuan terbanyak di Jawa Tengah mencapai 27,5% atau 23.5 juta pemudik dengan cakupan vaksin booster 17,5%. Diikuti, Jawa Timur mencapai 19,6% atau 16.8 juta pemudik, dengan cakupan vaksin booster 14,2%, Jawa Barat (non Jabodetabek) 17,2% atau 14.7 juta pemudik dengan cakupan booster 32,3%, wilayah Jabodetabek 7% atau 5.9 juta pemudik, dengan cakupan vaksin booster 32,2 persen, serta DI Yogyakarta 4,6% atau 3.9 juta pemudikbdengan cakupan booster 29,1 persen.
Pada sisi lain, provinsi-provinsi yang tidak menjadi tujuan mudik tetap harus meningkatkan cakupan vaksinasinya. Sebab nyatanya masih ada provinsi yang belum mencapai target 70% vaksinasi dosis lengkap. Terlebih pula, apabila penduduknya menjadi pemudik ke daerah lainnya. Meskipun provinsi-provinsi ini juga menjadi tujuan mudik meskipun dalam jumlah kecil.
Hal ini harus menjadi perhatian pada 5 provinsi dengan capaian vaksin dosis lengkap terendah. Yaitu, Papua cakupan dosis lengkap sebesar 24,6%, Papua Barat cakupan dosis lengkap 44,1%, Maluku cakupan dosis lengkap 44,6%, Sulawesi Barat 52,5% dan Maluku Utara 51,5%.
Dan penting diketahui, dengan kekebalan komunitas dari vaksin dapat melindungi wilayah lainnya. Sebab, semakin tinggi kekebalan komunitas di suatu wilayah, maka semakin kecil potensi penularan di wilayah tersebut. Sehingga, potensi penularan dari masyarakat yang menetap pada wilayah tersebut dan bepergian ke wilayah lain, akan semakin kecil pula.
"Dengan demikian, semakin merata kekebalan komunitas pasca vaksinasi pada seluruh provinsi, maka akan semakin optimal pula kekebalan komunitas pada tingkat nasional," pungkas Wiku.
Berita Terkait
-
RSDC Wisma Atlet Kemayoran Resmi Ditutup Hari Ini, Nakes dan Relawan Purna Tugas
-
Satgas Covid-19: Subvarian XBB Merebak, Prokes Liburan Akhir Tahun Harus Diperketat
-
Pandemi Covid-19 Terkendali, PB IDI Wanti-wanti Masyarakat: Jangan Terlalu Euforia
-
Satgas Covid-19: Lebih dari 61 Juta Jiwa Sudah Terima Vaksin Dosis Ketiga
-
Positivity Rate di Indonesia Naik, Kok Kepatuhan Melakukan Protokol Kesehatan Malah Turun?
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 5 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp200 Ribuan
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien