Suara.com - Para peneliti di Oxford dan Edinburgh, Inggris, sedang menguji obat suntik adalimumab (biasanya untuk rheumatoid arthritis) terhadap penyakit Kontraktur Dupuytren.
Kontraktur Dupuytren merupakan kelainan bentuk jari, di mana jari (umumnya di jari manis dan kelingking) seolah ke dalam. Kondisi ini termasuk gangguan inflamasi lokal yang tumbuh ketika sel-sel kekebalan di tangan mendorong produksi jaringan parut fibrotik.
Jaringan akan menciptakan benjolan di telapak tangan. Terkadang penyakit berhenti, tetapi bis juga membentuk tali kuat hingga jari benar-benar menekuk ke dalam.
Namun, dalam uji klinis ini, para peneliti melihat nampaknya obat rheumatoid arthritis dapat memperbaiki kondisi kontraktur Dupuytren jika digunakan sejak dini.
"Ini adalah obat yang sangat aman dan penting bagi pasien untuk dapat mengakses pengobatan jika itu mungkin efektif," kata ahli bedah Jagdeep Nanchahal dari Institut Rheumatologi Kennedy di Oxford.
Karenanya, peneliti mengatakan obat tersebuut bisa menjadi 'pengubah keadaan'.
Dilansir The Guardian, kontraktur Dupuytren sebagian besar bersifat genetik dan lebih sering terjadi pada orang dengan keturunan Eropa utara.
Penyebab pastinya belum diketahui, tetapi ada beberapa faktor risiko yang dicurigai, seperti penggunaan alkohol dan tembakau, diabetes, usia, dan jenis kelamin.
Pria 8 kali lebih mungkin mengalami kontraktur Dupuytren daripada wanita. Di negara-negara barat, prevalensi meningkat sekitar 12% menjadi 29% di antara kelompok usia 55 hingga 75 tahun.
Baca Juga: Ledakan Petasan di Madura Akibatkan Jari Pemuda Putus
"Masalah bagi pasien dengan jari terteuk adalah mengganggu kehidupan sehari-hari seperti mengemudi," sambung Nanchahal.
Kurangnya pengobatan yang efektif pada tahap awal membuat pasien harus menunggu sampai jari mereka tertekuk untuk memenuhi syarat operasi.
Meskipun jaringan dapat dipotong, ada risiko kerusakan saraf dan tendon. Penyakit ini juga kambuh pada sekitar seperlima pasien dalam waktu lima tahun.
Pilihan lainnya adalah melubangi telapak tangan menggunakan jarum dan memotong jaringan yang 'menarik'. Namun, jaringan ini biasanya tumbuh kembali.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
Terkini
-
Waspada Gejala Awal Serangan Jantung Sering Dikira Diare Biasa
-
Saat Screen Time Tak Bisa Dihindari, Ini Rekomendasi Tontonan Anak yang Aman dan Edukatif
-
Air Jernih Belum Tentu Aman: Inilah 'Musuh Tak Terlihat' yang Memicu Stunting pada Anak
-
Bisa Remisi, Ini Cara Mengendalikan Diabetes Tanpa Bergantung Obat
-
Sering Self-Diagnose? Hentikan Kebiasaan Berbahaya Ini dengan Panduan Cerdas Pilih Produk Kesehatan
-
Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan
-
96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan
-
Aktivitas Bermain Menunjang Perkembangan Holistik dan Kreativitas Anak
-
Dipicu Kebutuhan Tampil Percaya Diri, Kesadaran Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Naik Saat Ramadan
-
Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari