Suara.com - Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM Amerika Serikat, yakni FDA batasi penggunaan vaksin Johnson and Johnson atau vaksin Janssen terkait dengan pembekuan darah langka.
Melalui website resminya, pada 5 Mei 2022 FDA merilis pemberitahuan terkait vakin Janssen yang berisiko sebabkan sindrom trombositopenia (TTS), atau sindrom pembekuan darah langka, yang berpotensi kematian.
Menurut FDA, dugaan pembekuan darah karena vaksin Janssen ini, terjadi satu hingga dua minggu setelah pemberian vaksin Janssen untuk Covid-19.
Meski ada temuan ini, FDA tetap meyakini manfaat vaksin Janssen jauh lebih besar untuk mencegah Covid-19, dibanding potensi risiko pembekuan darah yang terjadi.
Inilah sebabnya, FDA hanya akan menggunakan vaksin Janssen pada kondisi tertentu yang tidak berisiko sebabkan pembekuan darah, seperti penerima vaksin 18 tahun ke atas tanpa penyakit komorbid tertentu.
“Kami menyadari bahwa vaksin Janssen COVID-19 masih berperan dalam respons pandemi saat ini di Amerika Serikat dan di seluruh komunitas global. Tindakan kami mencerminkan analisis terbaru kami tentang risiko TTS setelah pemberian vaksin ini dan membatasi penggunaan vaksin untuk individu tertentu,” kata Direktur Pusat Evaluasi dan Penelitian Biologi FDA, Peter Marks, MD, Ph.D dikutip suara.com, Selasa (10/5/2022).
Kini, FDA juga sudah mengubah rekomendasi pemberian vaksin Covid-19, termasuk penggunaan vaksin Janssen untuk golongan tertentu.
Sementara itu, kronologi temuan pembekuan darah langka didapatkan FDA dan CDC melalui laporan 6 kasus TTS pada 13 April 2021 lalu.
Selanjutnya, 23 April 2021 dilakukan evaluasi keamanan menyeluruh, dan ditemukan total 15 kasus TTS. Termasuk 6 kasus pertama dari pemberian 8 juta dosis ke masyarakat.
Baca Juga: Peneliti Temukan Alasan Vaksin Covid-19 AstraZeneca Menyebabkan Efek Samping Pembekuan Darah Langka
Namun karena risikonya lebih rendah dibanding manfaatnya, maka FDA tetap memberikan vaksin Janssen, tapi dengan batasan dan kriteria tertentu.
"Kami telah memantau dengan cermat Vaksin Janssen Covid-19 dan kemunculan TTS setelah pemberiannya dan telah menggunakan informasi terbaru dari sistem pengawasan keamanan kami untuk merevisi EUA," tutup Marks.
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
Terkini
-
Bukan Sekadar Kenyang, Ahli Gizi Ingatkan Pentingnya Nutrisi Seimbang untuk Menjaga Kualitas Hidup
-
Waspada! Ini Tanda Kelebihan Vitamin B6, dari Kesemutan hingga Kerusakan Saraf
-
Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining
-
Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem
-
Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian