Suara.com - Penyakit keturunan talasemia yang terjadi sejak lahir mengakibatkan pengidapnya perlu menjalani transfusi darah setiap dua pekan.
Talasemia merupakan kelainan darah yang terjadi akibat protein dalam sel darah merah tidak berfungsi normal. Akibatnya, pengidap talasemia tidak bisa memproduksi sel darah merah yang cukup untuk dirinya sendiri.
Guru besar Departemen Kesehatan Anak FKUI-RSCM Prof. dr. Pustika Amalia Sp.A. menjelaskan bahwa pengobatan talasemia harus dilakukan dengan transfusi darah dan konsumsi obat penurun zat besi secara rutin. Perawatan tersebut membutuhkan biaya besar, hingga Rp 400 juta setahun per satu pasien.
"Mahalnya, nomor satu itu karena kantong darah, di kita Rp 600-700 ribu per kantong. Minimal harus dua kantong. Kemudian obat-obatan untuk mengeluarkan zat besi, karena mereka kelebihan zat besi. Itu juga lumayan," kata Prof. Pustika dalam webinar Hari Talademia Sedunia, Minggu (15/5/2022).
Biaya bisa agak lebih murah karena saat ini telah ada obat penurun zat besi buatan lokal. Menurut Prof. Pustika, hal itu sangat meringankan beban biaya bagi pasien talasemia.
Obat tersebut penting lantaran aktivitas transfusi darah yang diperlukan sebenarnya juga berdampak meningkatkan kadar zat besi dalam darah pada pasien. Apabila kelebihan zat besi tidak dikeluarkan, pasien berisiko alami komplikasi penyakit.
"Kalau mengalami komplikasi kelebihan zat besi di jantung, itu penyebab kematian utama. Belum lagi nanti kelebihan zat besi di hati, terjadi gangguan hati, pendarahan segala rupa. Dan skrining darah itu tidak 100 persen akan gratis. Untuk Hepatitis B, Hepatitis C, dan banyak di antara mereka juga jadi tertular," ujarnya.
Sehingga, pengeluaran Rp 400 juta per tahun itu sebenarnya belum mencakup seluruh biaya pengobatan yang diperlukan. Terutama apabila pasien talasemia mengalami komplikasi akibat kerusakan pada organ tertentu.
Tak heran, talasemia menjadi lima besar dalam penggunaan anggaran BPJS kesehatan hingga saat ini. Untuk itu, Prof. Pustika menekankan pentingnya pemerintah lebih agresif dalam melakukan tindakan pencegahan kelahiran talasemia mayor dengan gencar lakukan skrining.
Baca Juga: Sama-sama Alami Kurang Darah, Ini Beda Talasemia dengan Anemia
"Satu anak dirawat dengan 400 juta setahun, itu tanpa komplikasi. Kalau dana di lab swasta itu bisa untuk seribu orang skrining. Walaupun hasilnya tidak secepat seperti membalikan tangan, tapi kalau tidak kita mulai, itu tidak akan terjadi," ujarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
Pilihan
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
-
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
-
Profil Beckham Putra, King Etam Perobek Gawang Persija di Stadion GBLA
-
4 HP Snapdragon RAM 8 GB Paling Murah untuk Gaming, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terancam Tembus Rp17.000
Terkini
-
Perawatan Kulit Personal Berbasis Medis, Solusi Praktis di Tengah Rutinitas
-
Implan Gigi Jadi Solusi Modern Atasi Masalah Gigi Hilang, Ini Penjelasan Ahli
-
Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026