Suara.com - Masyarkat di seluruh dunia belakangan tengah khawatir dengan penyebaran cacar monyet yang telah ditemukan di lebih 70 negara. Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia telah menetapkan cacar monyet sebagai darurat kesehatan global.
Dalam sebuah pernyatannya, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus sempat menyebut bahwa kelompok gay atau homoseksual menjadi salah satu yang rentan terinfeksi cacar monyet. Lantas mengapa demikian.
Dalam media interview, Jumat, (5/9/2022), Ketua Satgas Monkeypox PB IDI, dr Hanny Nilasari, SpKK mengungkapkan bahwa menurut sebuah studi cacar monyet memang banyak ditemukan pada kelompok gay atau lelaki seks dengan lelaki (LSL).
Meski demikian, Hanny menegaskan bahwa cacar monyet secara teori bukanlah infeksi menular seksual. Ia mengatakan bahwa cacar monyet merupakan penyakit yang ditularkan melalui kontak dekat atau kulit ke kulit yang intens.
"Tapi karena kontak yang intens antara kulit dengan kulit ataupun antara mukosa dengan mukosa, sehingga komunitas ini atau kelompok ini banyak mengalami kondisi infeksi monkeypox," kata dia (5/8/2022).
"Kalau terkait dengan risiko lebih tinggi tentunya, iya. Karena kontak intens antara mukosa dengan mukosa pada kelompok ini lebih tinggi," ujar dia menambahkan.
Lebih dari 16.000 kasus cacar monyet telah dilaporkan di lebih dari 70 negara sepanjang tahun 2022.
Jumlah infeksi cacar monyet pun naik 77 persen dari akhir Juni hingga awal Juli 2022. Pria yang berhubungan seks dengan pria atau lelaki gay pun paling berisiko tinggi terkena infeksi cacar monyet.
Pakar utama WHO tentang monkeypox, Dr. Rosamund Lewis, mengatakan 99 persen kasus yang dilaporkan di luar Afrika terjadi di antara pria dan 98 persen infeksi cacar monyet terjadi di antara pria yang berhubungan seks dengan pria, terutama mereka yang memiliki banyak pasangan.
Meski begitu, WHO dan CDC telah menekankan bahwa siapa pun dapat terkena cacar monyet terlepas dari orientasi seksualnya. Walaupun penularannya juga masih rendah.
WHO dan CDC telah berulang kali memperingatkan agar tidak menstigmatisasi pria gay dan biseksual terkait penyakit cacar monyet ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
- 25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
Pilihan
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
Terkini
-
4R Pemulihan yang Wajib Dilakukan Setelah Olahraga, Rahasia Atlet Elite Kembali Prima
-
Jangan Terkecoh Label Inklusif, Ini 5 Cara Memilih Lingkungan Belajar yang Tepat untuk Anak
-
Mendorong Anak Down Syndrome Tumbuh Mandiri Lewat Terapi dan Pelatihan
-
Bukan Sekadar Ambil Rapor, Kehadiran Ayah Ternyata Jadi Bekal Penting Anak Menyambut Sekolah
-
Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress
-
Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama
-
Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia
-
Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak
-
Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini
-
Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes