Suara.com - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan kasus ginjal gagal ginjal akut misterius pada anak menurun drastis, setelah obat sirup setop diresepkan dan diperjualbelikan sementara.
"Sejak kita berhentikan, itu sudah kita amati penurunan yang drastis dari pasien baru yang masuk ke RS," ujar Menkes Budi di Istana Bogor, Senin, 24 Oktober 2022.
Meskipun diketahui belakangan Kementerian Kesehatan sudah merilis daftar 165 obat sirup yang dinyatakan aman, dan boleh diresepkan kembali sesuai aturan pakai.
Gagal ginjal akut adalah kondisi ketika ginjal tidak mampu membuang zat beracun dan cairan berlebih serta menyeimbangkan air dan elektrolit dengan optimal. Umumnya, ginjal menyaring kotoran dalam tubuh dan membuangnya melalui urin atau air kencing.
Bukti penurunan ini terlihat di jumlah pasien masuk di rumah sakit yang memerlukan tempat tidur ICU. Menurut Menkes Budi, pasien baru per hari yang biasanya mencapai puluhan pasien, menurun jadi di bawah 10 pasien per hari.
"Sesudah larangan itu dikeluarkan itu turun drastis, dari puluhan ke angka di bawah 10 dan sudah dua hari ini kita belum ada," papar Menkes Budi.
Adapun pasien anak gagal ginjal akut yang datang ke rumah sakit beberapa hari lalu, gejalanya sudah terjadi selama 5 hari kebelakang sebelum larangan konsumsi obat sirup dikeluarkan.
"Jadi kalau tadinya RSCM penuh satu tempat tidur ICU anak bisa diisi 2 atau 3 pasien, sekarang penambahan barunya, sejak kita larang itu turun drastis pasien barunya," lanjut Menkes Budi.
Sementara itu per 24 Oktober 2022, Kemenkes menemukan 255 kasus gagal ginjal akut pada anak di 26 provinsi Indonesia.
Baca Juga: Kasus Gangguan Ginjal Akut Misterius, GP Farmasi Minta Perusahaan Obat Lakukan Pengujian Mandiri
Dengan 143 anak di antaranya meninggal dunia sehingga angka kematian 56 persen.
Berita Terkait
-
Meski ASN WFA, Menkes Pastikan RS Pemerintah Tetap Buka 24 Jam Selama Libur Nyepi dan Lebaran 2026
-
Iuran BPJS Naik Tahun Ini, Menkes: Warga Kurang Mampu Tetap Ditanggung Pemerintah
-
Kemenkes Reformasi Skema PPDS, Utamakan Putra Daerah untuk Atasi Krisis Dokter Spesialis
-
Menkes Akui Pendidikan Dokter Spesialis di Indonesia Super Mahal, Sebut di Luar Negeri Justru Digaji
-
Kasta Takjil Buka Puasa Versi Menkes, Es Buah dan Gorengan Masuk Kategori Ini
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
Terkini
-
Aktivitas Bermain Menunjang Perkembangan Holistik dan Kreativitas Anak
-
Dipicu Kebutuhan Tampil Percaya Diri, Kesadaran Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Naik Saat Ramadan
-
Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari
-
Tes Genetik Makin Terjangkau, Indonesia Targetkan 200 Ribu Sequencing DNA untuk Deteksi Penyakit
-
Kenali Ragam Penyakit Ginjal dan Pilihan Pengobatan Terbaiknya
-
Solusi Membasmi Polusi Kekinian ala Panasonic
-
Gaya Hidup Modern Picu Asam Urat, Ini Solusi Alami yang Mulai Direkomendasikan
-
Memahami Autisme dari Dekat: Kenapa Dukungan Lingkungan Itu Penting untuk Anak ASD
-
17.500 Paket Gizi untuk Masa Depan: Langkah Konkret Melawan Stunting di Bekasi
-
Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran