Suara.com - Anak-anak, terutama yang masih balita, rupanya memang perlu bermain di luar rumah. Meski terlihat sekadar hanya main-main di luar dengan berpanas-panasan, namun aktivitas itu nyatanya sangat berguna untuk perkembangan tumbuh kembang anak.
Salah satunya tumbuh kembang motorik anak yang pasti terstimulus karena mereka aktif bergerak. Tetapi, sebenarnya ada banyak stimulus lain yang didapat oleh anak.
"Manfaatnya bukan cuma aspek motorik aja, tapi semua bisa berdampak positif. Pertama kesehatan, jadi main di luar ruangan kena sinar matahari bisa berdampak terhadap kesehatan tulang, stamina baik dan menjaga regulasi jam tubuh. Jadi anak yang main di luar ruangan itu pila tidurnya lebih baik dan bisa lebih mudah diajak tidur saat malam," jelas Psikolog Orissa Anggita Rinjani dalam konferensi pers Hari Anak Nasional nersama Dancow di RPTRA Jakarta Timur, Jumat (21/7/2023).
Main di luar ruangan juga mencegah anak terkena rabun jauh karena jarang bermain dengan gawai. Sedangkan ketika bermain di ruang terbuka, jarak pandang anak bisa lebih jauh.
Aspek lain juga, lanjut Orissa, anak bisa terasah aspek kognitifnya atau daya pikir. Hal itu terjadi ketika anak memainkan alat permainan seperti perosotan, ayunan, hingga terowongan.
"Anak secara gak langsung belajar gimana cara main, gimana biar gak jatuh. Itu mengasah motorik kasar juga untuk pemecah masalah, dampaknya ke proses belajar," imbuhnya.
Idealnya, anak balita sebaiknya main di luar ruangan selama dua jam per hari dengan didampingi orang tua. Tetapi, menyadari kesibukan orang tua maupun kegiatan anak di sekolah, paling tidak ajak anak berjalan-jalan 30 menit setiap pagi dan sore.
Orang tua juga perlu mendampingi anak, tetapi bukan berarti terlalu protektif menjaganya. Sebab, kata Orissa, terlalu protektif juga bisa menghambat tumbuh kembang anak. Sedangkan, apabila anak masih takut dengan teman-teman baru, orang tua bisa mendampingi dan membantunya untuk berkenalan.
"Kita bisa jaga jarak, gak harus ditungguin. Misalnya anak main panjat-panjat, cukup kasih jarak bilang 'mama lihat dari sini kamu main aja'. Karena kalau anak main takut jatuh orang tua malah gendong dan langsung dinaikan ke atas, itu justru mencegah anak belajar cara mencegah masalah. Tentu memang harus disesuaikan usianya," tuturnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dari Koruptor Kembali ke Rakyat: Aset Rp16,39 Miliar Kini Disulap Jadi Sekolah hingga Taman di Jabar
- Teman Sentil Taqy Malik Ambil Untung Besar dari Wakaf Alquran di Tanah Suci: Jangan Serakah!
- HP Bagus Minimal RAM Berapa? Ini 4 Rekomendasi di Kelas Entry Level
- Simulasi TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Bangun Ruang dan Statistika
- Link Download 40 Poster Ramadhan 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Edit
Pilihan
-
Jangan ke Petak Sembilan Dulu, 7 Spot Perayaan Imlek di Jakarta Lebih Meriah & Anti Mainstream
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
Terkini
-
Bahaya Pencemaran Sungai Cisadane, Peneliti BRIN Ungkap Risiko Kanker
-
Ruam Popok Bukan Sekadar Kemerahan, Cara Jaga Kenyamanan Bayi Sejak Hari Pertama
-
Tak Hanya Indonesia, Nyamuk Wolbachia Cegah DBD juga Diterapkan di Negara ASEAN
-
Dokter Ungkap Pentingnya Urea Breath Test untuk Cegah Kanker Lambung
-
Self-Care Berkelas: Indonesia Punya Layanan Kesehatan Kelas Dunia yang Nyaman dan Personal
-
Lupakan Diet Ketat: Ini 6 Pilar Nutrisi Masa Depan yang Bikin Sehat Fisik dan Mental di 2026
-
Waspadai Jantung dan Stroke Tak Bergejala, Teknologi Presisi Jadi Kunci Penanganan Cepat
-
Waspadai Jantung dan Stroke Tak Bergejala, Teknologi Presisi Jadi Kunci Penanganan Cepat
-
Rahasia Puasa Tetap Kenyang Lebih Lama Tanpa Loyo, Ini Pendamping Sahur yang Tepat
-
Lantai Licin di Rumah, Ancaman Diam-Diam bagi Keselamatan Anak