Tes EGFR: Menentukan Terapi yang Lebih Tepat untuk Pasien Kanker Paru
Kanker paru secara umum terbagi menjadi dua tipe utama, yaitu Non-Small Cell Lung Cancer (NSCLC) dan Small Cell Lung Cancer (SCLC).
NSCLC merupakan jenis yang paling umum, mencakup sekitar 85% dari seluruh kasus kanker paru, dan terdiri dari beberapa subtipe seperti adenokarsinoma, karsinoma sel skuamosa, dan karsinoma sel besar.
Sementara itu, SCLC mencakup sekitar 10–15% kasus, dikenal lebih agresif karena pertumbuhannya yang cepat dan sering dikaitkan dengan kebiasaan merokok. Sisanya merupakan tumor paru lain yang langka ditemukan.
Dr. Jamal menjelaskan, “Jika hasil skrining menunjukkan indikasi kanker, pasien akan disarankan menjalani biopsi untuk memastikan keganasan dan jenis kankernya. Jika teridentifikasi sebagai NSCLC adenokarsinoma, maka tes biomolekuler seperti
EGFR sangat dianjurkan untuk menentukan terapi yang paling efektif.”
Organisasi internasional seperti National Comprehensive Cancer Network (NCCN) dan European Society for Medical Oncology (ESMO) merekomendasikan tes EGFR pada seluruh pasien NSCLC khususnya prevalensi mutasi EGFR di Asia, termasuk Indonesia, tergolong tinggi.
Meta-analisis dari 57 studi mencatat prevalensi mutasi EGFR sebesar 49,1% pada pasien NSCLC stadium lanjut di Asia—jauh lebih tinggi dibandingkan Eropa (12,8%).
Jika hasil tes EGFR positif, terapi target menjadi pilihan pengobatan yang efektif. Pilihan terapi target EGFR terdiri dari generasi pertama, seperti gefitinib dan erlotinib, generasi kedua, seperti afatinib dan dacomitinib, serta generasi ketiga, seperti osimertinib.
Obat generasi ketiga seperti osimertinib dirancang untuk menghambat mutasi EGFR, termasuk mutasi resistensi T790M, dan efektif menembus sawar darah otak, serta dengan efek samping yang relatif lebih ringan dibandingkan kemoterapi konvensional
Baca Juga: Kanker Payudara Masih Mengintai: Deteksi Dini dan Kolaborasi Terpadu Jadi Harapan Baru
Berita Terkait
Terpopuler
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- Kehabisan Uang Usai Mudik di Jogja, Ratusan Perantau Berburu Program Balik Kerja Gratis
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
- Mobil Alphard Termurah, 100 Jutaan Dapat Tahun Berapa?
Pilihan
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
-
Puncak Arus Balik! 50 Ribu Orang Padati Jakarta, KAI Daop 1 Tebar Diskon Tiket 20 Persen
-
Arus Balik, Penumpang Asal Jawa Tengah Hingga Sumatera Masih Padati Terminal Bus Kalideres
-
Ogah Terjebak Kemacetan di Pantura, Ratusan Pemudik Motor Pilih Tidur di Kapal Perang TNI AL
-
Sempat Dikira Tidur, Pria di Depan Gedung HNSI Juanda Ternyata Sudah Tak Bernyawa
Terkini
-
Madu Herbal untuk Daya Tahan Tubuh: Kenali Manfaat dan Perannya bagi Kesehatan
-
Kenali Manfaat Injeksi Vitamin C untuk Daya Tahan dan Kesehatan Kulit
-
Sering Sakit Kepala? Ini Ciri-Ciri yang Mengarah ke Tumor Otak
-
Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini
-
Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi
-
Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!
-
Ancaman Senyap di Rumah: Mengapa Kualitas Udara Buruk Sebabkan Bronkopneumonia pada Anak?
-
Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung
-
Jangan Abaikan Kesehatan Saat Mudik, Ini Tips Agar Perjalanan Tetap Nyaman
-
Pelangi di Mars Tayang Jelang Lebaran, Film Anak yang Ajarkan Berani Bermimpi