- Staf Khusus Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi, Redy Hendra, menegaskan bahwa dirinya tidak merasa khawatir anaknya menerima MBG di sekolah
- Menurutnya, distribusi MBG di sekolah tersebut berjalan baik dan tidak menimbulkan masalah kesehatan
- Redy menegaskan ia tetap percaya pada sistem pengawasan dan perbaikan yang sedang dilakukan BGN
Suara.com - Di tengah sorotan publik terhadap sejumlah kasus keracunan yang diduga terkait Makanan Bergizi Gratis (MBG), Staf Khusus Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi, Redy Hendra, menegaskan bahwa dirinya tidak merasa khawatir anaknya menerima MBG di sekolah.
Redy mengungkapkan, bahwa anak pertamanya telah menerima MBG selama hampir empat bulan di sekolah berasrama.
Menurutnya, distribusi MBG di sekolah tersebut berjalan baik dan tidak menimbulkan masalah kesehatan.
"Anak saya yang pertama sudah menerima MBG di sekolah, mungkin sudah hampir sekitar 4 bulanan, kebetulan dia boarding school. Di boarding school-nya itu menerima MBG yang diadakan oleh Yayasannya," kata Redy dalam konferensi pers virtual bersama MBG Watch, Senin (17/11/2025).
Sementara itu, dua anak Redy lainnya belum mendapatkan MBG. Ia menjelaskan, fasilitas penyedia pangan gizi (SPPG) terdekat yang melayani sekolah kedua anaknya masih dalam tahap persiapan operasional.
Terkait kekhawatiran atas maraknya laporan keracunan anak penerima MBG di berbagai daerah, Redy menegaskan ia tetap percaya pada sistem pengawasan dan perbaikan yang sedang dilakukan BGN.
"Khawatir atau tidak anaknya mendapatkan MBG, secara pribadi saya tidak khawatir. Sampai sekarang alhamdulillah tidak terjadi apa-apa di SPPG yang melayani sekolah saya," ujarnya.
Ia tidak menutup mata bahwa sejumlah kasus memang terjadi, termasuk kejadian di Bogor yang sempat menjadi perhatian nasional.
Namun, menurutnya, pemerintah dan BGN telah melakukan langkah penanganan dan pemulihan.
Baca Juga: Kepala BGN Soal Pernyataan Waka DPR: Program MBG Haram Tanpa Tenaga Paham Gizi
"Banyak memang di beberapa SPPG yang melayani anak-anak dari teman-teman dekat, bahkan yang terjadi di Bogor itu sempat cukup panjang (kasus keracunan). Kemudian kami juga melakukan trauma healing dan lain sebagainya. Alhamdulillah sekarang sudah mulai beroperasi lagi dan melayani lagi," pungkasnya.
Sebelumnya, BGN mengklaim kalau kasus keracunan akibat MBG hanya 211 kasus. Menurut dia, dari data tersebut, MBG menyumbang 48 persen dari total kasus keracunan pangan yang terjadi di Indonesia sampai hari ini.
Namun, data jumlah keracunan tersebut lebih rendah dari yang dikumpulkan oleh masyarakat sipil.
Seperti, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia atau JPPI mencatat jumlah kasus keracunan MBG mencapai 16.109 orang. Angka itu terhitung sejak pertama kali MBG diluncurkan pada 6 Januari hingga 31 Oktober 2025.
Berita Terkait
-
Kepala BGN Soal Pernyataan Waka DPR: Program MBG Haram Tanpa Tenaga Paham Gizi
-
Anak Legislator di Sulsel Kelola 41 SPPG, Kepala BGN Tak Mau Menindak: Mereka Pahlawan
-
Guru Sempat Cium Bau Bangkai di Menu Ayam, BGN Tutup Sementara SPPG di Bogor
-
Kepala BGN Ungkap Rahasia di Balik Insentif Rp6 Juta per Hari untuk Dapur MBG
-
Luncurkan Kampanye Makan Bergizi Hak Anak Indonesia, BGN: Akses Gizi Bukan Bantuan
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 5 Sunscreen Brand Jepang untuk Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harga
Pilihan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
-
Bundaran HI Dijaga Ketat, Solidaritas Warga Mengalir: Ini Titik Logistik untuk Pendemo
-
Jelang Demo Mahasiswa, Bundaran HI Dijaga Ketat: Kendaraan Taktis Siaga, Lalin Masih Normal
Terkini
-
Pelajar Palembang Viral Usai Pamer Revolver saat Konvoi, Ternyata Senpira Dibeli dari Facebook
-
Nama Bupati PALI Muncul di Kasus Suap Audit BPK, KPK Periksa Asgianto Sebagai Saksi
-
Kondisi Terbaru Gunung Semeru, Enam Kali Erupsi dalam Sehari dan Masih Berstatus Siaga
-
Detik-detik Narapidana Narkoba Diborgol Usai Bebas karena Remisi 17 Agustus, Ada Apa?
-
Dedi Mulyadi Sindir Birokrasi Minta Dihormati: Rapat Habis Puluhan Juta, Tapi Rakyat Tetap Menderita
-
Koreksi Data Pidato Presiden: 6 Fakta Realitas Hidup Susanah, Kuli Kain Majun Asal Cileungsi Bogor
-
Bantah Isu Pisah dari NKRI, Ini 6 Pesan Penting Sultan Banten ke-18 untuk Masyarakat
-
Penerbangan Langsung Palembang-Bandung Kembali Hadir, Ini Jadwal dan Harga Tiket Citilink
-
Oknum Petugas Bandara Terlibat Penyelundupan 22 Kg Emas Batangan
-
Mati Lampu hingga 4 Jam, Cek Daftar Wilayah di Palembang yang Terdampak Pemadaman PLN