- Heartology Hospital di Indonesia berhasil melakukan MICS kombinasi perbaikan katup mitral, penutupan ASD, dan perbaikan katup trikuspid pertama di Indonesia.
- Atrial Septal Defect (ASD) sering terdeteksi terlambat di Indonesia, menyebabkan komplikasi serius seperti hipertensi paru pada usia dewasa.
- Keberhasilan operasi minimal invasif ini menunjukkan kemajuan signifikan penanganan penyakit jantung bawaan dewasa di Indonesia sesuai standar global.
Suara.com - Penyakit jantung bawaan kerap dianggap sebagai masalah yang terjadi di masa kanak-kanak. Namun fakta medis menunjukkan sebaliknya. Salah satu jenis penyakit jantung bawaan yang paling sering “bersembunyi” hingga usia dewasa adalah Atrial Septal Defect (ASD)—lubang pada sekat jantung yang memisahkan serambi kanan dan kiri.
Di Indonesia, kondisi ini masih sering luput terdeteksi hingga menimbulkan komplikasi serius. Di tengah tantangan tersebut, Heartology Cardiovascular Hospital mencatat tonggak penting dalam dunia kedokteran jantung nasional dengan keberhasilan melakukan tindakan Minimally Invasive Cardiac Surgery (MICS) kombinasi Mitral Valve Repair (MVr), ASD Closure, dan Tricuspid Valve Repair (TVr)—untuk pertama kalinya di Indonesia, dan hanya ketiga di dunia.
Lebih dari sekadar prestasi teknis, pencapaian ini menjadi simbol kemajuan sains kedokteran jantung Indonesia dalam menangani penyakit jantung bawaan dewasa secara presisi, aman, dan berorientasi pada kualitas hidup pasien.
ASD: Penyakit Jantung Bawaan yang Paling Sering Datang Terlambat
Secara global, prevalensi penyakit jantung bawaan terus meningkat. Data internasional menunjukkan lonjakan dari 0,6 per 1.000 kelahiran hidup pada 1930 menjadi 9,1 per 1.000 kelahiran hidup pada 2010. Asia tercatat sebagai wilayah dengan proporsi tertinggi, yakni 9,3 per 1.000 kelahiran hidup, atau hampir 1 dari 100 bayi lahir dengan penyakit jantung bawaan.
ASD tipe sekundum menempati peringkat kedua terbanyak setelah Ventricular Septal Defect (VSD), mencakup sekitar 30 persen dari seluruh kasus ASD. Kondisi ini ditandai dengan adanya lubang di tengah septum (dinding pemisah) atrium jantung, memungkinkan darah kaya oksigen bocor dari sisi kiri ke kanan, menyebabkan kerja jantung kanan berat dan potensi komplikasi jika tidak ditutup.
“Kalau kita tarik ke konteks Indonesia, dengan sekitar lima juta kelahiran per tahun, diperkirakan ada 50 ribu bayi lahir dengan penyakit jantung bawaan, dan sekitar 8.500 di antaranya adalah ASD sekundum,” jelas dr. Radityo Prakoso, Sp.JP(K) dalam sesi diskusi media secara daring beberapa waktu lalu .
Ironisnya, lebih dari 50 persen kasus penyakit jantung bawaan di Indonesia datang terlambat ke fasilitas kesehatan. Bahkan, untuk penyakit jantung bawaan sianotik, angka keterlambatan mencapai lebih dari 80 persen.
Keterlambatan ini bukan tanpa sebab. Faktor keterbatasan tenaga ahli, distribusi layanan jantung yang terpusat di kota besar, akses transportasi di daerah terpencil, hingga rendahnya kesadaran masyarakat masih menjadi tantangan besar.
Baca Juga: 9.351 Orang Dilatih untuk Selamatkan Nyawa Pasien Jantung, Pecahkan Rekor MURI
Gejala Ringan, Dampak Berat di Usia Dewasa
Berbeda dengan kelainan jantung lain yang langsung menimbulkan gejala berat, ASD sering kali tidak menunjukkan tanda mencolok di masa kecil. Karena tekanan aliran darah di serambi relatif rendah, keluhan baru muncul pada dekade kedua hingga keempat kehidupan.
“Pasien biasanya datang dengan keluhan cepat lelah, jantung berdebar, atau sesak napas. Gejalanya sangat tidak spesifik, sering disangka masalah lambung, kurang olahraga, atau kelelahan biasa,” ujar dr. Radityo.
Masalah muncul ketika ASD dibiarkan terlalu lama. Aliran darah abnormal dari kiri ke kanan menyebabkan overload volume jantung kanan, yang dalam jangka panjang memicu pelebaran ruang jantung, kebocoran katup mitral dan trikuspid, gangguan irama jantung, hingga hipertensi paru.
“Kalau sudah terjadi peningkatan tekanan paru yang berat, kita masuk fase yang tidak bisa dikoreksi lagi, yang dikenal sebagai Eisenmenger syndrome. Pada tahap ini, terapi bersifat seumur hidup dan biayanya sangat mahal,” tambahnya.
Peran Sains dan Imaging Presisi dalam Diagnosis
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- Lipstik Merek Apa yang Mengandung SPF? Ini 5 Produk untuk Atasi Bibir Hitam dan Kering
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi
-
Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang
-
Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia
-
Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?
-
Waspada! 7 Jenis Tikus di Sekitar Rumah Ini Bisa Jadi Penyebab Hantavirus di Indonesia
-
4 Penyebab Hantavirus dan Gejala Awalnya, Ramai Dibahas usai Kasus MV Hondius
-
Hantavirus Apakah Sudah Ada di Indonesia? Ini Fakta dan Risiko Penularannya
-
Hantavirus Mirip Flu? Ketahui Gejala, Penularan, dan Cara Mencegahnya