- Indonesia merupakan salah satu dari tiga besar negara dengan kasus bibir sumbing tertinggi, membutuhkan penanganan operasi yang singkat dan aman.
- Operasi bibir sumbing ideal dilakukan pada usia 3 bulan (minimal 5 kg) dan langit-langit mulut pada 1 tahun (minimal 10 kg).
- Smile Train Indonesia mendukung ribuan operasi gratis tahunan, menekankan pentingnya nutrisi awal dan perawatan lanjutan pasca-operasi.
Jika bayi tersedak, orang tua harus segera memiringkan posisi tubuhnya, bukan langsung membaringkan.
Untuk bayi dengan celah di satu sisi bibir, bagian celah bisa ditekan perlahan saat menyusu agar membantu proses hisapan. Namun pada kasus celah di kedua sisi, proses menyusu biasanya lebih sulit sehingga perlu pendampingan ekstra.
“Masalah nutrisi ini sangat penting. Banyak kasus berat badan tidak naik karena asupan kurang optimal,” tambahnya.
Setelah operasi, umumnya kualitas minum anak membaik karena celah sudah tertutup sehingga risiko tersedak berkurang dan anak lebih nyaman.
Apakah Bibir Sumbing Faktor Genetik?
Pertanyaan lain yang sering muncul adalah soal penyebab sumbing.
Menurut dr. Yantoko, tidak ada satu penyebab pasti.
“Tidak ada satu faktor tunggal yang bisa dipastikan menjadi penyebab. Bisa terjadi faktor genetik, bisa juga tidak. Bahkan ada orang tua sumbing yang anaknya tidak sumbing,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa faktor genetik memang memungkinkan, namun tidak selalu pasti terjadi. Karena itu, orang tua tidak perlu menyalahkan diri sendiri.
Baca Juga: Geger di Haji Nawi! Jasad Bayi Usia Sehari Dibuang di Tong Sampah, Dibungkus Tas Kertas
“Yang penting, kalau terjadi sumbing, jangan menarik diri atau menjauhi pertolongan. Sekarang sudah banyak bantuan,” katanya.
Beberapa kasus dapat terdeteksi melalui USG 3D saat kehamilan, meski tidak selalu terlihat.
Perawatan Tak Berhenti di Operasi
Smile Train Indonesia menegaskan bahwa operasi hanyalah langkah awal. Perawatan lanjutan seperti ortodontik dan pendampingan psikologis menjadi bagian penting pemulihan.
“Setelah operasi, anak-anak tetap kami pantau. Banyak yang diarahkan ke layanan lanjutan seperti ortodontik dan pendampingan psikologis. Di 2026, kami juga akan memperkuat program pengembangan diri melalui pelatihan soft skills seperti tari dan public speaking,” ujar Deasy.
Pendekatan ini bertujuan agar anak tidak hanya pulih secara fisik, tetapi juga tumbuh percaya diri.
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
100 Hari Jelang Piala Dunia 2026, FIFA Belum Kantongi Izin dari Dewan Kota
-
Nelayan Tanpa Perahu di Sambeng, Menjaga Kali Progo dari Ancaman Tambang Tanah Urug
-
Hasil BRI Super League: Lewat Duel Sengit, Persija Jakarta Harus Puas Ditahan Borneo FC
-
Dua Kapal Tanker Pertamina Masih di Selat Hormuz, Begini Nasib Awaknya
-
Sesaat Lagi! Link Live Streaming Persija vs Borneo FC, Jaminan Laga Seru di JIS
Terkini
-
5 Rekomendasi Susu Kambing Etawa untuk Jaga Kesehatan Tulang dan Peradangan pada Sendi
-
Mencetak Ahli Gizi Adaptif: Kunci Menghadapi Tantangan Malnutrisi di Era Digital
-
Tips Memilih Klinik Tulang Terpercaya untuk Terapi Skoliosis Non-Operasi
-
Presisi dan Personalisasi: Arah Baru Perawatan Kanker di Asia Tenggara
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan