- Yayasan Satriabudi Dharma Setia bermitra dengan Ultima Genomics untuk memperluas akses tes genetik terjangkau di Indonesia.
- Teknologi UG200 Series memungkinkan analisis genomik dengan biaya rendah untuk mendukung target skrining medis nasional pemerintah.
- Inisiatif ini bertujuan mempercepat diagnosis penyakit dan membangun basis data genetik nasional guna meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
Suara.com - Perkembangan teknologi tes genetik kini memasuki babak baru di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Melalui kemitraan strategis antara Yayasan Satriabudi Dharma Setia (YSDS) dan Ultima Genomics, Inc., akses terhadap pemeriksaan DNA yang dulu mahal dan terbatas kini mulai terbuka lebih luas bagi masyarakat.
Kolaborasi ini bukan sekadar kerja sama biasa, melainkan langkah ambisius untuk menyusun peta jalan pengembangan sequencing genomik di Asia Tenggara dengan target hingga satu juta genom.
Teknologi andalan yang digunakan adalah UG200 Series, sebuah sistem sequencing berkapasitas sangat tinggi yang memungkinkan analisis DNA dalam jumlah besar dengan biaya jauh lebih rendah dibanding sebelumnya.
Tes genetik sendiri merupakan proses membaca kode DNA manusia untuk memahami risiko penyakit sejak dini, menentukan pengobatan yang paling tepat, hingga memprediksi kemungkinan penyakit di masa depan.
Di Indonesia, pemanfaatannya mulai berkembang untuk diagnosis kanker, penyakit genetik, skrining kehamilan, hingga mengetahui kecocokan obat bagi pasien.
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menilai kerja sama ini sebagai momentum penting dalam transformasi layanan kesehatan berbasis teknologi. Ia berharap inisiatif ini dapat mendukung target pemerintah dalam melakukan whole genome sequencing terhadap 200.000 masyarakat Indonesia.
“Kolaborasi ini menjadi momentum penting untuk mempercepat pemanfaatan teknologi genomik dalam layanan kesehatan. Dengan teknologi yang lebih terjangkau, masyarakat bisa mendapatkan diagnosis yang lebih akurat dan pengobatan yang lebih tepat,” ujarnya.
Selama ini, salah satu tantangan utama dalam tes genetik adalah biaya yang sangat mahal, bahkan bisa mencapai ribuan dolar AS untuk satu genom. Namun dengan teknologi terbaru dari Ultima Genomics, biaya tersebut berpotensi turun drastis hingga sekitar atau bahkan di bawah 100 dolar AS per genom.
Penurunan ini membuka peluang besar agar teknologi genomik tidak lagi hanya dinikmati segelintir pihak, tetapi bisa diakses lebih luas oleh masyarakat. Ketua YSDS, Vincentius Simeon Weo Budhyanto, menegaskan bahwa kerja sama ini penting agar Indonesia tidak tertinggal dalam perkembangan global.
Baca Juga: Viral Aksi Nyeleneh Pria Pakai Baju Muslim Minum Oli Mesin di Makassar, MUI Sulsel: Itu Haram!
“Teknologi UG200 yang semakin terjangkau memungkinkan populasi Asia Tenggara lebih terwakili dalam basis data genom global. Ini langkah penting untuk mendorong keadilan dalam pengobatan presisi, terutama di negara berkembang yang selama ini aksesnya terbatas,” jelasnya.
Dari sisi teknologi, Ultima Genomics menghadirkan sistem sequencing berbasis wafer yang mampu memproses ribuan sampel dalam waktu singkat dengan tingkat akurasi tinggi. General Manager Asia Ultima Genomics, Jason Kang, menyebut bahwa misi perusahaan adalah membuat teknologi ini dapat diakses secara luas.
“Dengan sistem UG200 terbaru yang memiliki skalabilitas tinggi dan biaya terendah, kami dapat membuka peluang yang sebelumnya sulit dijangkau. Kemitraan dengan YSDS memungkinkan teknologi ini hadir di kawasan yang selama ini kurang terlayani,” ujarnya.
Namun, keberhasilan pengembangan genomik tidak hanya bergantung pada alat, melainkan juga keseluruhan proses dari awal hingga akhir. Senior Field Application Specialist dari Twist Bioscience, Jim Zhang, menekankan pentingnya integrasi sistem.
“Setiap tahapan harus dioptimalkan, mulai dari persiapan sampel hingga analisis data. Integrasi berbagai teknologi menjadi kunci untuk menghasilkan data yang akurat dan efisien,” katanya.
Ke depan, implementasi awal akan dimulai dari proyek percontohan dan validasi klinis di Indonesia, dengan fokus pada deteksi dini kanker dan penyakit tidak menular.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- 7 Bedak Anti Luntur Kena Keringat saat Cuaca Panas, Makeup Tetap On Seharian
- Geger! Saiful Mujani Serukan "Gulingkan Prabowo": Dinasihati Nggak Bisa, Bisanya Hanya Dijatuhkan
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 4 HP Tahan Air yang Bisa Digunakan saat Berenang, Anti Rusak dan Anti Rewel
Pilihan
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
-
90 Menit yang Menentukan! Trump Tak Jadi Pakai Senjata Nuklir ke Iran karena Ditekan?
-
Donald Trump Umumkan Gencatan Senjata Perang Iran Selama Dua Pekan
-
Berkas 4 Oknum BAIS TNI Tersangka Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus Dilimpahkan ke Otmil
Terkini
-
Kenali Ragam Penyakit Ginjal dan Pilihan Pengobatan Terbaiknya
-
Solusi Membasmi Polusi Kekinian ala Panasonic
-
Gaya Hidup Modern Picu Asam Urat, Ini Solusi Alami yang Mulai Direkomendasikan
-
Memahami Autisme dari Dekat: Kenapa Dukungan Lingkungan Itu Penting untuk Anak ASD
-
17.500 Paket Gizi untuk Masa Depan: Langkah Konkret Melawan Stunting di Bekasi
-
Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien