- Langkah Kemenkes cegah virus Ebola diperketat di bandara dan pelabuhan.
- Kemenkes cegah virus Ebola merespons status darurat global WHO.
- Masyarakat diimbau untuk mencegah dan mengenali gejali virus Ebola.
Suara.com - Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) bergerak cepat merespons ancaman virus Ebola yang kini tengah menjadi sorotan dunia.
Menyusul keputusan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menetapkan status Darurat Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (PHEIC) pada 17 Mei 2026, pemerintah Indonesia langsung memasang kuda-kuda terkait ancaman penyebaran virus Ebola.
Meski hingga saat ini belum ditemukan kasus Ebola di tanah air, Kemenkes menegaskan pentingnya kewaspadaan tinggi.
Status darurat global yang dikeluarkan WHO ini serupa dengan status awal saat pandemi Covid-19 mulai merebak beberapa tahun silam.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengungkapkan bahwa langkah proaktif ini diambil lantaran virus Ebola telah menunjukkan penyebaran lintas wilayah di Afrika Tengah, khususnya di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo).
"Penetapan status darurat oleh WHO menunjukkan perlunya kewaspadaan global. Kami terus memantau situasi dan memperkuat pengawasan di seluruh pintu masuk negara," ujar Aji dalam keterangannya yang dikutip dari laman resmi Kemenkes, Senin (18/5/2026).
Kondisi Terkini: Kematian Tembus 32,5 Persen
Berdasarkan data resmi, wabah yang melanda Provinsi Ituri, RD Kongo, dipicu oleh virus Ebola jenis Bundibugyo.
Hingga pertengahan Mei 2026, tercatat sudah ada 246 kasus suspek dengan 80 korban meninggal dunia.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Motor Listrik Subsidi Terbaik 2026, Ada yang Desain Retro
Angka kematiannya pun cukup mengerikan, yakni mencapai 32,5 persen.
Penyebaran virus ini kian mengkhawatirkan karena mobilitas penduduk yang tinggi serta keterbatasan fasilitas kesehatan di wilayah Afrika.
Selain di Kongo, kasus terkait perjalanan juga mulai dilaporkan di Kampala (Uganda) dan Kinshasa.
Guna mengantisipasi masuknya virus ke Indonesia, Kemenkes telah memperketat pengawasan di bandara dan pelabuhan internasional.
Seluruh petugas kesehatan disiagakan untuk melakukan skrining ketat terhadap pelaku perjalanan, terutama mereka yang datang dari negara terdampak.
Tak main-main, Kemenkes juga mengintegrasikan laporan dari pintu-pintu masuk negara selama 24 jam melalui sistem digital Public Health Emergency Operation Center (PHEOC).
Berita Terkait
Terpopuler
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 5 Serum Penumbuh Rambut Terbaik untuk Rambut Menipis dan Area Botak
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien
-
Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi
-
Robekan Aorta Tingkatkan Risiko Kematian Tiap Jam, Layanan Terpadu Jadi Kunci Penyelamatan
-
Heboh Wanita Bekasi Tunjukkan Wajah Khas Gagal Ginjal, Waspadai Ciri-cirinya!
-
Diskon BRI untuk Paket MCU dan Perawatan Ortopedi di Primaya Hospital, Cek di Sini
-
IDAI Ingatkan Risiko Susu Formula di MBG: ASI Tak Bisa Digantikan Produk Pabrik
-
Jangan Asal Cari di Internet! Dokter Ingatkan Bahaya Self-Diagnosis saat Nyeri Dada
-
Hati-hati Memilih ART, Ini Alasan Rekrutmen Tradisional Justru Ancam Keamanan Keluarga