News / Internasional
Jum'at, 22 Mei 2026 | 13:03 WIB
Ilustrasi kebakaran (Freepic)
Baca 10 detik
  • Disinformasi memicu massa membakar ruang isolasi Ebola di Rumah Sakit Rwampara Kongo.

  • Keluarga menolak pemakaman protokol kesehatan karena menganggap Ebola sebagai rekayasa komersial.

  • Wabah spesies Bundibugyo meluas ke wilayah konflik hingga memicu isolasi perbatasan Uganda.

Suara.com - Disinformasi dan ketidakpercayaan publik yang mendalam memicu amuk massa fatal di pusat penyebaran wabah Ebola Kongo Timur.

Kemarahan warga meledak setelah otoritas medis melarang keluarga membawa pulang jenazah seorang pemuda lokal untuk dimakamkan secara adat.

Insiden tragis ini membuktikan bahwa edukasi kesehatan yang gagal jauh lebih mematikan daripada keganasan virus Bundibugyo itu sendiri.

Ilustrasi virus Ebola. (Magnific)

Penolakan protokol pemakaman aman oleh masyarakat menjadi bom waktu yang akhirnya melumpuhkan fasilitas kesehatan di Provinsi Ituri.

Kondisi psikologis warga yang telanjur mempercayai teori konspirasi mengubah duka mendalam menjadi aksi anarkis yang destruktif.

Massa yang beringas mulai menyerang Rumah Sakit Umum Rwampara di dekat kota Bunia menggunakan berbagai proyektil batu.

Situasi semakin tidak terkendali ketika warga nekat membakar tenda-tenda yang berfungsi sebagai ruang isolasi darurat.

Ilustrasi Ebola (shutterstock)

"Mereka mulai melemparkan proyektil ke rumah sakit. Mereka bahkan membakar tenda-tenda yang digunakan sebagai bangsal isolasi," ujar politisi lokal Luc Malembe Malembe yang menyaksikan langsung pemandangan mengerikan di tempat kejadian perkara tersebut dikutip dari BBC.

Guna meredakan situasi yang kacau, aparat kepolisian terpaksa melepaskan tembakan peringatan ke udara demi membubarkan kerumunan.

Baca Juga: Piala Dunia 2026 Dihantui Penyebaran Penyakit Menular dari Campak, Hepatitis Hingga Ebola

Secara medis, jasad korban yang meninggal akibat Ebola memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi bagi orang di sekitarnya.

Oleh sebab itu, penegakan prosedur pemakaman yang higienis dan aman mutlak diperlukan guna memutus rantai penularan.

Akibat serangan ini, seluruh tenaga medis di Rumah Sakit Rwampara kini harus ditempatkan di bawah perlindungan militer ketat.

Sebelum tentara mengambil alih pengamanan, seorang petugas kesehatan dilaporkan terluka parah akibat hantaman batu dari para demonstran.

Pemuda yang tewas tersebut diketahui merupakan sosok pesepak bola populer yang pernah memperkuat beberapa tim lokal setempat.

Sentimen emosional yang tinggi membuat para pelayat dan rekan korban sama sekali tidak mempercayai keberadaan virus berbahaya ini.

Load More