Indotnesia, YOGYAKARTA - Bagi para pecintanya, uang kuno seperti layaknya harta karun yag susah dicari dan sangat berharga. Bahkan, masih ada banyak kolektor yang mencari uang kuno, mulai dari pecahan koin hingga bentuk kertas.
Meski terbilang unik, koleksi uang kuno termasuk hobi yang tak tergerus waktu. Kolektor uang kuno dikenal dengan nama numismastis. Sedangkan hobi mengoleksi uang kuno disebut numismatik.
Jika dulu hanya terpusat di kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, aktivitas mengumpulkan uang kuno kini semakin berkembang hingga ke daerah-daerah lainnya.
Tak hanya memburu uang kuno untuk kepuasan, sejumlah numismatis juga mempelajari sejarah yang pernah terjadi pada saat uang tersebut diterbitkan. Selain itu, aktivitas numismatik juga masih banyak diminati karena faktor kekaguman atas desain uang, nostalgia masa lalu, dan keterkatrikan kolektor pada cerita di balik uang tersebut.
Meski seringkali berkaitan dengan masa lampau, koleksi para kolektor uang kuno juga termasuk mata uang yang sedang berlaku. Bahkan, koleksinya bisa berasal dari berbagai negara.
Memiliki jenis dan tahun edar yang beragam, harga uang kuno bisa dibanderol hingga miliaran rupiah. Di e-commerce, uang 50 perak dijual dengan harga Rp2 juta. Selain itu, pada 2020 publik juga sempat dihebohkan dengan harga uang kuno jenis logam Rp1.000 bergambar kelapa sawit yang dijual hingga ratusan juta.
Potensi harga jual yang bisa berkali-kali lipat, menjadi salah satu faktor masih eksisnya aktivitas numismatik. Meski bisa untuk menggandakan cuan, perawatan uang kuno tak bisa dilakukan sembarangan.
Uang kuno perlu dirawat dengan hati-hati. Perawatan uang kuno harus memperhatikan kondisi lingkungan. Pasalnya, uang kertas akan cepat rusak jika berada pada kelembaban tinggi, sehingga perlu dimasukkan ke dalam album foto.
Lain halnya dengan uang kertas, uang koin dianggap memiliki perawatan lebih praktis. Selain hanya cukup disimpan secara rapi, uang kuno berjenis koin juga bisa dibersihkan hanya menggunakan cuka dan garam.
Menjual Koleksi Uang Kuno
Pada dasarnya, uang kuno diperjual-belikan untuk saling memenuhi kepuasan antarkolektor. Tetapi, tidak menutup kemungkinan bila hobi ini juga menjadi bisnis karena bisa menjadi potensi investasi.
Untuk menentukan harga jual, para numismatis telah menentukan kriteria uang kuno yang telah dibakukan. Mulai dari UNC atau uncirculated, uang yang belum pernah diedarkan apalagi dipakai, hingga Poor atau kriteria terendah uang kuno yang tak jarang dianggap tidak layak koleksi karena kualitasnya.
Setelah dimasukkan dalam kriteria yang sesuai, kolektor bisa menentukan harga jual uang kuno lebih dari nominalnya. Selain dijual pada kolektor, uang kuno bisa juga ditukarkan ke Bank Indonesia (BI). Ada persyaratan tertentu jika berniat untuk menukarkan uang kuno di BI, karena secara rutin bank sentral tersebut mencabut dan menarik uang rupiah kuno dari peredaran.
Kegiatan mengoleksi uang kuno dapat memberikan kepuasan tersendiri bagi para pecintanya. Sebagai hobi unik, numismatik tak hanya bisa menjadi instrumen investasi, namun juga menjadi pengingat sejarah dari setiap peristiwa yang terjadi saat uang tersebut dicetak.
Berita Terkait
-
Checkout vs Krisis Sampah: Mengapa Sulit Lepas dari Gaya Hidup Konsumtif?
-
Bukan Sekadar Tempat Minum, Tumbler Kini Jadi Simbol Gaya Hidup Aktif Generasi Urban
-
Dunia Semakin Canggih, tetapi Mengapa Banyak Orang Ingin Hidup Sederhana?
-
Mobilitas Tinggi Bikin Kulit Lebih Rentan Terpapar Kuman, Kapan Perlu Antiseptik?
-
Koleksi Fall/Winter Ardiles Hadir dengan Sentuhan Retro, Futuristik, hingga Teknologi Trail Running
Terpopuler
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Beda Cushion Wardah Colorfit Hijau dan Krem: Intip Harga, Kandungan, dan Manfaatnya
Pilihan
-
PTBA Kembangkan 500 Itik Petelur di Muara Enim, Hasilkan 200 Telur Omega per Hari
-
Raffi Ahmad Terseret Kasus Suap Impor, Padahal Cuma Basa-basi Titip Barang ke PT Blueray
-
Haji Bolot Dikabarkan Terkena Serangan Jantung, Posisi Masih di Rumah Sakit
-
Derita Masyarakat RI Bertambah Kini Harga Pertamax Naik, Apa yang Harus Dilakukan?
-
Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
Terkini
-
Self-Reward atau Pelarian? Kenapa Belanja Online Sering Jadi "Obat" Stres Gen Z
-
Kasur Dilarang Menghadap ke Mana? Ini Posisi yang Sebaiknya Dihindari Menurut Feng Shui
-
Ribuan Jemaah Haji Lampung Tiba, 11 Nama Abadi di Tanah Suci
-
Apakah Viva Punya Cushion? Cek Fakta dan 6 Alternatifnya Mulai Rp6 Ribuan Saja
-
Program Makan Bergizi Gratis Dievaluasi Total, Zulhas : Satu Bulan
-
Dear Anang Hermansyah, Ada Orang Ngaku Salah Transfer Rp46 Juta dan Minta Dibalikin
-
Negara Berpotensi Boncos Rp12 Triliun Imbas Jual Beli Titik Dapur MBG
-
Menelusuri Jejak Sunan Giri dalam Balut Sejarah di Novel Saga dari Samudra
-
Ketika Jakarta Berbenah Menjadi Kota yang Lebih Ramah Manusia di HUT Ke-499
-
Mengapa Edison Kembali Jadi Tersangka? Ini Perbedaan Dua Kasus yang Menjerat Bupati Muara Enim