Indotnesia - Setelah kasus Covid-19 secara global mengalami penurunan, dunia menghadapi ancaman krisis lain karena kondisi konflik Rusia-Ukraina serta kenaikan harga bahan pangan dan energi. Hal itu dapat menyebabkan inflasi hingga stagflasi yang mengancam peningkatan jumlah penduduk miskin.
Bahkan negara adikuasa Amerika Serikat, kini tengah dihantui resesi atau menurunnya kegiatan perindustrian dan dikhawatirkan akan meluas usai mengalami inflasi.
Memburuknya kondisi ekonomi global juga terjadi di Sri Lanka dan Ukraina yang sedang mengalami konflik. Perang Rusia-Ukraina menyebabkan ketidakseimbangan sisi produksi atau supply shock yang sangat besar hingga mendorong kenaikan ekstrem harga-harga komoditas global.
Menurut Sri Mulyani, kondisi tersebut mengancam ekonomi global, termasuk Indonesia dan dapat mendorong inflasi tinggi, suku bunga tinggi, dan potensi ekonomi yang melemah.
Kondisi global termasuk Indonesia terancam mengalami stagflasi atau fenomena inflasi tinggi bersamaan dengan resesi seperti yang terjadi pada awal 1980-an dan krisis moneter1998.
“Perubahan risiko global harus menjadi fokus perhatian dan dikelola secara tepat langkah serta tepat waktu, hati-hati namun efektif. Apalagi jika sampai terjadi stagflasi, kondisi tersebut akan berimbas negatif terutama bagi negara-negara berkembang dan emerging market seperti Indonesia,” ungkap Menkeu, seperti dikutip dari Suara.com
Lalu, apa itu stagflasi?
Stagflasi merupakan kondisi saat pertumbuhan ekonomi menjadi lambat, disertai angka pengangguran tinggi dan kenaikan harga-harga kebutuhan. Umumnya, kondisi tersebut terjadi saat ekonomi tidak bertumbuh dan terdapat lonjakan inflasi secara bersamaan.
Tingkat pengangguran yang meningkat dan naiknya harga-harga kebutuhan, dapat berdampak pada meluasnya kemiskinan. Terutama bagi kelompok menengah kebawah yang rentan terhadap perlambatan ekonomi.
Saat ini, jumlah penduduk miskin di Indonesia pada September 2021 tercatat sebesar 26,50 juta orang atau 9,71% terhadap populasi. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), angka tersebut menurun 1,04 juta orang dibandingkan Maret 2021.
Alternatif Kebijakan
Dilansir dari Suara.com, tantangan inflasi global dan pengetatan moneter dapat menimbulkan situasi pilihan kebijakan atau policy trade-off yang sulit dihadapi oleh seluruh negara di dunia. Untuk menghadapi tantangan tersebut, pemerintah dihadapkan pada dua alternatif kebijakan.
Pertama, secepat mungkin mengendalikan inflasi atau mengembalikan stabilitas harga. Pilihan tersebut dilakukan dengan pengetatan kebijakan moneter dan fiskal yang berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi.
Kedua, tetap mendukung akselerasi pemulihan ekonomi yang sebelumnya telah terpukul akibat pandemi.
Oleh karena itu, untuk mengembalikan pertumbuhan ekonomi secara global dibutuhkan kerjasama dengan negara–negara lain seperti dalam mengatasi krisis pandemi Covid-19.
Berita Terkait
-
Ekonomi Global Masuk Fase 'New Normal' Krisis, Pemerintah Waspadai Ancaman ke Indonesia
-
Purbaya: APBN Tak Bisa Ciptakan Pertumbuhan Ekonomi dan Kesejahteraan
-
Transaksi Olein Tembus Rp7,3 Triliun dan Timah Rp2,6 Triliun di Tengah Gejolak Global
-
Ekonomi Kreatif Disiapkan Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Jakarta, OJK Perkuat Akses Pembiayaan
-
Mengapa Investor Mulai Menjauh dari Indonesia?
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
FIFA Buka Voting Tim Terbaik Piala Dunia 2026: Argentina Sumbang 5 Pemain, Spanyol?
-
Dari Pameran Kudatuli, Megawati Titip Pesan untuk Generasi Muda Indonesia
-
Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur
-
Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan
-
Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru
-
Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget
-
Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan