/
Jum'at, 17 Juni 2022 | 15:24 WIB
Indotnesia/Amirul Mukmin

Indotnesia - Jalan Malioboro menjadi salah satu destinasi wisata yang terkenal di Yogyakarta. Tak hanya sebagai ikon wisata, ternyata ada sejarah panjang dari Jalan Malioboro yang membuatnya begitu populer di kalangan pelancong.

Jalan Malioboro terkenal sebagai surga belanja sekaligus wisata untuk berkeliling di sejumlah tempat ikonik yang ada di jantung Kota Jogja. Di kawasan ini, terdapat Pasar Beringharjo yang legendaris, Benteng Vredeburg sebagai bangunan bersejarah dan Istana Gedung Agung yang berdiri sejak 1869.

Sejarah Jalan Malioboro

Jalan Malioboro dibangun oleh Hamengkubuwana I, sultan pertama Kraton Yogyakarta sekitar tahun 1755. 

Menurut Peter Carey, sejarawan Inggris yang fokus pada pada sejarah modern Indonesia, menyebut bahwa nama Malioboro diambil dari bahasa Jawa “maliabara”, adopsi dari bahasa Sanskerta “malyabhara” yang berarti “dihiasai karangan bunga”.

Sebelumnya, pembahasan terkait sejarah nama Malioboro juga pernah dibahas oleh Professor C.C. Berg saat mengisi kuliah di Universitas Leiden, Belanda pada 1950 hingga 1960-an. 

Sebelum menjadi wisata belanja, Jalan Malioboro pada era sebelum kemerdekaan digunakan sebagai Poros Garis imajiner Kraton Yogyakarta.

Poros tersebut menggambarkan arah Utara-Selatan, sejajar dengan Gunung Merapi-Kraton Yogyakarta-Pantai Parangkusumo.

Jalan ini menghubungkan Tugu Yogyakarta hingga perempatan Kantor Pos Yogyakarta yang berdekatan dengan kompleks Kraton Yogyakarta.

Dulunya jalan paling populer di Yogyakarta itu berfungsi sebagai jalan utama kerajaan atau rajamarga saat kegiatan seremonial kesultanan. 

Di sisi selatan Jalan Malioboro, pernah terjadi peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, yaitu kesuksesan gerilyawan menduduki Yogya selama enam jam dan membuktikan kepada dunia tentang eksistensi negara Indonesia yang masih ada meski berada di bawah jajahan Belanda.

Peristiwa bersejarah itu lantas membuat Jalan Malioboro rutin digunakan untuk pawai tahunan pasukan garnisun Yogyakarta saat Hari Angkatan Bersenjata pada 5 Oktober. Bahkan, monumen Serangan Umum 1 Maret dikukuhkan di ujung jalan tersebut.

Selama bertahun-tahun, Jalan Malioboro difungsikan sebagai jalan dua arah dan berubah menjadi satu arah pada tahun 1980-an dari jalan kereta api ke selatan hingga persimpangan kilometer 0.

Ramai PKL

Keramaian pedagang kaki lima di sepanjang trotoar Jalan Malioboro sebelum di relokasi. [Indotnesia/Amirul Mukmin]

Pada 1980-an, sebuah iklan rokok diletakkan di bangunan pertama selatan jalur kereta api di Jalan Malioboro. Iklan rokok Marlboro tersebut lantas menarik penduduk dan orang asing karena melihat kata-kata produk yang diiklankan dengan nama jalan sama.

Keramaian tersebut lantas menjadikan Jalan Malioboro menjadi pusat komersial yang dipenuhi toko-toko di sepanjang jalan. Bahkan, jalan tersebut memiliki arti penting sebagai pusat perekonomian, hiburan, wisata, dan kuliner kota Yogyakarta.

Load More