/
Sabtu, 16 Juli 2022 | 14:37 WIB
Indotnesia/Eko Junianto

Indotnesia - Badan Pusat Statistik merilis Profil Kemiskinan Daerah Istimewa Yogyakarta Maret 2022 pada Jumat (15/7/2022). Persentase penduduk miskin pada Maret 2022 tercatat sebesar 11,34% atau turun 0,57 persen poin dibandingkan September 2021.

Secara total, jumlah penduduk miskin di Yogyakarta pada Maret 2022 sebanyak 454,76 ribu orang atau turun 19,7 ribu orang dibandingkan September 2021.

Dari angka tersebut, jumlah penduduk miskin masih didominasi oleh mereka yang tinggal di perkotaan. Tercatat, jumlah penduduk miskin perkotaan pada periode tersebut adalah 315,46 ribu orang, dan sisanya merupakan penduduk miskin perdesaan.

"Jumlah ini lebih dari dua kali lipat jumlah penduduk miskin di daerah perdesaan yang banyaknya 139,30 ribu orang," tulis BPS DIY dalam laporannya.

Meski demikian, persentase penduduk miskin di DIY nyatanya melebihi angka nasional. BPS mencatatkan penduduk miskin pada Maret 2022 sebesar 9,54% secara nasional.

Jumlah penduduk miskin di seluruh Indonesia pada Maret 2022 sebesar 26,16 juta orang, atau menurun 0,34 juta orang dibandingkan September 2021 dan menurun 1,38 juta orang terhadap Maret 2021.

Angka penduduk miskin tak bisa dilepaskan dari perkembangan garis kemiskinan, yang merupakan nilai pengeluaran minimum kebutuhan makanan dan bukan makanan yang harus dipenuhi agar tidak dikategorikan miskin.

Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan disebut penduduk miskin.

Lalu, bagaimana garis kemiskinan di Yogyakarta pada periode Maret 2022?

Baca Juga: Mahasiswa Ketahuan MK Palsukan Tanda Tangan, Apa Ancaman Sanksinya?

BPS mencatatkan garis kemiskinan di DIY pada periode tersebut adalah sebesar Rp521.673 per kapita per bulan. Angka tersebut naik 8,04% dibandingkan Maret 2021, dan naik 4,98% jika dibandingkan September 2021.

Daftar komoditi yang memberi sumbangan terbesar terhadap kemiskinan di DIY antara lain beras, rokok kretek filter, daging ayam ras, telur ayam ras, mie instan, kue basah, susu bubuk, gula pasir, tempe, cabe rawit, bawang merah, dan kue kering.

Sementara dari komoditi yang bukan makanan tapi menjadi penyumbang terbesar terhadap kemiskinan di DIY adalah perumahan, bensin, pendidikan, listrik, perlengkapan mandi, kesehatan, pajak kendaraan bermotor, kayu bakar, dan air.

Baik di daerah perkotaan maupun perdesaan, beras dan rokok kretek filter memberikan kontribusi terbesar bagi pembentukan garis kemiskinan. 

Selain Yogyakarta, ada sejumlah provinsi yang memiliki persentase kemiskinan lebih tinggi ketimbang nasional, yakni Aceh, Sumatra Selatan, Bengkulu, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, NTT, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Load More