Indotnesia - Jagat media sosial tengah ramai dengan viralnya pohon-pohon Natal yang menghiasi Kota Solo, Surakarta, Jawa Tengah. Pada malam hari, berbagai hiasan pohon Natal dengan lampu gemerlap dan lampion memperindah kota yang dipimpin oleh Walikota Gibran Rakabuming Raka itu.
Pohon Natal kini sudah bermacam-macam bentuknya. Namun awalnya, pohon Natal berasal dari pohon cemara. Sebuah tradisi yang berasal dari Jerman ini sekarang meluas ke seluruh dunia dan tak pernah ketinggalan dalam perayaan Natal.
Lalu, bagaimana sejarah Pohon Natal? Semua berawal dari musim dingin di Eropa, ketika ada sejumlah pohon dan tanaman yang tetap hijau meski ada salju. Orang kuno dulu menggantungkan dahan hijau di pintu dan jendela.
Mereka yakin pohon pinus, cemara, dan sejenisnya akan menjauhkan penyihir, hantu, roh jahat, dan penyakit. Melansir Britannica, pohon cemara dan hiasan dahan itu juga melambangkan kehidupan abadi di sejumlah kebudayaan, seperti Mesir Kuno, China, dan Ibrani.
Pohon Natal modern yang kita kenal sekarang berasal dari Jerman. Bermula dari drama abad pertengahan populer tentang Adam dan Hawa yang menggunakan pohon cemara sebagai properti.
"Pohon surga" itu digantungkan dengan buah apel. Kemudian seiring berjalannya waktu, orang Jerman memasang pohon tersebut di rumah-rumah mereka setiap 24 Desember, untuk merayakan hari raya Adam dan Hawa.
Mereka menggantungkan wafer di atas pohon untuk melambangkan hosti ekaristi, roti tanpa ragi sebagai simbol tubuh dan darah Kristus dalam sakramen ekaristi.
Kemudian, wafer diganti dengan kue berbagai bentuk. Ada juga lilin yang merupakan simbol Yesus Kristus sebagai Cahaya Dunia. Selain pohon dengan hiasan, di ruangan yang sama biasanya terdapat "piramida Natal" yang berasal dari kayu yang dibentuk rak untuk menempatkan patung-patung.
Hiasan pohon Natal semakin beragam seperti bintang. Pada abad ke-16, piramida Natal dan pohon cemara menyatu menjadi pohon Natal. Kebiasaan memasang pohon Natal kemudian tersebar luas di kalangan Lutheran Jerman pada abad 18.
Baca Juga: Setelah Viral Resep Mi Instan, Mas Danang Bagikan Manfaat Tepung Beras untuk Menanak Nasi
Pada abad 19, pohon Natal dipopulerkan di Inggris oleh Pangeran Albert yang merupakan kelahiran Jerman. Suami Ratu Victoria itu menghiasi pohon dengan mainan, kado kecil, lilin, permen, dan kue mewah, serta pita.
Tradisi ini sampai di Amerika Utara pada awal abad 17, ketika para pemukim Jerman sampai ke wilayah itu. Pada abad 19, pohon Natal semakin populer di berbagai wilayah, bahkan sampai ke Austria, Swiss, Polandia, dan Belanda.
Misionaris Barat mengenalkan tradisi pohon Natal di China dan Jepang pada abad 19 dan 20.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
-
Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri
-
Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor
-
5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan
-
Terungkap Penyebab Kematian Dokter PPDS di RSUD Tengku Rafian Siak
-
Profil Direktur PO ALS yang Jadi Tersangka Kasus Kecelakaan Bus Tewaskan 19 Orang
-
Pertamina Marine Solutions Resmi Jalin Kerjasama dengan Perusahaan China, Ini Rinciannya
-
Tak Cukup Alim, Cak Imin Minta Santri Melek Literasi Keuangan Agar Tak Terjebak Judol dan Pinjol
-
Berdayakan Puluhan Kelompok Usaha, Klaster Unggulan BRI Sukses Dongkrak Potensi Peternak