Indotnesia - Banjir di Kota Semarang, Jawa Tengah, seakan cerita lama yang kembali terulang. Kota pesisir ini memang kerap dilanda banjir, apalagi ada lagu berjudul "Jangkrik Genggong" dengan lirik "Semarang kaline banjir".
Di masa lalu, Kota Semarang adalah salah satu pelabuhan terbesar di Nusantara. Bahkan di zaman kolonial, Pelabuhan Tanjung Mas jadi tempat utama persinggahan barang dagangan.
Meski memiliki potensi yang besar, ancaman banjir selalu membayangi kota pesisir seperti Kota Semarang. Menurut buku karya Muh Aris Marfai berjudul Banjir Pesisir, Kajian Dinamika Pesisir Semarang, ada beberapa penyebab banjir lokal yang terjadi di wilayah itu.
Pertama, banjir disebabkan oleh topografi yang drastis antara daerah pesisir dengan daerah di selatan yang berupa perbukitan sehingga dari hulu ke hilir aliran sungai-sungai di pesisir Semarang seperti Sungai Garang dan Sungai Bringin mempunyai kecepatan aliran lebih tinggi.
Penyebab kedua adalah banjir kiriman yang berasal dari daerah hulu pesisir Semarang. Penyebab terakhir adalah banjir yang berasal dari air pasang. Meski demikian, pesisir Semarang termasuk daerah dengan kerentanan rendah terhadap tsunami.
Menurut Wetlands.org, penurunan tanah di Semarang mencapai 13 cm/tahun. Hal tersebut meningkatkan risiko banjir bagi masyarakat dan mempengaruhi perekonomian di Semarang.
Dalam penelitian kolektif yang dilakukan beberapa universitas yang dipublikasikan di FLOWs pada 19 Februari 2021, Semarang menjadi salah satu kota terbesar di Indonesia yang mengalami banjir terburuk dalam 10 tahun terakhir.
Riset berjudul “GroundUp: A practice-based analysis of groundwater governance for integrated urban water resource” memaparkan tiga solusi untuk mengatasi banjir di Semarang.
Solusi pertama adalah mengurangi penggunaan air tanah di Semarang. Pemerintah sebaiknya mengeluarkan kebijakan pemasangan instalasi perpipaan air yang menjangkau seluruh warga kota. Pemerintah juga harus tegas menerapkan aturan pelarangan penggunaan air tanah.
Baca Juga: Mengenang Paus Emeritus Benediktus XVI, Paus Pertama yang Mundur dalam 600 Tahun Terakhir
Solusi kedua adalah mengenali keterbatasan dari solusi pertama. Artinya, pemerintah dapat membuka investasi di bidang infrastruktur air baku.
Solusi ketiga adalah menggandeng penduduk perkotaan dalam tata kelola air. Mereka harus terlibat dalam menjaga air, lingkungan setempat, dan termotivasi untuk melakukan pengembangan konservasi air tanah dan praktik pengelolaan banjir.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Kasus Korupsi Tunjangan DPRD Ponorogo Berlanjut, Kejari Isyaratkan Ada Tersangka Baru
-
A Stone Sat Still, Buku Anak yang Mengajarkan Empati Lewat Sebuah Batu
-
Indonesia Kecam Serangan Israel ke Gaza yang Ancam Gencatan Senjata
-
Kubu Febrie Ajukan Praperadilan, Klaim untuk Menjernihkan Proses Hukum
-
Ciri-Ciri Orang yang Memiliki Weton Tulang Wangi, Kenali Sifat dan Aura Menurut Kepercayaan Jawa
-
Link Daftar Upacara 17 Agustus Istana Merdeka 2026 Tak Bisa Diakses? Ini Solusinya
-
Pria Bersenjata Senapan Serbu Teror Area Klub Golf Donald Trump di California
-
Head to Head Ter Stegen vs Maarten Paes: Siapa Lebih Layak Jadi Kiper Nomor 1 Ajax?
-
Purbaya Janji Tambah Dana SAL ke Bank Jika Rp 400 Triliun Masih Kurang
-
Dari Desa Wisata Menuju Lestari, Cara Kemiren Belajar Mencintai Lingkungan