Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanudin Muhtadi menilai partai politik (parpol) gagal memberi contoh berdemokrasi yang baik.
Padahal, kata Burhanudin, parpol merupakan instrumen penting demokrasi setelah reformasi politik secara masif pascareformasi tahun 1998.
"Sayangnya partai politik sebagai instrumen penting demokrasi sering gagal mendemokrasikan dirinya sendiri termasuk dalam proses pemilihan ketua umum," katanya, dalam sebuah pernyataan, dikutip Liberte Suara, Selasa (1/8/2023).
"Harusnya kan mereka memberi contoh kalau betul bahwa demokrasi itu tumbuh di sistem kepartaian kita, harusnya partai politik yang paling demokratis," sambungnya.
Pengamat politik itu menyebut parpol seharusnya mendahulukan langkah-langkah demokratis alih-alih memakai uang untuk menggelar pemilihan ketua umum satu parpol.
Burhanudin juga melihat tidak adanya transparansi dalam sistem keuangan partai. Lebih dari itu, adanya bantuan dari negara untuk parpol menjadi memiliki dampak terhadap kinerja sebuah parpol.
"Nah ini memang sangat kompleks ya masalahnya, pertama adalah sistem keuangan partai kita sangat tidak tansparan, kemudian subsidi negara untuk partai politik kita itu jauh dari cukup," ucap Burhanudin.
"Untuk dua hal, apa namanya fungsi mereka satu adalah political finance ya yaitu untuk kepentingan kampanye atau keuangan politik, yang kedua adalah untuk operasional finance untuk kebutuhan operasional. Dua-duanya sangat besar," pungkas dia.
Untuk diketahui, mantan Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla (JK) membuat pernyataan soal modal yang dibutuhkan untuk menjadi seorang ketum Golkar yang mencapai Rp600 miliar.
Baca Juga: Alami Puber Kedua? Indra Bekti Beberkan Usaha Keras untuk Rujuk dengan Aldila Jelita
"Karena Golkar itu suka ketuanya itu pimpinan negara, saya tertinggi waktu itu, ongkos hampir kecil sekali. Kalau sekarang Anda mau jadi Ketua Golkar jangan harap kalau Anda tidak punya modal 5-600 miliar," kata JK dalam sebuah paparan, dikutip Liberte Suara, Selasa (1/8/2023).
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
- 5 Sepatu Lari di Bawah Rp500 Ribu di Sports Station, Performa Nyaman Sesuai Review
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Meledak di TikTok! Pernikahan Nathalie Holscher Tembus 75 Juta Tayangan, Jadi Top Trending
-
Gas Whip Pink Ternyata Laris Manis di Tempat Hiburan Malam Jakarta, Omzet Tembur Rp5 Miliar
-
4 Shio yang Hidupnya Berubah Lebih Baik 29 Juli 2026, Ada Awal Baru yang Dinanti
-
Ke Mana BBM Ilegal Sumsel Mengalir? Polisi Bongkar 96 Kasus dan Sita 1,28 Juta Liter
-
Danantara Perdana Ikut Rapat KSSK, Purbaya Bela: Arahan Presiden, Cuma Beri Masukan
-
Ip Man: Kung Fu Legend, saat Film Bela Diri Modern Hilang Momen Ikoniknya
-
BMKG Pastikan Gempa M6,8 di Jepang Tak Berpotensi Tsunami di Indonesia
-
Ribuan Ijazah SMA-SMK Negeri di Riau Belum Diambil, Dinas Pendidikan: Gratis!
-
Pakai Rompi Oranye, Anggota DPRD Jatim Fraksi Gerindra Mahrus Ali Resmi Ditahan KPK
-
Pengembangan Minyak Jelantah Jadi Avtur Tersendat, Emiten ESSA Stop Proyek SAF