Bisnis / Energi
Kamis, 11 Juni 2026 | 17:53 WIB
Kenaikan tajam harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi memicu kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat, terutama kalangan kelas menengah yang selama ini menjadi pengguna utama Pertamax dan Pertamax Green. Foto Antara.
Baca 10 detik
  • Harga Pertamax melonjak Rp3.950 per liter mulai 10 Juni 2026.
  • ESDM minta masyarakat hadapi krisis energi global bersama-sama.
  • Kenaikan BBM dinilai perlu demi menjaga stok dan pasokan energi nasional.

Suara.com - Kenaikan tajam harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi memicu kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat, terutama kalangan kelas menengah yang selama ini menjadi pengguna utama Pertamax dan Pertamax Green. Menanggapi kondisi tersebut, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta masyarakat untuk bersama-sama menghadapi tekanan akibat gejolak harga minyak dunia.

Sebagaimana diketahui, PT Pertamina Patra Niaga resmi menyesuaikan harga BBM nonsubsidi mulai 10 Juni 2026. Harga Pertamax (RON 92) melonjak dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green 95 naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, mengatakan pemerintah memahami beban yang dirasakan masyarakat. Namun, menurutnya, kondisi global yang sedang bergejolak membuat pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam menghadapi tekanan sektor energi.

"Kalau bicara kompensasi energi, tentunya bagi mereka yang berhak. Kondisi ini sekali lagi kami sampaikan, pemerintah enggak bisa kerja sendiri. Mau tidak mau kita bekerja bersama-sama masyarakat, pemerintah butuh bergandeng tangan dengan masyarakat," kata Anggia di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Anggia mengajak masyarakat mengingat pengalaman saat pandemi Covid-19, ketika pemerintah dan warga dinilai mampu melewati masa sulit secara bersama-sama.

"Kita bisa survive kok di masa Covid, sama-sama menerima kondisi. Dan sekarang juga kondisinya memang global lagi naik turun nih harga minyak dunianya," ujarnya.

Menurut dia, kenaikan harga BBM nonsubsidi merupakan konsekuensi dari mekanisme pasar yang mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia. Kebijakan tersebut dinilai tidak dapat dihindari apabila pemerintah ingin menjaga ketahanan energi nasional.

"Mau tidak mau, tidak ada pilihan lain, bahwa harus ada penyesuaian. Demi untuk menjaga stok energi nasional, agar lebih sustain dan cadangan energi kita, suplai tetap terus berjalan," katanya.

Lebih lanjut, Anggia menegaskan kebijakan penyesuaian harga tidak semata-mata untuk kepentingan Pertamina. Kenaikan harga juga diperlukan untuk menjaga keberlangsungan industri distribusi BBM nasional yang melibatkan pelaku usaha swasta.

Baca Juga: Ramai Isu PLTU Jawa Kehabisan Batu Bara-Banyak Mati Lampu, Jubir Bahlil: Memang Ada Gangguan Teknis

"Juga bicara ada swasta di situ, ada VIVO, ada BP, yang juga terdampak kalau mereka tidak menaikkan harga. Jadi lebih ke sana," ujarnya.

Di tengah lonjakan harga BBM yang berpotensi menambah tekanan terhadap pengeluaran rumah tangga kelas menengah, pemerintah berharap masyarakat dapat memahami situasi global yang tengah memengaruhi sektor energi.

"Intinya adalah, kita butuh sama-sama untuk menghadapi kondisi global yang mengakibatkan fluktuasinya harga minyak dunia," pungkas Anggia.

Load More