Suara.com - Mengunjungi Pontianak, Kalimantan Barat, rasanya belum sah jika Anda tak menginjakkan kaki di Tugu Khatulistiwa. Ya, Pontianak memang termasuk satu dari 12 kota di dunia yang dilintasi garis khatulistiwa, dan satu-satunya kota yang persis memisahkan belahan bumi bagian utara dan selatan.
Untuk mengunjungi ikon Kota Pontianak ini, sebenarnya cukup mudah, mengingat jaraknya yang tak terlalu jauh dari pusat kota, yakni sekitar 3 km ke arah Kota Mempawah.
Selain transportasi darat, seperti angkutan umum, Anda juga bisa memanfaatkan transportasi sungai yang menyebrangi sungai Kapuas. Transportasi ini menjadi jalur alternatif darat untuk ke arah timur dan utara Kota Pontianak, yaitu menuju Tugu Khatulistiwa.
Penasaran mengunjungi garis lintang nol derajat bumi, saya pun bergegas sejak pagi hari untuk berangkat dari pusat Kota Pontianak.
Melihat suhu di kota tersebut yang cukup panas, sekitar 32-34 derajat celcius saat siang, pagi atau sore hari adalah waktu yang tepat untuk mengunjungi tempat wisata utama di Pontianak ini.
Begitu sampai di Tugu Khatulistiwa, saya disambut dengan riuhnya puluhan siswa Taman Kanak-kanak yang juga sedang mengadakan kunjungan. Matahari sudah cukup terik saat itu, senang sekali melihat anak-anak tersebut masih semangat belajar mengenai identitas kota mereka yang sangat unik.
Setelah puas berfoto dengan latar belakang megahnya tugu, saya pun memutuskan untuk masuk ke dalam berkeliling melihat berbagai sejarah tentang garis, dan tugu khatulistiwa. Di dalam sana terdapat tugu asli yang berukuran lebih kecil.
Berdasarkan catatan yang diperoleh pada 1941 dari V.en. V oleh Opsoter Wiese, pada 31 Maret 1928 telah datang sebuah ekspedisi international ke Pontianak yang dipimpin seorang ahli Geographia berkebangsaan Belanda untuk menentukan titik garis equator di kota tersebut.
Tugu pertama dibangun pada tahun tahun yang sama, berbentuk tonggak dengan tanda panah di atasnya. Pada 1930, tugu tersebut disempurnakan dengan penambahan lingkaran di bagian atas tugu.
Delapan tahun kemudian, penyempurnaan tugu kembali dilakukan dengan menggunakan empat buah kayu berlian (kayu besi khas Kalimantan Barat) dengan tinggi 4,4 meter.
Tahun 1990, dibuatlah kubah dan duplikat tugu berukuran lima kali lebih besar dari aslinya. Kedua tugu ini, baik yang asli maupun monumennya, punya tulisan plat di bawah anak panah yang menunjukkan letak Tugu Khatulistiwa pada garis bujur timur.
Pada 21 September 1991, Monumen Tugu Khatulistiwa diresmikan Gubernur Kalimantan Barat saat itu, yakni Parjoko Suryokusumo. Sekarang, kompleks Tugu Khatulistiwa dilindungi oleh Pasal 26 UU No 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.
Selain memisahkan belahan bumi bagian utara dan selatan, titik ini juga merupakan lokasi Kulminasi Matahari, yakni titik di mana matahari tepat berada di atas garis khatulistiwa.
Fenomena alam ini hanya terjadi setiap tanggal 21-23 Maret, dan 21-23 September setiap tahunnya. Di saat inilah, Tugu Khatulistiwa akan padat dikunjungi oleh wisatawan dalam maupun luar negeri.
Ini dikarenakan, sebuah fenomena alam yang unik akan terjadi. Di mana bayangan tugu akan 'menghilang' selama beberapa detik meskipun diterpa sinar matahari. Begitu juga dengan bayangan benda-benda lainnya di sekitar Tugu Khatulistiwa.
Pada hari yang dikenal sebagai Hari Kulminasi Matahari ini, biasanya pemerintah kota Pontianak juga akan menggelar berbagai acara budaya untuk meriahkan fenomena alam tersebut.
Bahkan, selama kegiatan berlangsung masyarakat yang mau ke lokasi kegiatan bisa menggunakan kapal pesiar dari Taman Alun-alun Kapuas, sehingga tidak perlu lagi jauh- jauh berkeliling melalui jalur darat.
Setelah puas berkeliling, tujuan selanjutnya adalah menikmati keindahan Sungai Kapuas yang tak jauh dari halaman Tugu Khatulistiwa. Berjalan kaki tak terlalu jauh, saya sudah bisa melihat bibir sungai terpanjang di Indonesia tersebut.
Dengan kapal-kapal yang sedang menepi, birunya langit dan luasnya sungai, tentunya menjadi pemandangan yang tak biasa. Bagaimana, tertarik mengunjunginya?
Berita Terkait
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- 5 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Kulit Wajah di Indomaret dan Harganya
Pilihan
-
Timnas Indonesia U-17 Diganyang Malaysia, Kurniawan Ungkap Borok Kekalahan
-
Beban Ganda Wanita Saat WFH: Terjebak Laptop dan Pekerjaan Rumah Tangga
-
Hore! Jogja Berlakukan Perpanjangan STNK Tanpa KTP Asli, Calo PajakMakin Terhimpit
-
Daftar Starting XI Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia: Dava Yunna Masih Jadi Tumpuan!
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
Terkini
-
Prediksi El Nino 2026 Bikin Suhu Panas Ekstrem, Lindungi Kulitmu dengan 5 Skincare Andalan Ini!
-
5 Fakta Kasus Pelecehan Sesama Jenis Syekh Ahmad Al Misry: Catut Nama Nabi dan Imam Syafi'i
-
Room Art Fair 2026: Saat Kamar Hotel Disulap Jadi Instalasi Ruang Pamer Seni Kontemporer
-
Tarif Listrik per kWh Berapa? Ini Rincian Terbaru Resmi dari PLN
-
Kekayaan Hery Susanto versi LHKPN, Ketua Ombudsman yang Jadi Tersangka Korupsi
-
Bedak Sekaligus Foundation Namanya Apa? Ini 4 Rekomendasi yang Ringan di Wajah
-
5 Sepatu Hybrid dari Brand Lokal, Pilihan Terbaik untuk Mobilitas Tinggi
-
4 Rekomendasi Parfum Aroma Peach dari Brand Lokal, Wangi Segar dan Tidak Pasaran
-
7 Sabun Cuci Muka dengan Niacinamide untuk Memutihkan Wajah, Mulai Rp20 Ribuan
-
Satu Dekade Buttonscarves: Dari Mimpi Sederhana Menjadi Ikon Fashion Kebanggaan Indonesia