Suara.com - Seorang wanita 23 tahun yang bekerja di pabrik Toko Roti Paris Baguette, Korea Selatan, ditemukan tewas mengenaskan. Pekerja itu tewas setelah tergilas mesin mixer yang memproduksi saus. Kabar tewasnya pekerja Paris Baguette itu menjadi perbincangan karena kejadian tersebut dinilai sebagai bukti bahwa toko tidak mengikuti SOP yang ada.
Gara-gara itu banyak aktivis dan masyarakat Korea Selatan menyerukan pemboikotan pada Toko Roti Paris Baguette. Mereka ingin Toko Roti Paris Baguette diboikot karena manajemen pabrik tetap menjalankan produksi roti setelah kejadian tewasnya pekerja wanita itu. Simak kronologi pegawai roti Paris Baguette Korsel meninggal masuk mesin produksi berikut ini.
Kronologi Kejadian Maut
Kronologi kejadian itu bermula saat pekerja tersebut bekerja seperti biasa di pabrik yang bertempat di Pyeongtaek, Provinsi Gyeonggi, Korea Selatan. Ia masuk di shift malam pada Sabtu, 15 Oktober 2022. Pekerja 23 tahun itu diceritakan hanya mengoperasikan mesin sendirian yang seharusnya dioperasikan oleh dua pekerja.
Berdasarkan kronologi, celemek pekerja itu tersangkut yang membuatnya tertarik ke dalam mesin pengaduk dan bagian atas tubuhnya terjepit mesin pengaduk saus. Pekerja wanita itu pun tertarik ke dalam alat mixer dan tubuhnya hancur. Jasadnya pun ditemukan di mesin keesokan harinya oleh tertarik ke dalam alat mixer dan tubuhnya hancur.
Seminggu sebelum ada kejadian pekerja wanita tewas itu, seorang pekerja dilaporkan juga mengalami kecelakaan. Tangan pekerja tersangkut di mesin lini produksi lain tapi tidak dikirim ke rumah sakit karena statusnya sebagai pekerja tidak tetap.
Pabrik Tetap Beroperasi
Dilaporkan bahwa pabrik tetap melanjutkan produksi keesokan harinya usai kejadian itu. Bahkan pekerja yang melihat dan menarik tubuh rekan kerja mereka yang hancur dari mesin diminta untuk bekerja di sebelah lokasi kecelakaan. Pabrik pun dilaporkan terus mengoperasikan dua mesin di lokasi kecelakaan sehari setelah pekerja itu tewas.
Sementara itu kritikus mengatakan seharusnya mesin mixer itu dioperasikan oleh dua orang. Hal itu pun mengundang banyak pihak memberikan kritik tajam. Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol telah memerintahkan penyelidikan atas kematian pekerja tersebut.
Baca Juga: Apa itu Paris Baguette? Pabrik Roti Diboikot, Gegara Karyawan Tewas Terjepit Mesin Pengaduk Saus
Setelah penyelidikan, ditemukan bahwa kecelakaan tersebut dapat dicegah jika protokol keselamatan yang memadai telah diterapkan. Selain itu, terungkap juga perlakuan tidak adil terhadap para pekerja di pabrik roti tersebut. Penyelidikan dari kantor ketenagakerjaan regional juga menemukan bahwa mixer industri di pabrik roti tidak memiliki perangkat interlock yang diperlukan untuk melindungi operator.
Minta Maaf
Diketahui pabrik produksi roti Paris Baguette dinaungi SPC Group yang merupakan perusahaan konglomerat besar di industri makanan Korea Selatan. Perusahaan tersebut makin panen kritik usai mengirimkan dua box roti ke rumah duka pekerja pabrik yang meninggal.
Anggota keluarga yang berduka mengungkap kesedihan dan kemarahan mereka usai menerima kue-kue itu. Namun menurut SPC, kotak roti merupakan hadiah dukungan yang dikirim ke semua pemakaman atau acara karyawan.
Di tengah kecaman dan boikot dari warga Korea Selatan atas insiden pekerja yang tergilas mesin pengaduk, Ketua SPC Group perusahaan induk Paris Baguette Huh Young In secara terbuka meminta maaf. Pihaknya mengatakan akan bertanggungjawab secara penuh atas kejadian mengenaskan itu.
Selain itu perusahaan juga berjanji untuk menghabiskan 100 miliar won (sekitar $70 juta) selama 3 tahun untuk meningkatkan keselamatan pekerja. Mereka juga meminta maaf kepada para pekerja pabrik yang disuruh kembali bekerja setelah menarik tubuh korban keluar dari mesin.
Berita Terkait
-
Apa itu Paris Baguette? Pabrik Roti Diboikot, Gegara Karyawan Tewas Terjepit Mesin Pengaduk Saus
-
Viral Cerita Horor Pabrik Roti di Korea Selatan, Pekerja Tewas Masuk Mesin Mixer, Berujung Boikot Massal
-
Paris Baguette Diboikot Usai Karyawan Tewas dalam Mesin Pengaduk
-
Tragedi Karyawan Meninggal di Mesin Pengaduk, Pabrik Roti Paris Baguette Beri Klarifikasi
-
Pekerja Tewas Dalam Mesin, Seruan Boikot Gerai Paris Baguette Menguat di Media Sosial
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
Pilihan
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
Terkini
-
Khimar Bandana dan French Khimar, Apa Bedanya? Model Hijab Syar'i Kekinian yang Lagi Tren
-
Bagaimana agar Muka Tidak Cepat Tua? Lakukan 5 Kebiasaan Ini
-
Vertical Forest: Bisakah Jadi Solusi Hunian Hijau di Tengah Kota?
-
5 Serum Animate Buat Wajah Lebih Cerah dan Glowing, Harga Mulai Rp20 Ribuan Aja
-
5 Moisturizer untuk Kulit Bruntusan Mulai Rp30 Ribuan, Bisa Meredakan Kemerahan
-
Apakah SPPI Koperasi Merah Putih Diangkat Jadi PPPK? Ini Penjelasan Lengkapnya
-
Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
-
4 Rekomendasi Parfum Wangi Mirip Prada Paradoxe, Harga Jauh Lebih Murah
-
5 Keunggulan Adidas Adizero Pro Evo 2, Sepatu Lari Kelas Dunia Harga Rp9 Juta
-
7 Weton Paling Beruntung dan Panen Rezeki Melimpah di April 2026